Oleh; Khaeriyah Nasruddin

Mediaoposisi.com- “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seorang bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kita?”
“Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung.”

Demikianlah kondisi umat Islam hari ini, tak pernah lepas dari segala beban yang menghimpitnya. Mulai dari kemiskinan, dijarahnya kekayaan alam, dirampasnya hak-hak mereka, hancurnya pemuda akibat virus-virus liberalisme, hedonis, narkoba, pembunuhan, dan lainnya. Seperti makanan yang diperebutkan dengan rakus mereka pasrah saja karena tak mampu berbuat apa-apa.

Persoalan jumlah mereka paling banyak. Mirisnya banyaknya jumlah gagal menampakkan kekuatan justru menjadi umat yang lemah. Benar saja sabda Rasulullah di atas, umat Islam banyak tapi seperti buih di lautan. Hanya mengapung-apung di permukaan mengikuti arus gelombang.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah dalam literatur sejarah-sejarah dunia umat Islam pernah menjadi nomor satu? Pusat perkembangan ilmu pengetahuan, keagungan akhlak, kekayaan berlimpah, serta memiliki basis militer yang tak terkalahkan.

Islam pernah mencapai puncak kegemilangannya sehingga membuat peradaban lain merasa iri, bahkan sebatas mendengar namanya musuh gemetar. Lantas, mengapa hari ini umat Islam menjadi paling terburuk di antara keterpurukan? Ke mana keperkasaannya?

Pertanyaan demi pertanyaan berlompatan. Rasanya mustahil semua itu terjadi begitu saja, mana mungkin imperium besar begitu mudah digulingkan dengan simsalabim atau semudah menendang bola. Hanya ada satu penyebab utama yaitu dihancurkannya benteng pertahanan umat Islam. Khilafah yang merupakan kekuatan utama umat telah dihancurkan sampai ke akar-akarnya oleh seorang antek Inggris, Mustafa Kemal At-Taturk.

Selama 1.300 tahun berkuasa dengan wilayah kekuasaan melintasi benua-benua serta menancapkan pengaruh besarnya. Namun seorang Mustafa Kemal At-Taturk berhasil memusnahkannya. Lihat saja kasus yang terjadi di Mali, lagi-lagi pembantaian terhadap kaum muslim sehingga memakan korban 134 orang.

Fulani sebagai etnis minoritas mereka dibantai secara brutal oleh kelompok Dagon bahkan, menurut PBB, para perempuan hamil dan anak-anak dibakar hidup-hidup. Dalam video yang tersebar di tengah sisa-sisa rumah yang terbakar para korban tampak berserakan di tanah. Belum lagi keadaan muslim di wilayah lain, sungguh menyedihkan.

Belum lagi di Gaza, kabut asap beserta hujan roket dari pesawat-pesawat tempur Israel terus dijatuhkan. Ibarat anak-anak yang kehilangan ibunya umat Islam tak memiliki pelindung,
kediamannya turut dihancurkan tanpa sisa. Ke mana umat harus pulang, tidak ada tempat. Imperium besar itu dengan segala kegagahannya berhasil dilecuti dengan dipecah menjadi 50 negara.

Ibarat makanan, umat Islam diiris-iris menjadi beberapa potong lalu diserahkan kepada yang bersangkutan. Umat Islam yang tercerai-berai dijajah, baik secara fisik maupun perang pemikiran. Bahkan bisa berujung pada genosida pada daerah tertentu. Umat Islam dirundung bencana terus-menerus, sedang penguasa setempat hanya mampu mengutuk tindakan-tindakan biadab tanpa mampu menggerakkan militer untuk membantu.

Nation state, inilah yang berhasil memisahkan kaum muslim menjadi negara-negara bangsa. Dengan nation state kaum muslim hanya ‘bersaudara’ dengan satu bangsanya. Pembagian atas wilayah-wilayah umat Islam tidak bisa memberikan apa-apa sehingga ukhuwah terhalang.

Bila muslim di satu wilayah mengalami penyiksaan maka wilayah lain tidak boleh campur tangan dengan dalih biarkan mereka menyelesaikan urusan rumah tangganya, akibatnya didapati murahnya darah muslim hari ini tumpah. Mereka tidak dapat menolong saudaranya sendiri padahal Allah berfirman dalam QS.At-Taubah: 71

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi
penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah
dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-
Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha
Bijaksana.”

Sebenarnya pembentukan negara-negara kebangsaan adalah alat penjajahan untuk melemahkan umat islam dengan tujuan menghalangi persatuan umat. Masing-masing mereka akan saling membanggakan negara dan mengagungkan bangsanya.

Sayangnya membanggakan diri sendiri (baca: bangsa) tidak bernilai apa-apa sebab hanya takwa yang dapat membedakan seseorang di mata Allah. Inilah akibatnya bila khilafah tidak ada. Umat yang dipisah tubuhnya oleh wilayah ditambah darah muslim yang diobral murah layaknya jualan akan terus terjadi.

Dalam nation state umat islam tak pernah terselamatkan, namun di bawah payung kekhilafahan nyawa umat islam akan berharga mahal, kehormatan dan nyawa anak-anak di seluruh dunia akan terlindungi. [MO/ra]

Posting Komentar