Oleh: Andre Husnari

Mediaoposisi.com-Bagi yang manpu mengamati pemilu dengan objektif, akan sulit mendustai fakta, bahwa Jokowi diambang kekalahan. Hal ini terjadi bukan semata karena daya tarik personal Prabowo-Sandi. Tetapi justru lebih besar karena faktor rakyat sudah muak dengan Jokowi.

Petahana sudah dan masih menggunakan abuse of power untuk memastikan kemenangan mereka. Kecurangan rekapitulasi data di TPS hingga masuk ke KPU pusat akan menjadi celah terakhir untuk dimanfaatkan.

Andaikata rezim zalim ini kembali menang. Secara politik, tetap akan berat bagi mereka. Betul mereka bisa makin sewenang-wenang. Namun, legitimasi rezim dimata sebagian rakyat sudah hancur. Rakyat sudah terlanjut tidak percaya.

Sebaliknya, jika petahana kalah, maka kita akan jumpai orang-orang yang akan bermuka masam. Siapa saja mereka?

Pertama, Konglomerat penyokong dana. Cukong-cukong ini akan rugi besar. Di negara yang sudah menjurus coorporatokrasi seperti Indonesia.

Dengan menyediakan dana dibawah 100 triliun, gabungan konglomerat sudah bisa memperoleh Presiden yang mereka inginkan. Pastinya, Presiden boneka tersebut tidak akan berani membantah keinginan para cukong. Karena sudah berhutang budi pada mereka.

Kini bayang-bayang kekalahan seperti pilkada DKI menghantui mereka. Uang habis dimakan penjilat, tapi hati rakyat gagal dibeli.

Kedua, Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, Wali Kota) yang vulgar mendukung Jokowi. Jumlahnya cukup banyak, rekam jejaknya masih bisa ditelusuri.

Sekedar contoh, Gubernur Riau, Gubernur Jawa Barat, Gubernur Jawa Tengah. Pasti akan ada rasa canggung bagi mereka saat harus berkomunikasi dengan Presiden dan Kabinet baru.

Level dilema masing-masing juga berbeda. Ridwan Kamil, misalnya. Prabowo berpotensi besar menang di Jawa Barat, pojok Dilan yang jadi polemik, Wagub tengah berurusan dengan KPK, termasuk disoraki "Prabowo..Prabowo.." oleh Bobotoh. Karir politik RK yang terbilang moncer kemungkinan akan berakhir 'sad ending' seperti kisah Dilan-Milea.

Ganjar di Jateng, Khofifah di Jatim tidak akan alami dilema se-kontras itu andaikan daerah mereka masih jadi basis massa Jokowi. Itupun jika nama mereka, yang belakangan makin santer disebut-sebut, tidak terjerat KPK.

Contoh pada level Kabupaten/Kota, potensi jadi orang bermuka masam, mengancam 10 Bupati/Wali Kota di Sumbar. Hanya keajaiban Jokowi bisa menang di sana. Rakyat masih ingat bagaimana Hendrajoni, Bupati Pessel, Sumbar, yang viral lantaran video 'Bantuan dari Jokowi'. Masih banyak contoh serupa pada Kepala Daerah lainnya.

Ketiga, pihak-pihak yang meraup untung dengan mendukung Jokowi. Sebut saja tv metrotivu koran kampas, lembaga-lembaga survei bayaran, konsultan, akademisi, pimpinan ormas keagamaan, badut politik seperti abujand, dessi, cs hingga buzzer. Pamrih mereka membela junjungan tetap gagal kelabui rakyat.

Namun, tipekal manusia seperti ini biasanya tidak punya malu. Tidak menutup kemungkinan mereka berbalik menjilat kubu lawan.

Keempat, pendukung fanatik Jokowi. Na'as nasib mereka. Berjibaku tanpa upah atau pahala. Sebenarnya mereka hanyalah korban penyesatan opini yang di lakukan kategori ketiga di atas.

Namun, demi membela junjungan mereka mengorbankan pertemanan, persaudaraan, kekerabatan di dunia nyata. Padahal pihak-pihak tersebut yang membersamai suka-duka hidup mereka.[MO/ad]

Posting Komentar