Oleh: Merli Ummu Khila 

Mereka datang dengan tank dan pesawat mereka
Dengan api berapi-api ravaging
Dan tidak ada yang tersisa
Hanya suara yang muncul dalam kabut berasap
Kami tidak akan turun
Di malam hari tanpa perlawanan
Anda bisa membakar masjid kami
Dan rumah kita dan sekolah kita
Tetapi roh kita tidak akan pernah mati
Kami tidak akan turun
Di Gaza malam ini

Mediaoposisi.com-Penggalan terjemah lagu We Will Not Go Down (Lagu untuk Gaza) oleh Michael Heart menggambarkan betapa mengerikan tindakan Israel terhadap kaum muslim di Palestina.

Akan sampai kapan kita menyaksikan pembantaian terhadap suatu suku kaum muslim minoritas?
Pantaskah seorang pemimpin negara islam membiarkan segala tindak keji dan penindasan terhadap suatu suku bangsa yang berbeda? Apakah seorang mempunyai hak atas nyawa orang lain?

Mungkin pertanyaan diatas mewakili jutaan umat muslim yang hanya mampu mengecam segala tindakan keji para pembenci Islam terhadap kaum muslim minoritas di berbagai belahan bumi yang saat ini sedang didzalimi. betapa nyawa seorang muslim minoritas seolah tiada berharga.

Belum lama ini kaum muslim dikejutkan  penembakan yang  terjadi di salah satu masjid di Christchurch, Selandia Baru, pada Jumat 15 Maret 2019, seorang pria bersenjata melepaskan serangkaian tembakan di dekat Masjid Al Noor di pusat Christchurch yang menewaskan 50 orang.

Tidak lama berselang Kekerasan di desa Ogossagou telah menewaskan 134 Muslim Mali secara brutal pada hari Sabtu 23 Maret 2019, yang menargetkan etnis minoritas Fulani. Banyak dari korban, menurut PBB, adalah perempuan dan anak-anak.

Dunia  berduka sejenak, namun setelah itu kembali seperti sediakala seperti tidak terjadi apa-apa. Yang terdengar hanya kecaman, yang datang hanya bantuan logistik. Namun tidak ada solusi yang mampu mengenyahkan penjajah, bahkan PBB pun tak mampu mengadili.

Mengapa permasalahan ini seolah tanpa solusi? Bisakah para pemimpin seluruh kaum muslim di dunia bergerak bersama dalam menyelesaikan masalah?. Pada kondisi saat ini dimana negara muslim terpecah menjadi negara bangsa, hal ini yang menjadi penghalang untuk bersatu nya umat Islam.

Tersekat nya umat Islam oleh nasionalisme  yang sudah di susupkan para pembenci Islam jauh sebelum runtuh nya kekhilafahan sudah mengakar kuat dalam pemikiran umat Islam sehingga perasaan seakidah lambat laun tergerus bahkan hilang dari pemahaman umat.

Terbentuk nya negara kebangsaan atau nation state dimana  warga negara yang tinggal di suatu negara juga merupakan bangsa yang sama. Maka suku bangsanya hanya satu.

Ketika ada satu kaum minoritas yang tinggal di negara tersebut atau para imigran maka muncul perasaan terjajah dan pada akhirnya terjadilah penindasan bahkan pembantaian pada suku tertentu.

Penting nya umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan yaitu Khilafah karena hanya dengan khilafah yang mampu memberi solusi atas ketidakberdayaan para pemimpin negeri Islam dalam membela agamanya.

Karena di dalam Islam tidak pernah membedakan suku atau etnis, karena semua nya sama ketika seseorang sudah menjadi muslim maka sesama muslim adalah bersaudara.

 Solusi kembali kepada Islam bukanlah utopis atau khayalan apalagi percobaan. Namun sistem ini terbukti pernah dijalankan oleh Rosulullah SAW dan berlansung berabad-abad lamanya.[MO/ad]

Posting Komentar