Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Coba perhatikan, Anda menjadi polisi karena perjuangan Anda, dukungan kekuarga Anda, doa kaum kerabat Anda. Atasan Anda, sebelum Anda menjadi polisi tidak pernah memikirkan Anda.

Sekarang Anda menjadi polisi, itu untuk mengabdi kepada rakyat, kepada umat. Bukan menjadi hamba atasan. Jika atasan Anda tidak menjabat, Anda masih polisi. Jika atasan Anda terdepak, institusi polisi tetap ada dan fungsinya tetap melayani rakyat. Jadi, kenapa harus peduli pada atasan yang hendak membenturkan Anda dengan rakyat ?

Pilpres itu Gawe biasa, tetapi jika polisi ikut 'memaksa' rakyat untuk memilih pilihan tertentu itu aneh. Ingat, siapapun yang menang Poisi tetap ada. Siapapun yang kalah, polisi tetap ada. Lantas, kenapa Anda membela mati-matian atasan Anda untuk melawan rakyat yang sesungguhnya majikan Anda ?

Anda ketika pensiun, akan kembali kepada rakyat. Lantas, bagaimana keadaan Anda ? Pensiun dengan usia tua, sementara Anda kembali kepada rakyat dalam keadaan zalim ? Apakah rakyat akan menerima Anda ?

Sudahlah ! Putuslah rantai komando itu, tidak perlu terbuka, cukup secara tertutup. Iyakan semua perintah atasan, tapi abaikan dalam tataran pelaksanaan. Beri saja, laporan yang penting atasan senang.

Atasan Anda, yang zalim kepada rakyat dan menambah kezaliman dengan menzalimi Anda, tidak akan bisa berbuat apa-apa jika rezim ini kalah. Mereka akan kehilangan wewenang dan jabatan, sehingga mereka tidak akan bisa menzalimi kalian.

Jika kalian, meluluskan komando kezaliman, maka rakyat tidak hanya akan marah kepada atasan Anda yang zalim. Rakyat juga akan marah kepada kalian, marah kepada institusi kalian. Bukankah, Anda dahulu ingin menjadi polisi dengan hormat dan penuh kebanggaan ? Lantas, dimana kebanggaan dan kehormatan itu wujud, jika rakyat kelak membenci kalian karena kezaliman yang dipertontonkan ?

Sudahlah, putus semua rantai komando tirani. Ini saat yang tepat, untuk melepas belenggu kezaliman. Anda tidak perlu bergerak mendukung rakyat, Anda cukup memutus rantai komando yang menzalimi kalian.

Biar rakyat, yang akan menghentikan rezim represif ini, dan melucuti semua bintang yang diperoleh dari kegelapan, dengan sesaji penindasan dan kesewenangan. Rakyat akan menyelesaikan tugas, untuk menyudahi komando zalim yang membelenggu kalian.

Pak polisi, rakyat rindu berpelukan dengan kalian. Sebagaimana Anda, juga rindu melayani tulus dan berkhidmat kepada rakyat. Komando zalim itulah, yang menjadi jarak antara rakyat dengan kalian.

Karena itu, mari bersama-sama memutus rantai komando zalim dari kepemimpinan politik yang menindas. Mari, bersama dalam perjuangan dan saling mendoakan. Barakallah Pak polisi, Amien. []

Posting Komentar