Oleh: Nidaul Haq 
(Mahasiswa Gizi FKM Unair)

Mediaoposisi.com-Kesultanan Brunei baru saja menetapkan keputusan untuk menerapkan hukum rajam bagi pelaku LGBT. Hal ini didasarkan semata untuk menerapkan hukum Allah SWT dan melindungi serta mendidik masyarakatnya.

Keputusan ini tentu saja menimbulkan kecaman dari orang-orang barat, dimana mereka sangat mengagungkan hak asasi manusia.

Hukum ini dianggap sangat bertentangan dengan hak asasi manusia, mengerikan dan sangat tidak bermoral, serta banyak sekali desakan untuk membatallkan keputusan tak manusiawi ini. Sungguh begitu banyak sekali kecaman serta hujatan yang terlontar di media massa.

Sekilas bagi kaum muslimin ini merupakan kabar baik. Keputusan Brunei ini merupakan hasil yang tepat sesuai dengan syariat islam, mereka ingin menjalankan hukum-hukum islam sebagaimana mestinya. Namun ada hal yang hilang ketika mengambil jalan untuk menerapkannya hukum ini. Ketika umat muslim ingin menerapkan hukum sesuai syariat islam, maka jalan yang ditempuh haruslah dengan islam pula. Islam hanya mengenal penerapan hukum yang sempurna dan menyeluruh dengan sistem pemerintahan islam (khilafah), bukan kerajaan, demokrasi, ataupun sistem yang lain. Khilafah merupakan sistem pemerintahan yang diajarkan dalam islam, tidak ada sitem pemerintahan selain sistem tersebut.

Ketika seorang pemimpin ingin menerapkan hukum islam meskipun parsial, tentu negara adidaya Amerika Serikat dan para sekutunya merasa terancam. Sistem kepemimpinan ala mereka haruslah tetap berkuasa tanpa potensi lawan, sehingga jika ada benih-benih islam yang muncul akan dihapuskan.

Berbeda ketika khilafah sebagai kesatuan kaum muslimin dalam kepemimpinan tunggal berkuasa di dunia, menjadi negara adidayanya kaum muslimin. Kaum muslimin akan tegas membela setiap keputusan yang diambil khalifah dalam menerapkan hukum islam, karena kaum muslimin sendirilah yang menginginkan adanya khilafah.

Suara kaum muslimin hanya diperuntukkan untuk kejayaan negeri islam. Apabila barat menghina sedikit saja tentang keputusan islam maka Khilafah Islam sebagai sebuah negara adidaya akan dengan mudah membatalkan perjanjian-perjanjiannya dengan negara kafir. Sehingga mereka paham betul bahwa islam tegas ketika hukum Allah harus ditegakkan di bumi ini.

Apa yang Barat sampaikan adalah sebuah ketakutan akan bangkitnya kaum muslimin, mereka hanya sembunyi di balik hak asasi manusia buatan mereka sendiri.

Padahal hak asasi manusia yang mereka sampaikan itu penuh dengan dusta, mereka diam ketika kaum muslimin dibantai, merampas nyawa saudara kita dengan sengaja. Sebenarnya siapa yang patut kita kecam? Apakah pemberlakuan hukum Islam? Apakah Khilafah Islam yang mereka beri label buruk? Ataukah kekafiran, ketidakadilan dan kekejaman mereka kepada dunia Islam?

Marilah menyatukan tekad dan cita-cita pada jalan yang Allah ridhoi, mewujudkan kewajiban agung yang mengikuti petunjuk Nabi-Nya, memperjuangkan tegaknya Islam kaffah dalam Khilafah.

Hanya dengannya semua peraturan Allah akan tegak tanpa peduli kecaman orang-orang musyrik maupun kafir. Dengannya Islam dan kaumnya akan memiliki martabat tinggi, menjelma menjadi umat yang disegani dan ditakuti oleh umat lain.

Jangankan pelaku LGBT berani menampakkan diri, meremehkan atau menghina sedikit saja syariat Allah harus siap-siap berhadapan dengan ketegasan Khalifah dalam menegakkan hukum-Nya.[MO/ad]

Posting Komentar