Oleh: Ulia Niati

Mediaoposisi.com-  Masih dalam ingatan bagaimana kejadian di Selandia Baru menewaskan 50 orang muslim di hari Jum'at sungguh menoreh luka dalam bagi umat muslim. bukan hanya sekali kejadian yang hampir serupa yang menjadi korban adalah umat muslim.

Kejadian ini seperti memiliki perencanaan jauh hari dan tentu tidak lepas dari pemikiran yang anti islam atau dapat dikatakan seperti aksi para pengidap Islamofobia, tak heran umat muslim menjadi sasarannya sebab virus Islamofobia tersebut terus menyebar hingga ke seluruh negeri.

Seperti kita ketahui tidak hanya terjadi di Selandia Baru saja kejadian yang ditunjukkan, bahkan di
negeri-negeri lainpun ikut menjadi korban atas virus Islamophobia. Seperti yang kita ketahui Islamophobia merupakan suatu rasa ketakutan atas Islam atau istilah kontroversial yang membebaskan pada prasangka dan konversi pada Islam dan Muslim.

Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa 11 September 2001. (WIkipedia.org/Islamofobia)

Banyak fakta yang menggambarkan  dampak dari Islamophobia seperti; Di kota Birmingham Inggris, seorang pria bersenjatakan palu godam diperkirakan merusak empat masjid dalam aksi beruntun pada kamis dini hari 21 Maret 2019 (bbc.com/22/03/2019).

Di artikel lain menyatakan pemimpin partai sayap kanan Denmark Stram Kurs, Rasmus Paludan,
membakar salinan Al-Quran pada tanggal 22 Maret 2019 di Kopenhagen (republika.co.id/23/03/2019).

Berdasarkan laman matamatapolitik.com pada 22/03/2019 mengatakan sebelum pembantaian yang terjadi di masjid Al Noor di Linwood Selandia Baru 15 Maret lalu, pada tahun 2016, seorang penganut supremasi kulit putih lokal pernah mengirim ke kepala babi ke masjid tersebut dan mengatakan, “lakukan pembantaian”.

Nauzubillah. Semua ini menunjukkan bahwa virus Islamophobia masih tersebar penjuru dunia.
Jika islamofobia berhasil merasuki yang notabenen kaum muslim lebih minoritas bagaimana dengan di negeri yang jumlah muslim lebih banyak? Ya tepat, tentu hal serupa  terjadi di Negeri yang mayoritas muslim.

Menjadi teringat sebuat pekataan Ustadz Adnin Armas yang dikutip dari laman republika.co.id/01/05/2015 dalam tabligh akbar yang bertema Untuk Indonesia yang Lebih Beradab di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada tahun 2015 ustadz menyebutkan Islamophobia bisa jadi tidak hanya di Eropa dan Amerika tetapi juga di Indonesia.

Pernyataan ini senada dengan apa yang terjadi saat ini. sebab pada 23 Maret yang lalu tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily melaporkan adanya bendera HTI yang bertuliskan kalimat tauhid dalam kampanye Prabowo di Manado.

Menanggapi hal tersebut, Hidayat Nur Wahid selaku wakil ketua dewan Penasiha Badan Pemenangan Nasional (BPN) menyatakan bahwa bendera hitam bertuliskan huruf Arab tersebut bukanlah milik HTI. (tribunnews.com/25/03/2019)

Jika kita telisik lebih dalam, peristiwa yang terjadi  ini bisa kita katakan bahwa jelas Islamophobia terjadi penjuru dunia termasuk tanah air Indonesia, dimana ada rasa ketakutan atas islam dan hal ini juga jelas untuk dikatakan bahwa Islamophobia sengaja dibuat untuk membuat masyarakat menjauhkan islam tidak membicarakan islam, tidak mengunggulkan islam, sehingga menciptakan keraguan terhadap islam bahkan umat islam ikut menjadi korban atas Islamophobia ini.

Begitupula kalangan non muslim, mereka dibuat untuk semakin membenci islam memusuhi dan menjauhkan islam. hal ini tentu dilakukan untuk membendung kebangkitan islam dan umat islam. Niscayanya meski di cegah oleh apapun kebangkitan islam akan datang menyapa dengan nyata adanya.

Seiring dengan banyaknya pemberian stigma negatif pada para ulama, pengemban dakwah, aktivis atau muslim yang menyuarakan penerapan syariat Islam secara terang-terangan merupakan suatu penancapan virus pada islamophobia dikalangan masyarakat.

Sehingga sering sekali kita mendengar di tengah-tengah masyarakat kita pernyataan “Islam yang biasa-biasa aja jangan yang ekstrim-ekstrim” perkataan tersebut merupakan kalimat yang tanpa kita
sadari adalah buah dari virus Islamophobia yang tertancap dalam pikiran kita.

Hal itu tentu menjadi sebuah keberhasilan bagi para penyebar Islamopobia yang telah menanamkan virus itu kepada jiwa muslim dan itu lah yang diinginkan mereka, menginginkan masyarakat muslim menjauhkan islam, tidak mengunggulkan nilai Islam, bahkan ragu atas ajaran Islam begitupula non muslim akan terus semakin membenci. 

Berbagai cara mereka lakukan untuk menyebarkan Islamophobia, bahkan virus itu telah tertanam pada pemikiran masyarakat, namun apakah mungkin Islamophobia dapat dihentikan? Sementara Islamophobia terus tersebar keseluruh dunia?.

Ya tentu Islamopobia dapat dihentikan. Bagaimana? Dengan menerapkan Islam secara total. Tidak menerapakan islam yang biasa-biasa saja tapi menerapkan Islam yang maha sempurna. Karena sejatinya islam berasal dari wahyu Allah SWT yang maha menciptakan dan maha mengatur.

Tentu sang pencipta mengetahui apa yang terbaik untuk yang telah diciptakannya. Sehingga sudah semestinya kehidupan ini diatur oleh Islam yang ditetapkan oleh Sang Pencipta dengan aturannya akan membawa rahmat atas sekalian alam dan hukum peraturannya tentu sesuai fitrah manusia yang akan menentramkan dan membawa kedamaian.

Bahkan penerapan aturan Islam pernah diterapkan dalam Daulah Islam yang telah dicontohkan oleh Rasullullah SAW di Madinah beliau menerapkan Islam secara total. Sebagai pengikut Beliau semestinya kita mengikuti apa yang telah beliau contohkan sebab pada diri beliau terdapat suri teladan terbaik sebagaimana dijelaskan di surah Al-Ahzab ayat 21 yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia lebih banyak
menyebut Allah.”

Tak hanya itu bahkan dicontohkan juga oleh sahabat-sahabat Rasulullah pada masa  Khilafah
Islam yang menjadi bukti sejarah bahwa Islam pernah menguasai 2/3 dunia melalui sebuah
perjalanan pembebasan.

Hal ini bukan layaknya penjajahan yang dilakukan oleh para penguasa asing, dengan bukti sejarah penerapan Khilafah Islam telah meniscayakan Khalifah mengayomi semua agama dan ras, hingga tidak ada xenofobia atau istilah yang digunakan untuk ketakutan terhadap keberadaan orang asing.

Mari kita sebagai umat Islam tidak perlu takut dengan identitas Islam kita yang insyaAllah akan membawa kita ke tempat terindahNya ya SyurgaNya dan sepatutnya kita harus menyampaikan apa itu Islam bagaimana Islam menjadikan kita mulia teruslah menyerukan Islam hingga kemenangan Islam hadir atau kematian lebih dulu menyapa kita. Wallahu A'lam Bishawab. [MO/ra]

Posting Komentar