Oleh: Anisa Rahmi Tania 
(Aktivis Dakwah Muslimah)

Mediaoposisi.com-Perdana Menteri Israel Benjamin berjanji akan memperluas wilayah jika kembali terpilih menjadi Perdana Menteri pada pemilu Selasa (9/4).

Jika kembali terpilih, dia berjanji akan mengakuisisi pemukiman Yahudi di Tepi Barat, bagian dari wilayah Palestina di barat sungai Yordan.

Meski pemukiman tersebut dianggap ilegal oleh hukum internasional, namun Israel terus saja membantah. Disana hidup sekitar 400 ribu warga Yahudi, dan 200 ribu lainnya di Yerussalem Timur.

Di sisi lain, Palestina juga berniat mendirikan negara di Tepi Barat yang memang ditinggali sekitar 2,5 juta warga Palestina.

Perseteruan antara Palestina dan Israel sepertinya tak pernah berhenti. Dari tahun ke tahun bahkan dari generasi ke generasi Israel terus berusaha merampas kawasan Palestina.

Kawasan Negara Palestina yang dahulu membentang luas meliputi wilayah yang saat ini disebut Israel, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yordania.

Namun pada 1947, Majelis Umum PBB memutuskan pembagian Palestina menjadi Negara Yahudi dan Arab dengan Yerusalem menjadi kota Internasional. Hal ini ditolak oleh warga Palestina.

Akan tetapi, arus warga Yahudi dari berbagai belahan dunia terus mengalir deras ke wilayah Palestina. Populasi mereka semakin meningkat hingga saat ini.

Mereka terus merangsek masuk, menduduki Negara Palestina. Kini wilayah Palestina hanya tersisa sangat sedikit. Tak terhitung jumlah korban yang berjatuhan akibat pendudukan Israel ini. Tampaknya sudah ribuan kabar pilu menjadi sejarah panjang perjuangan rakyat Palestina.

Kini, Benjamin Netanyahu kembali mencoba mengikis tanah rakyat Palestina dengan angkuhnya. Tanpa menghiraukan hak-hak rakyat Palestina.

Kerakusan Israel akan tanah Palestina tidak akan berhenti sampai rakyat Palestina benar-benar angkat kaki seluruhnya dari Palestina atau mereka diberangus tanpa ampun.

Tindakan-tindakan yang telah dilakukan Israel ini jelas merupakan tindakan penjajahan. Perampasan hak-hak rakyat Palestina dan pelanggaran HAM kelas kakap.

Namun apa yang dilakukan PBB sebagai badan keamanan dunia? Tidak ada. Apa yang diperbuat pegiat HAM untuk membela rakyat Palestina? Tidak ada. Pembelaan apa yang dilakukan para penguasa di dunia ini? Tidak ada.

Dunia bungkam melihat aksi kejahatan Israel. Semuanya membisu. Hatinya tertutup rapat. Seakan tak punya daya upaya untuk membela dan memperjuangkan nasib rakyat Palestina.

Sudah ribuan diplomasi dan perjanjian damai yang ditengahi PBB dan HAM yang katanya untuk menyelesaikan perkara ini. Akan tetapi hasilnya nihil. Bukan kemerdekaan yang didapat Palestina, malah legitimasi atas penjajahan Israel terhadap Palestina. Buktinya Palestina semakin terdesak di Jalur Gaza, sementara Israel bisa dengan leluasa menguasai wilayah lainnya.

Tak heran memang, karena PBB atau lembaga-lembaga lainnya pada dasarnya hanya lembaga boneka dikendalikan penguasa adidaya. Mereka semua bertekuk lutut. Kaum muslim jelas tak pantas berharap pada HAM ataupun PBB.

Kaum muslimin hanya bisa berharap pada kebangkitan Islam. Kebangkitan kaum muslimin dengan perubahan revolusioner, yakni dengan tegaknya Khilafah Islamiyah. Sebuah kepemimpinan global untuk seluruh kaum muslimin di dunia. Institusi inilah yang akan menjadi banteng pertahanan sekaligus perisai kaum muslimin.

Sejarah telah mencatat di masa Khalifah Abdul Hamid II, saat Yahudi berusaha membeli tanah Palestina, dengan tegas Khalifah Abdul Hamid II berkata:

“Tanah itu bukan milikku, tetapi umatku. Nasehati Dr. Hertzl supaya jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun segenggam tanah ini. Karena ia bukan milikku.

Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.

Selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Daulah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.” (Khalifah Abdul Hamid II, 1902) 

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Ketegasan inilah yang saat ini tidak terlihat pada para penguasa muslim. Tidak ada di antara mereka yang siap membela kaum muslimin dengan jiwa raganya.

Semuanya berkutat dengan kepentingan pribadi, baik kepentingan ekonomi, politik, dll. Padahal membela kehidupan kaum muslimin adalah sebuah kewajiban, bukan pilihan.[MO/ad]

Posting Komentar