Ilustrasi

Oleh: Nadia Ayuni

(Member Forum Muslimah Peduli Umat, Serdang Bedagai)

Mediaoposisi.com-Bulan April adalah bulan yang identik dengan perbincangan seputar salah satu tokoh penggerak emansipasi wanita. Beliau adalah RA. Kartini. Tiap-tiap 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Namun sayangnya, sekarang banyak yang salah kaprah dalam  memperingati Hari Kartini. Hari Kartini hanya dikenang dengan istilah emansipasi wanita tanpa dipahami apa maknanya. Dan istilah tersebut pun kini telah mengalami pergeseran makna.

Emansipasi wanita sering dikaitkan dengan kesetaraan gender antara pria dan wanita dalam setiap aspek kehidupan. Padahal, makna sebenarnya dari emansipasi wanita adalah dengan mewujudkan hak wanita dalam mengenyam pendidikan setinggi-tingginya sebagaimana halnya kaum pria. Bukan sebagai perjuangan untuk menjadikan wanita dan pria sama rata dalam segala aspek kehidupan. Sebab memang ada peran yang tidak bisa diduduki oleh kaum wanita. Salah satunya yaitu menjadi pemimpin bermasyarakat dan bernegara yang hanya bisa diduduki oleh kaum pria saja. Sebagaimana Firman Allah ; “ Kaum pria itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (TQS. An-Nisa : 34).

Seharusnya hari Kartini tidak sebatas dijadikan momen peringatan atas perjuangan Kartini dalam memperjuangkan haknya namun juga diambil keteladanan darinya. Diantara keteladanannya adalah semangat RA. Kartini untuk merubah dirinya ke arah yang lebih baik dengan usahanya untuk mempelajari ilmu agama.

Seperti yang dikisahkan bahwa RA. Kartini sempat belajar untuk menelaah tafsir Surah Al-Fatihah yang dibawakan oleh seorang ulama bernama Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar (dikenal sebagai Kyai Sholeh Darat). Semenjak saat itu Kartini nampak begitu tertarik dan bersemangat untuk terus menimba ilmu agama. Sebagaimana yang dapat kita amati dari dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat berikut ini  (ditulis oleh Nyonya Fashila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat):

“ Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?’

Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”, Kayai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

“Kyai selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetar sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”.

Setelah pertemuan itu nampaknya Kyai Sholeh tergugah hatinya. Beliau kemudian mulai menuliskan terjemah Quran ke dalam bahasa Jawa dan menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran jilid I yang terdiri dari 13 juz (dilansir Kompasiana.com, 21 April 2010).
           
            Dari cuplikan kisah di atas, dapat dipahami tentang bagaimana keinginan Kartini untuk mempelajari Al-Qur’an. Untuk itu, hendaknya peringatan hari Kartini menjadikan kita semakin banyak menelaah Al-Qur’an seperti yang telah dilakukan oleh Kartini.

            Seperti halnya Kartini yang dapat mengutip istilah “ Minazh-Zhulumaati ilan Nuur” dari Surah Al-Baqarah ayat 257. Ayat tersebut mengemukakan bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Kartini merasakan sendiri bagaimana proses perubahan dirinya, dari kegelisahan dan pemikiran tak berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dan istilah “ Minazh-Zhulumaati ilan Nuur” tersebut yang kini kita kenal sebagai istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang”. 

            Selain itu, kita dapat meneladani Kartini dari usahanya untuk bisa berkontribusi kepada masyarakatnya. Salah satunya dengan mendirikan sekolah khusus yang dikenal dengan Kartini School atau Sekolah Kartini yang didirikan di Semarang tahun 1912. Dengan harapan agar kaum wanita dapat mengenyam pendidikan sebagaimana halnya dengan kaum pria. Jadi, kita bisa mencontoh dari kepedulian Kartini terhadap lingkungannya dan usahanya untuk bisa memberikan kontribusinya kepada masyarakat.

            Halnya Kartini yang menginginkan perubahan dan berupaya berkontribusi terhadap umat, maka sebagai Muslim, kita dapat menirunya dengan cara sesederhana mungkin. Salah satunya ialah senantiasa menyiarkan ide-ide Islam di tengah umat. Sehingga perubahan hakiki dapat terwujud.[MO/vp]

Posting Komentar