Oleh : Ismawati

Mediaoposisi.com-Pada pekan ini di beberapa pasar tradisional Indonesia sedang mengalami krisis komoditi pangan seperti Bawang Putih dan Bawang Merah. Dilansir cnn.indonesia (25/3/19), kenaikan bawang merah mencapai  5,92% atau sebesar Rp.2000/kg, sehingga naik menjadi Rp. 35.800/kg yang semula hanya Rp.33.800/kg dan Bawang Putih naik sebesar 2,23% atau Rp. 700/kg menjadi Rp. 32.050/kg. Kenaikan harga Bawang ini dipicu karena minimnya ketersediaan stok, permintaan pasar semakin meningkat dan belum adanya izin impor yang diberikan oleh Kementrian Pertanian untuk tahun ini.

Direktur Jendral Perdagangan dalam negeri Kementrian Perdagangan, Tjahya Widayanti, mengatakan, mayoritas kebutuhan bawang putih (sebanyak 90%) selama ini berasal dari impor, namun tahun ini pemerintah belum memutuskan akan membuka keran impor untuk mengendalikan kenaikan harga bawang putih.

Sementara itu Kepala Biro Hubungan Masyarakat Pertanian Agung, Hendriadi, mengatakan, pemerimtah sudah menugaskan Penugasan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk mengimpor 100.000 ton bawang putih guna menjaga kestabilan ketersediaan bawang putih agar tidak sampai terjadi kelangkaan (okezone.com 19/3/19)

Kelangkaan ini sungguh aneh jika terjadi di Indonesia. Negeri yang subur, kaya raya, memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang melimpah dan negeri yang tanahnya disebut-sebut sebagai “tanah surga”. Wajar saja, sebab, kekayaan alam ini tidak sepenuhnya dikelola oleh pemerintah dengan baik, utamanya pada pengelolaan kebijakan pertanian dan perdagangan. Masalah perekonomian menjadi masalah yang kompleks. 

Penerapan sistem Ekonomi Kapitalis menjadi sumber utama carut marutnya kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Terkhusus masalah kenaikan Bawang putih dan Bawang merah yang malah ikut menimbulkan dampak kenaikan harga komoditi pangan lainnya seperti cabe, minyak goreng bahkan gula pasir.

Fenomena ini merupakan buah dari penerapan sistem ekonomi kapitalis, penyebabnya mengikuti hukum pasar yang disandarkan pada supply dan demand masyarakat (penawaran dan permintaan).  Secara teori, jika barang yang ditawarkan jumlahnya melimpah, sedangkan permintaannya sedikit maka harga akan turun, begitupun sebaliknya jika barang yang ditawarkan jumlahnya sedikit, sementara permintaannya besar maka harga akan naik. 

Maka wajar bila solusi praktis yang diberikan pemerintah untuk menekan supply  guna mengatasai gejolak pangan adalah melalui impor dengan dalih untuk melindungi kestabilan harga karena ketersediaan stok yang terbatas mengingat bawang putih dan bawang merah adalah salah satu kebutuhan penting rumah tangga. Maka wajar bila permintaan pasar sangat besar kemudian petani lokal dianggap belum mampu memenuhi permintaan pasar. Impor menjadi jalan satu-satunya untuk kembali menstabilkan harga bawang pada tingkat yang bisa dijangkau masyarkat.

Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna, tidak hanya mengatur masalah ibadah saja, namun seluruh aspek kehidupan manusia diatur dalam Islam, baik sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Pengaturan masalah ekonomi misalnya, diatur dalam Islam dengan sempurna. Salah satu cara Islam menjaga kestabilan harga ialah dengan melakukan mekanisme pasar yang sehat dengan melarang adanya penimbunan, intervensi harga, dsb. Sebab, Islam melarang adanya penimbunan dengan menahan stok lalu menjualnya bila harganya naik.

Seperti Sabda Rasulullah SAW dari Abu Umamahal-Bahili berkata “Rasulullah SAW melarang penimbunan makanan” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Jika ada yang melakukan penimbunan maka akan dipaksa mengeluarkan barang dan memasukannya ke pasar, bila efeknya besar, ia akan dikenakan sanksi ta’zir sesuai kebijakan Negara. Kemudian Negara berkewajiban menjaga supply dan demand di pasar agar tetap seimbang. Tentu ini hanya bisa diterapkan bila Negara menerapkan sistem pemerintahan Islam dalam bingkai Daulah Khilafah.
Wallahua’alam bishowab.[MO/vp]

Posting Komentar