(Oleh: Agustin Pratiwi, Mahasiswi FKIP UMM)

Mediaoposisi.com-  Suasana politik kian memanas, kita temukan banyak poster calon wakil rakyat di tiap sudut jalan. Dengan menebarkan senyuman, mereka antusias memperkenalkan diri dan meminta dukungan. Pun makin terlihat jelas loyalitas-loyalitas masyarakat pada kubu yang di dukungnya. Tanda hari H pesta demokrasi sudah semakin dekat.

Rakyat sungguh mendambakan kehidupan yang benar mensejahterakan, berharap paslon yg diusung bisa mengantarkan tuk jemput cita kesejahteraan. Pertanyaannya adalah mungkinkah harapan rakyat ini terpenuhi?

Faktanya, kita telah mengalami banyak sesi pergantian pemimpin yang mulanya di anggap bisa membawa perubahan, sayang teryata semua sama saja, bahkan ada yang membawa rakyat pada jurang penderitaan.

Bermula pada debat capres kedua, dimana petahana mengejutkan publik dengan membanggakan kinerja yang tak sesuai dengan fakta. Klaim petahana telah membangun jalan desa 191.000 km. nyatanya wakil ketua BPN menyebutkan jalan sepanjang itu dibangun sejak era Soekarno.

Pernyataan petahana yang dapat menekan kebakaran hutan dan lahan selama 4 tahun pun langsung mendapat bantahan dari Greenpeace Indonesia dan Direktorat PKHL Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (2018).

Faktanya, pada tahun 2016 telah terjadi kebakaran hutan seluas 14.604,84 hektar, kebakaran hutan seluas 11.127,49 hektar terjadi pada tahun 2017 dan pada 2018 telah terjadi kebakaran seluas 4.666,39 hektar. Impor jagung yang dinyatakan menurun justru menurut Badan Pusat Statistik (BPS) meningkat pesat dari tahun sebelumnya menjadi 517,4ribu ton jagung.

Pemaparan data yang salah justru jadi bumerang bagi pihak petahana bahkan menjatuhkan citranya sendiri di mata rakyat. Hal ini juga menjadikan tambahan point kebohongan yang dibuat bersama daftar janji-janji yang tak terealisasi.

Petahana mengingkari janji yang telah tertuang dalam Instruksi Presiden Republik INdonesia (Inpres RI) nomer 15/2018 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Gempa Bumi Lombok, seharusnya masyarakat mendapat bantuan 50jt bagi kategori rusak berat, 25jt bagi yang mengalami kerusakan sedang dan 10 juta bagi kerusakan ringan.

Penegasan sikap untuk menumbuhkan kebebasan berekspresi baik offline maupun online yang diutarakan petahana dalam acara “Jokowi Ngobol Bareng Netizen” di Ballroom Hotel Lumire, Senen, jakarta Pusat (Kamis, 26 Juni 2014), tapi nyatanya pihak yang memberikan kritik pada pemerintahan petahana malah dipenjarakan. Dan masih banyak lagi janji-janji yang berakhir sebagai sebuah wacana semata.

Pengamat Ekonomi Syariah, Arim Nasim, berpendapat bahwa kebohongan demi kebohongan yang dilakukan rezim ini sudah akut. Suara rakyat dicari melalui pencitraan dan disembunyikannya kebenaran dari rakyat yang tak melek informasi. Jelas rakyat akan muak jika menyadari kebijakan dan keberpihakan petahana adalah pada sing-aseng.

Allah menyatakan bahwa pembohong adalah orang yang tak yakin dengan ayat-ayat Allah. Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 105, “Sesungguhnya orang yang berani berbohong adalah orang yang tidak meyakini ayat-ayat Allah. Merekalah orang-orang pembohong”.

Sifat ini pun termasuk ciri orang munafik sebagaimana Hadist yang disebutkan Nabi , “Ciri orang munafik itu ada 3, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanah ia berkhianat(HR. Bukhori-Muslim)”.

Pemimpin seperti ini hadir karna sistem bohong demokrasi yang terus memproduksi kebohongan. Demokrasi yang mengatakan dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat sebenarnya adalah dari kapitalis oleh kapitalis untuk kapitalis. Demokrasi tak kan bisa mengantarkan pada kesejahteran, bahkan sejatinya kesejahteraan justru untuk demokrasi.

Faktor sistem adalah perihal mendasar lahirnya pemimpin pembohong. Sistem yang rusak sangat memungkinkan hadirnya para pemimpin yang gemar berbohong. Jelas bahwa tak ada yang bisa kita harapkan dari sistem yang rusak, tak ada sistem lain yang bisa memberikan solusi solutif selain islam islam.

Syariah Islam berasal dari Allah, Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk manusia. Allah SWT telah menurunkan aturan sempurna yang tak memihak pada siapapun dan tak ada kepentingan pembuatnya. Juga, aturan islam adalah aturan yang pasti adil karna berasal dari Dzat Yang Maha Adil. Wallahua’lam bissawab [MO/ra]

Posting Komentar