Oleh: Anisa Rahmi Tania
(Aktivis Muslimah Jakarta Utara)

Mediaoposisi.com-  Lagi-lagi darah kaum muslim tumpah. Setelah bertahun-tahun kisah tragis menimpa kaum muslimin di berbagai negeri, seperti Suriah, Irak, bosnia, Filipina, Myanmar, dll. Kini kisah pilu menimpa kaum muslimin di Mali, Republik Mali, Afrika Barat.

Diberitakan Merdeka.com pada Januari 2019 lalu telah terjadi pembantaian di Mali hingga memakan korban jiwa sebanyak 160 orang. Belum usia berita mengiris hati tersebut, kaum muslimin di Palestina pun kembali menjerit.

Peristiwa biadab berupa serangan bom yang dilakukan Israel ke jalur Gaza telah menelan banyak korban. Israel berdalih serangannya itu untuk membalas roket Hammas yang menghantam ibu kota Israel. Padahal tindakan brutal yang dilakukan Israel bukan kali ini saja, tapi sudah berjalan sangat lama.

Sungguh di setiap hati seorang muslim yang beriman pasti akan merasakan perih yang teramat dalam
seketika mendengar berita memilukan tersebut. Terlebih, peristiwa ini selalu berulang. Kaum muslimin selalu menjadi sasaran kekejian para pembenci Islam. Sementara dunia hanya sanggup sampai pada kata mengecam dan mengutuk.

Para penguasa di negeri-negeri muslim seketika lidahnya kelu, telinganya tuli, dan matanya buta. Seakan mereka tak punya daya apapun untuk melakukan sebuah pembelaan yang nyata, lebih dari kecaman dan kutukan.

Bukankah sebuah negara pastinya memiliki armada perang? Persenjataan yang mutakhir? Dan pasukan yang terlatih? Mengapa tak mereka gunakan untuk membela saudara2 mereka di Mali dan Palestina sana?

Tengoklah liga Arab. Organisasi yang terdiri atas Negara-negara Arab yang terbilang maju. Adakah yang mereka perbuat untuk membela saudara seakidahnya? Semuanya bisu dan lumpuh.

Demikianlah jika setiap penguasa muslim saat ini telah tercekoki paham nasionalisme. Mereka tak peduli lagi terhadap nasib saudaranya di negara lain. Mereka sibuk dengan kepentingan pribadinya. Terlebih para penguasa muslim itu telah berangkulan dengan para penjagal kaum muslimin. Mereka bergandengan tangan dengan hangat demi mencapai keuntungan-keuntungan tertentu.

Innalilahi. Padahal kewajiban merekalah, para penguasa di negeri-negeri muslim, untuk menjaga dan
membela kaum muslimin. Karena mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan. Kekuatan dan kekuasaan itulah seharusnya menjadi alat yang cukup untuk melindungi kaum muslimin. Akan tetapi, hal tersebut memang mustahil.

Mengingat kekuatan dan kekuasaan tersebut pada dasarnya telah tersekat oleh virus nasionalisme. Hanya jika kaum muslimin memiliki kekuatan dan kekuasaan dalam satu kepemimpinanlah fungsi menjaga dan melindungi umat tersebut bisa terlaksana. Itulah khilafah.

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin dan setiap orang di luar Islam yang tunduk kepadanya. Khilafah yang dahulu kala telah diterapkan belasan abad lamanya mulai dari generasi Khulafaur Rasyidin hingga kekhilafahan Utsmani telah membuktikan bentuk perlindungan dan penjagaan kepada umat.

Karena khilafah dengan pemimpinnya yang dinamakan Khalifah adalah perisai umat. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di
belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam
(Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Sejarah pernah mencatat bagaimana Ketika ada wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama melindunginya, menyatakan perang kepada mereka, dan mereka pun diusir dari Madinah.

Selama 10 tahun, tak kurang 79 kali peperangan dilakukan, demi menjadi junnah (perisai) bagi Islam dan kaum Muslim. Ini tidak hanya dilakukan oleh Nabi, tetapi juga para Khalifah setelahnya. Harun ar-Rasyid, di era Khilafah ‘Abbasiyyah, telah menyumbat mulut jalang Nakfur, Raja Romawi, dan memaksanya berlutut kepada Khilafah.

Al-Mu’tashim di era Khilafah ‘Abbasiyyah, memenuhi jeritan wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi, melumat Amuriah, yang mengakibatkan 9000 tentara Romawi terbunuh, dan 9000 lainnya menjadi tawanan.

Pun demikian dengan Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyyah, semuanya melakukan
hal yang sama. Karena mereka adalah junnah (perisai). Hal itu dilakukan hanya untuk membela kehormatan seorang perempuan.

Maka bayangkan apa yang akan dilakukan khalifah ketika mengetahui ada pembantaian terhadap kaum muslimin di suatu daerah? Jelas khalifah tak akan diam. Karena tegaknya khilafah adalah untuk melindungi darah kaum muslimin. Allah SWT sendiri berfirman:

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Terkait ini, Rasulullah saw. pun bersabda, “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.” (H.R An-Nasai)

Maa syaa Allah, tidakkah kita rindu pada sang perisai umat? Hanya dengan tegaknya khilafahlah kaum muslimin akan terlindungi harta, jiwa, dan akidahnya. Hanya dengan tegaknya khilafahlah manusia di dunia ini akan hidup dengan damai tanpa ada kekejaman dan penistaan.

Karena khilafah adalah sistem yang diturunkan oleh Sang Pencipta manusia, yang Maha Tahu kebaikan untuk umat manusia dan seisi alam. Wallahua'lam bishawab [MO/ra]

Posting Komentar