Oleh: Ayyatul.S.N

Mediaoposisi.com-Pluralitas dan pluralisme terlihat sama namun maknanya berbeda. Pluralitas adalah kondisi keberagaman. Sedangkan pluralisme, akar kata dari plural. Plural berasal dari bahasa Inggris plural bermakna jamak atau lebih dari satu. Jadi pluralisme adalah hal yang mengatakan jamak atau lebih dari satu. 

Dalam kajian losos, pluralisme diberi makna sebagai doktrin bahwa subtansi hakiki itu satu (monoisme), tidak dua (dualisme), akan tetapi banyak (jamak) dalam buku Islam Humanis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk (bersangkutan dengan sistem sosial dan politiknya).

Negeri Indonesia banyak keberagaman di dalamnya. Keberagaman seperti Agama, ras, suku, bahasa, budaya, sosial dan lain-lain. Keberagaman ini yang disebut Pluralitas. Islam menerima adanya pluralitas namun tidak dapat menerima pluralisme karena ini berkaitan dengan keyakinan kepada Allah Subhana wa ta’ala.

Pluralisme sendiri pemahaman dalam mensikapi keberagaman yang melarang penerapan islam tentang keberagaman. Indonesia yang menganut sistem demokrasi ini menyuburkan paham pluralisme yang menganggap semua agama benar, namun dalam islam hanya islam agama yang diridhai oleh Allah Subhana wa ta’ala.

 Ini ditegaskan Allah dalam QS. Ali-Imran ayat 19 : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali Imran 19).

Dalam arus deras pilpres di Indonesia berita-berita tendensi fitnah terkait khilafah semakin menguat. Termasuk bahwa issu khilafah telah meniadakan keberagaman (pluralitas), tuduhan ini tanpa dalil karena dalam islam menerima adanya pluralitas. Keberagaman bangsa, suku, bahasa misalnya.  

Seperti tertuang pada QS. Al-Maidah ayat 65, Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, shabiin, dan orang-orang Nasrani, barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati. (Al Maidah 65).

Dalam Hadist Nabi Saw Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab janazah (1229) yang artinya  “Pada suatu saat  telah dibawa seorang jenazah, kemudian Nabi berdiri, lalu ada yang mengatakan kepada Nabi bahwa jenazah tersebut adalah seorang yahudi, maka Nabi bersabda; bukankah dia juga jiwa?”.

Dari ayat tersebut bisa disimpulkan bahwa islam menerima perbedaan agama, bangsa, bahasa, suku, ras dan ethnis. Keragaman ini dapat diatasi dalam islam karena syariat Allah diserukan untuk seluruh umat manusia. Sehingga terbantahkan dalam sistem khilafah tidak boleh ada keberagaman. Dalam islam menghormati sesama manusia apapun latar belakangnya. Islam Rahmatan lil ‘alamin aturan yang diterapkannya berdasarkan kalam Allah bukan berdasarkan kepentingan manusia belaka.

Fakta saat ini pengelolaan keberagaman dalam sistem sekuler di negeri ini justru membahayakan. Sistem Kapitalis-Sekuler berasaskan demokrasi yang mengusung liberalisme yaitu kebebasan berpendapat, kebebasan beraqidah, kebebasan kepemilikan serta kebebasan berperilaku. Standar aturannya pun bersifat relatif dan kondisional. Relatif karena disesuaikan kebutuhan yang ada saat itu, yang trending saat itu dan yang modern saat itu. Kondisional disesuaikan kondisi yang menguntungkan seseorang atau kelompok. Ini yang dapat membahayakan karena disesuaikan kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompoknya sendiri.

Standar aturan yang membuat manusia sehingga kekuatannya lemah dan mudah diberselisihkan, mudah rapuh dan menghancurkan perlahan. Contoh dalam kebebasan berperilaku makin semaraknya ElGeBeTe dan speak up untuk hak asasi mereka yang justru ini membahayakan. Berbahaya untuk generasi selanjutnya karena memberi contoh melawan kodratnya. 

Hancurnya generasi masa depan karena perilaku yang menyimpang. Kebebasan berakidah yaitu munculnya aliran-aliran sesat, membahayakan kesehatan jiwa dan mental. Kebebasan berpendapat yang dapat menyuarakan pemikiran kufur serta kebebasan kepemilikan yang harusnya untuk kemashlahatan orang banyak justru untuk keuntungan sendiri (air, tanah, api).

Sedangkan pluralitas dalam khilafah sebagai realitas. Sesuatu yang nyata yang sudah pasti dan tidak dapat dihapuskan. Pemerintahan islam mampu mengatasi keberagaman atau perbedaan ini dengan tuntunan syara’. Islam ditunjukan bagi seluruh umat manusia. Nabi Muhammad shallahu,alaihi wa salam diutus untuk menyampaikannya.

 Allah berfirman: Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’rof : 158)

Pada ayat lainnya Allah berfirman : “Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (QS. Saba’ : 28).

Dengan adanya nash yang telah disampaikan sudah terbukti bahwa islam dapat mengelola pluralitas dengan baik. Satu lagi bahwa kenyataan dahulu islam memimpin 1/3 dunia menjadi saksi dalam mengatasi keberagaman yang penuh kebahagiaan dan kejayaan pada puncak peradaban. Sikap islam terhadap non muslim jelas bila berurusan dengan keyakinan islam tegas mengatakan “untukmu agamamu dan untukku agamaku” QS. Al-Kafirun ayat 6.

Demikianlah toleransi islam kepada agama lain dalam beragama, islam membiarkan agama lain beribadah sesuai keyakinannya. Karena dalam islam tidak ada paksaan untuk menggikuti agama islam. Akan tetapi untuk kehidupan sosial antar umat beragama islam memiliki toleransi yang besar karna mengharapkan ridha Allah semata. 

Keberagaman dalam islam dikemas indah dan peduli akan kebutuhan masing-masing individu selama mengikuti hukum syara’. Sehingga didalam islam pluralitas dikelola dengan berhati-hati sesuai tuntunan syara’ untuk melahirkan kebahagiaan pada masyarakat tanpa adanya diskriminasi. Dengan menerapkan islam kaffah akan diraih kebersamaan yang membahagiakan. Bukan kebersamaan yang membahayakan dalam sistem sekulerisme.
Waallahu’alam bishawab.[MO/vp]

Posting Komentar