Oleh Salma Banin, 
Kontributor Pena Langit

(Bagian 4)

Mediaoposisi.com-Bencana datang silih berganti, terutama bagi umat terbaik ini. Jika di Barat kaum muslimin didera diskriminasi, di kawasan tengah juga mengalami penindasan SARA, Timur Tengah masih dilanda konflik bersenjata, begitu juga di timur jauh masih terperosok dalam kubangan perang budaya dan persebaran hoax lewat media. Tak ada satu senti pun kehidupan kita yang luput dari kenistaan. Ini baru didunia, kesudahannya di akhirat akan lebih mengerikan lagi.

Sungguh, raksasa yang perlu dibangunkan ini sudah berhibernasi sekian lamanya. Hingga kehilangan induknya pun ia tak merasa, kini bermesraan dengan pembunuhnya. Luar binasa.

Malapetaka ini sesungguhnya tak terjadi dalam rentang dua atau tiga dekade saja, melainkan bagian dari proyek belasan abad dari musuh-musuh Islam sejak Muhammad saw. ditunjuk Allah untuk memimpin manusia hingga kiamat kelak. Jumawanya mereka menempatkan diri sebagai musuh Ilahi atas ketidak relaan bahwa syariah Islamlah yang final.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridho hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS. Al Baqarah : 120)

Maha Benar Allah yang Maha Agung, sungguh bencana ini telah hadir ditengah-tengah kita. Bencana saat penguasa Muslim nampak begitu mesra dengan kaum zionis dan salibis yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang terhadap ajaran Islam. Kepentingan mereka didahulukan seraya mengabaikan jeritan saudara seaqidahnya hanya karna batas teritorial berada diluar wilayah kekuasaan.

Islam dan institusi Khilafah telah dibidik menjadi proyek besar untuk dihancurkan. Berawal dari ekspedisi perang suci tentara salib yang berlangsung ratusan tahun namun tak juga membuahkan hasil berarti, justru kesatuan kekuatan kaum Muslim semakin terbentuk.

Ungkapan ‘tak pernah terkalahkan’ pun melekat kuat pada militer daulah selama masa kejayaannya. Kalau bukan karna munculnya para pengkhianat, bisa dipastikan bahwa Islam akan tetap memegang peranan sebagai pemimpin dunia. Wajar jika desas desus kebangkitannya menjadi momok menakutkan bagi semua penentangnya bahkan hingga saat ini.

Namun mereka tidak pernah kehabisan cara. Pukulan halus pertama yang mereka lancarkan adalah lewat pendidikan dan ternyata memberikan hasil yang cukup baik meski masih terseok diawalnya. Serangan pemikiran masuk melalui sekolah-sekolah dan kelompok-kelompok studi yang didirikan. Kekaburan pemikiran sebenarnya telah dimulai sejak kaum muslimin mempelajari filsafat Yunani, India dan Persia pada masa Daulah Abbasiyyah. Niat awal untuk menunjukkan kebobrokannya, justru malah terjebak dalam kebingungannya.

Akhirnya tercampur aduk dan tak bisa lagi membedakan mana yang bagian dari wahyu, mana yang terselip dengan nafsu, hingga hari ini. Kaum muslimin dibanjiri dengan cara berfikir ala Barat, sehingga menyebut kafir saja dianggap telah menghujat. Penerapan syariat Islam diolok-olok, dianggap tak berkemajuan dan terbelakang. Khilafah yang jelas termaktub dalam berbagai kitab rujukan salafus shalih masih juga dipertentangkan kewajibannya.

Kesilauan akan peradaban Eropa sejak masa Renaissance beranak pinak dan dipelihara rezim sejak keruntuhan Khilafah awal Maret tahun 1924 silam.

Hari ini, apapun yang terjadi pada umat Muhammad, tiada lagi ada yang merasa bertanggung jawab, semua berpangku tangan pada kebaikan hati pemimpin dalam bingkai demokrasi, tersekat atas semangat nasionalisme. Nilai yang tak pernah lahir dari rahim Islam.

Meski sudah kalut umat ini dengan segala keterbencanaan yang menimpa, musim semi tak akan pernah bisa dicegah, meski taman bunga dan padang rumput telah mereka bakar rata. Akan selalu ada bibit-bibit unggul yang memanfaatkan sisa kompos dari pembakaran itu. Menjadikannya lebih subur, lebih cepat tumbuh atas izin Allah. Akarnya menembus tanah-tanah kering hingga menjadi kuat untuk menghasilkan batang, daun dan buah yang lebih banyak lagi.

Inilah masanya, saat khilafah sudah menjadi perbincangan di seantero dunia, saat NIC ternganga melihat prediksinya akan terjadi ditahun selanjutnya, saat keimanan pada bisyarah Rasul seakan sudah hadir di depan mata. Adakah kita menjadi relawan-relawan yang memulihkan bencana atau justru korban yang hanyut dalam kesenangan sementara dunia?[MO/vp]

Posting Komentar