Gambar: Ilustrasi
Oleh: Nadia Ayuni
(Mahasiswi)

Mediaoposisi.com-Miris! Melihat kenakalan remaja yang kian marak membanjiri Indonesia. Bagaimana tidak? Tiap tahunnya, Indonesia disuguhkan dengan berbagai ulah remaja yang tidak mencerminkan jati dirinya sebagai generasi penerus bangsa. Padahal, remaja berpotensi membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Minimal pada dirinya dan lingkungan sekitarnya sebab ia adalah agent of change. Bukan malah membuat kerusuhan dan kegaduhan di masyarakat seperti yang terjadi pada saat ini. Dan ironisnya, pelaku dari berbagai kasus kenakalan remaja yang ada sebagian berasal dari kaum terpelajar. Aneh bukan, bagaimana bisa remaja yang terdidik banyak terseret kasus kenakalan yang berujung kriminalitas?

Seperti yang kita lihat pada kasus yang baru-baru ini terjadi di Pontianak. Salah satunya, pengeroyokan terhadap Audrey (14), yang merupakan siswi SMP Pontianak yang terjadi pada Jum’at (29/3) pukul 14.30 WIB. Para pelakunya adalah beberapa siswi SMA. Polisi telah menetapkan 3 tersangka di antaranya berinisial LL, TR, dan EC yang ketiganya merupakan siswi SMA.

Kasus ini terjadi diawali dari saling sindir di media sosial sebagaimana yang dilansir oleh IDN.Times.com (11/04/19). Jika kita amati, kasus bullying ini bukanlah kasus yang pertama kali, namun sudah berulang kali terjadi.

Seperti dilansir dari nasional.tempo.co pada Senin, (23/07/18), KPAI telah mengekspos hasil pengawasan kasus kenakalan remaja selama 2018. Ada Sembilan bidang yang dirilis terkait hasil pengawasan kasus sepanjang 2018, salah satunya bidang pendidikan. Dari data bidang pendidikan, kasus anak pelaku kekerasan dan bullying merupakan yang dominan terjadi. “Dari 161 kasus, 41 kasus diantaranya adalah kasus anak pelaku kekerasan dan bullying,” ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti kepada Tempo, Senin (23/07/18).

Kasus kenakalan remaja berikutnya adalah tawuran antar pelajar. Tercatat oleh KPAI, per tanggal 30 Mei 2018, jumlah kasus pendidikan adalah 161 kasus. Adapun diantaranya, anak korban tawuran sebanyak 23 kasus atau 14,3 persen, anak pelaku tawuran sebanyak 31 kasus atau 19,3 persen (tempo.co, 23/07/18).

Dari berbagai kasus kenakalan remaja seperti diatas, tentu kita tidak bisa tinggal diam. Perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak, terutama negara, karena ini menyangkut masa depan bangsa dengan pemuda sebagai penerusnya. Jika gambaran pemuda kita seperti ini dibiarkan begitu saja, tanpa upaya penanganan yang serius, maka kedepannya akan berdampak pada lemahnya kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, diperlukan solusi tuntas dari permasalahan ini. Namun, bagaimana solusi tuntasnya?

Jika mau ditelusuri kembali, kenakalan remaja yang marak terjadi ini tidak lepas dari pola pendidikan yang diperoleh dari sang anak mulai dari keluarga, sekolah, maupun lingkungannya. Karena, dari pendidikan itulah remaja akan dididik menjadi manusia seutuhnya  dengan menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan serta membentuk karakter unggul pada dirinya. Sehingga, mereka akan menjadi manusia yang sukses di dunia maupun akhirat. Tambahan, kenakalan remaja ini disebabkan oleh karena penerapan dari sistem pendidikan sekuler yang lebih mengutamakan ilmu pengetahuan dunia dibandingkan ilmu agama.

Dan, pendidikan agama ditempatkan pada posisi yang tidak begitu urgen dalam sistem sekuler ini. Sehingga hasilnya, para remajanya tumbuh menjadi remaja yang krisis moral akibat minimnya pendidikan agama. Padahal, peran agama sangatlah berpengaruh besar dalam menyukseskan pendidikan, mulai dari proses sampai hasilnya.

Sebagaimana remaja pada zaman peradaban islam. Sejak usia muda, mereka sudah mampu menjadi pemimpin negara, ilmuwan, dan sangat bermanfaat bagi umat dengan karya-karya besarnya. Contohnya, Muhammad Al-Fatih yang di usia mudanya telah berhasil menjadi penakluk Konstantinopel dan menjadi pemimpin bagi negaranya. Imam Syafi’i yang melakukan tajdid, mengembalikan kaidah-kaidah syariah dengan menetapkan qiyas berbasis hadist. 

Kondisi itu berangkat dari penerapan syariah belum ada kesesuaian dengan qiyas dan hadis. Seorang ulama besar bernama Al-‘Allamah Syaikh Imam Ibn Taimiyah, yang usianya masih belasan tahun, sudah menguasai ilmu ushuluddin serta tafsir, hadis, dan bahasa Arab. Beliau juga menghasilkan buku-buku dan menguasai fikih. Imam Al-Bukhari pada usia 16 tahun sudah hafal dan menguasai sejumlah kitab.

Lalu, pada usia 18 tahun beliau mampu menerbitkan kitab pertamanya, Qudhaya ash-Shahabat wa at-Tabi’in. Dan, masih banyak lagi gambaran pemuda dalam dunia Islam yang sukses dalam kehidupan dunianya maupun akhirat karena menaruh perhatian besar anak didiknya pada pendidikan agama, mulai dari pendidikan keluarga, sekolah, hingga masyarakatnya.

Untuk itu, jika ingin remaja kembali perannya sebagai agent of change dan generasi emas bangsa, negara, serta agama, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengembalikan sistem pendidikan kita kepada sistem pendidikan Islam yang dibangun atas asas akidah Islam. Dan, penerapan sistem pendidikan Islami tersebut, hanya bisa terwujud dengan kembalinya isntitusi Islam yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman berbangsa dan bernegara. Wallahu a’lam. [MO/ms]

Posting Komentar