Oleh Rini Andriani
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-  Saat ini masyarakat Indonesia masih harap-harap cemas menanti hasil dari penghitungan suara pemilu yang diselenggarakan pada tanggal 17 April 2019. Exit polling dan quick count (hitung cepat) sejumlah lembaga survei besar yang terdaftar di KPU menunjukkan Paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf sudah lebih unggul daripada Paslon 02 Prabowo-Sandi.
Namun pada Rabu 17 April malam, Prabowo membantah semua hasil survei itu dan menyatakan berdasarkan hitungan riil tim internalnya. Dan mengulang apa yang dilakukannya pada 2014 saat mengeklaim kemenangannya, Prabowo pun menutup pidato tersebut dengan melakukan sujud syukur.
Di perbincangan jagat Maya pun ricuh menyikapi polemik tersebut. Salah satunya Tagar kawalkotaksuara per pukul 09.31 wib. Kamis 18 April tagar tersebut menempati posisi kedua dalam daftar trending topik Twitter di Indonesia (CNN. Indonesia)
Menyikapi hal tersebut, Komisi Pemilihan Umum meminta elite-elite politik untuk mendorong konstituen dan simpatisannya agar menunggu hasil resmi penghitungan suara pemilu 2019 secara nasional yang rencananya akan keluar pada tanggal 22 Mei 2019. Pada tanggal yang jatuh hati Rabu itu pula, KPU akan menetapkan hasil perhitungan suara tingkat nasional setelah rekapitulasi yang dilakukan sejak 25 April.
Menyoal tentang kemenangan salah satu diantara 2 Paslon, kira-kira akan dibawa kemana politik negeri ini kelak? Melihat track record  Paslon 01, banyak rapot merah yang didapat salah satunya yang menjadi salah satu fokus perdebatan selama debat presiden dan wakil presiden adalah kebijakan yg pro asing. Jelas saja pemerintahan Jokowi meluncurkan paket kebijakan ekonomi yg ke-16.
Dalam salah satu paket kebijakan ini, pemerintah memberikan relaksasi berupa pelepasan Daftar Negatif Investasi (DNI). Staf khusus menteri koordinator bidang perekonomian Edy Putra Irwandy mengatakan dalam daftar relaksasi tersebut pemerintah melepas sebanyak 54 bidang usaha ke asing. Artinya modal asing bisa masuk lewat kepemilikan modalnya sebanyak 100%.
Lantas bagaimana dengan kubu Paslon 02, apakah sebaliknya? Yang digadang-gadang lebih pro rakyat atau anti asing. Ternyata calon wakil presiden Sandiaga Uno mengaku tidak anti asing seperti kabar yang selama ini beredar. Justru, ia ingin merangkul kerjasama dengan asing untuk melakukan pembangunan di Indonesia.
Sandi menuturkan, kubunya memang berpegang teguh pada pasal 33 ayat 3 UUD '45 yang menyatakan bahwa bumi, air dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun, semangat ini bukan berarti dirinya anti asing, "Kami tidak anti asing", Prabowo- Sandi ingin mengembalikan ekonomi ke pasal 33 UUD '45, tapi boleh bekerja sama dengan asing ujar Sandi di kawasan Kuningan Jakarta Selatan.
Menurut dia, tak ada salahnya mengundang asing masuk ke dalam negeri untuk kepentingan pembangunan. Toh kerjasama dengan asing memungkinkan Indonesia mendapat transfer teknologi hingga permodalan yang bisa digunakan untuk membangun infrastruktur. Misalnya untuk mengembangkan long term capital (permodalan jangka panjang) multilateral kerjasama dan lainnya karena kami juga tidak ingin membebankan anggaran kedepannya, terang Sandi.
Dengan demikian bisa diambil benang merah persamaan dari kedua Paslon ini sama-sama pro asing. Maka, peluang besar kebijakan yang dipakai pun condong ke asing. Jadi silih bergantinya rezim dan pemimpin tidak akan mengubah kondisi terpuruk negeri ini di berbagai aspek, selama sistem yang dipakai adalah kapitalisme.
Karena disadari atau tidak sistem ini akan mem-pengaruhi hukum yang berlaku di negeri ini. Lagi-lagi masyarakat dihadapkan  dengan cara pandang kapitalisme dengan sekulerisme sebagai akidahnya. Walhasil terciptalah masyarakat yang mengedepankan materialisme daripada urusan ukhrowinya. Bahkan kesadaran mereka dikikis agar lupa bahwa mereka diciptakan untuk diatur dengan aturan penciptanya.
Tugas pengemban dakwah ideologi hakiki semakin berat, tapi wajib baginya senantiasa mengembalikan kesadaran masyarakat ke alam yang benar hingga mereka memiliki aturan, pemikiran dan perasaan yang sama yaitu Islam. [MO/ra]

Posting Komentar