Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Luar biasa, anggaran penerimaan negara bocor. Angkanya fantastis, hingga 2000 triliun per tahun. Ini mengelola negara apa mau bancakan uang negara ? Bocor kok sampai separuhnya ? Jika anggaran tidak bocor, APBN negara ini bisa sampai 4000 triliun. Artinya ?

Banyak arti. Bisa diartikan tidak perlu Nunggak BPJS. Tidak perlu Nunggak gaji guru honorer. Tidak perlu ada sekolah dan jembatan sampai rubuh. Tidak perlu ingkar janji bantuan 50 juta per KK untuk korban bencana. Tidak perlu nyari utangan untuk nambal APBN. Tidak perlu menggenjot investasi asing untuk cari uang receh dengan mengorbankan kedaulatan negara. Dll.

Lantas, siapa yang diuntungkan dengan kebocoran ini ? Rakyat dan segenap bangsa Indonesia ? Tidak. Rakyat yang paling dirugikan. Sudah diperas bayar pajak, ternyata anggaran penerimaan bocor. Banyak layanan publik yang menjadi hak rakyat jadi Terbengkalai.

Lantas, siapa yang 'ngalap berkah' dari bocornya APBN ini ? Jelas, para penguasa zalim, para pengusaha hitam, asing dan aseng yang menjalin kerjasama dengan rezim, serta semua pihak yang mendapat akses 'jual beli kewenangan' melalui rezim zalim pimpinan Jokowi.

Dahulu, Jokowi ingkar atas adanya kebocoran. Sekarang, Jokowi hanya bungkam atas temuan KPK. Idealnya, Jokowi segera menambal kebocoran, bukan cuma sibuk selvie dengan istri.

Jokowi tidak perlu berfikir rantai sepeda sudah putus. Saat ini, Jokowi masih resmi menjadi Presiden. Bisa menggunakan kewenangan yang ada padanya untuk menambal kebocoran APBN, bukan malah untuk membungkam kritik dan aspirasi berbeda.

Jokowi bisa segera memimpin rapat kabinet, memanggil seluruh menteri dan pejabat terkait, untuk mengevaluasi bocornya penerimaan negara sekaligus mengecek borosnya pengeluaran negara. Menkeu, yang terbaik se Asia Pasifik ini wajib segera membuat skenario penambalan. Sementara tambal dulu, nanti Klo sudah ganti Presiden akan diganti ban baru yang tidak bocor.

Tapi rasanya tidak mungkin. Jokowi hanyalah sopir yang kerjaannya injak gas, tidak pernah injak rem. Tidak tahu mesin rusak. Tidak tahu bahan bakar habis. Tidak tahu ban mobil bocor, pokoknya terus duduk manis di roda kemudi, dan injak pedal gas.

Kasihan sekali nasib penumpang, nasib segenap rakyat Indonesia. Bagaimana mungkin bisa sampai tujuan adil sejahtera, jika kemudi bangsa ini dijalankan oleh orang tak punya kapasitas seperti Jokowi ?

Orang-orang disekitar Jokowi, tidak peduli APBN jebol. Tidak peduli rakyat susah. Mereka hanya sibuk rebutan jatah rembesan APBN agar masuk ke kantong mereka.

Visi mereka cuma satu, memindahkan duit dari APBN ke kantong mereka. Melalui bisnis mereka, melalui jualan kewenangan mereka, melalui konsesi politik mereka. Rusak sekali bangsa yang dipimpin rezim seperti ini ? []

Posting Komentar