Oleh Salma Banin
(Kontributor  Komunitas “Pena Langit”)

Mediaoposisi.com-Petisi #JusticeForAudrey terus bergulir, dukungan pun masih deras mengalir. Semua elemen masyarakat merasa perlu untuk merespon dengan cepat tentang ketidak adilan yang terjadi padanya. Seluruh Indonesia heboh, meski belum bisa mengalahkan kehebohan di kubu 01 sebab UAS dengan ketulusannya mengarahkan dukungan ke paslon 02 pilpres di beberapa hari mendatang.

Namun tentu saja, keduanya layak diviralkan, demi kemaslahatan Indonesia dihadapan.
Sebagai mantan remaja, saya merasa sekali dinamika yang terjadi di lingkungan remaja sekolah, terutama usia SMP-SMA, meski tidak se’alay’ saat ini. Percekcokan mulut kini beralih ke sosial media, saling sindir, ejek karna lelaki seakan penting sekali dalam kehidupan mereka. Maklum, belum sadar akan beratnya tanggung jawab memanusiakan manusia. Meski kita juga perlu cermati, bahwasanya ini adalah fakta masalah yang dihadapi mereka, maka seharusnya institusi pendidikan mau turut berbenah.

Teori aksi-reaksi adalah sunatullah yang tidak bisa kita pungkiri. Munculnya aksi penganiayaan ini juga tentu bisa kita posisikan sebagai reaksi dari aksi yang lain, misal saling sindir di sosmed. Sindiran di sosmed pun adalah reaksi dari suatu aksi sebelumnya, demikian seterusnya. Maka dalam menyelesaikan reaksi akhir ini, mesti kita telusuri aksi yang menjadi akarnya. Karna tanpa itu, bisa kita pastikan, akan muncul Audrey lain yang turut menghiasi pemberitaan. Memangnya Anda tidak jenuh dengan itu?

Institusi paling dekat untuk disorot pastinya keluarga. Baiknya orangtua dalam membina keluarga adalah modal yang anak miliki untuk mencegah terjadinya hal-hal yang diluar norma. Berdasar dari ini, baik Audrey maupun penganiayanya bisa jadi adalah korban dari minimnya penjagaan keluarga atas pergaulan mereka diluar rumah.

Secara fisik mereka bersekolah, tapi keimanan, kejiwaan dan perilaku tidak mendapat perhatian yang seharusnya. Wajar jika masyarakat prihatin, “hatinya tidak secantik wajahnya” begitu kurang lebih komentar yang muncul setelah melihat foto dari para tersangka. Bahkan peran orangtua yang hanya sebagai penghasil anak dan mesin ATM sudah menjamur di negeri ini.

Ayah dan Ibu dirampok waktunya demi ekonomi yang lebih baik, sudah tak sempat menjadi pendidik, lalu berpangku tangan pada guru di sekolah. Padahal guru juga banyak disibukkan dengan administrasi kurikulum, tak punya banyak perhatian untuk memastikan anak-anak didik menimba ilmu bukan sekadar untuk nilai dan ijazah, kesempatannya tidak memungkinkan.

Lingkungan dan negara adalah faktor lain yang selalu disebut berperan besar dalam pembentukan mental dan karakter individu, terutama remaja yang notabene sedang mencari jati diri. Dan itu sangat benar. Lingkungan tempat kita hidup akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan syakhsiyah (kepribadian), dimana pemikiran, perasaan dan peraturan yang dianut masyarakat akan mengikat kita sebagai bagian darinya.

Hari ini, pemikiran, perasaan dan peraturan itu telah disandarkan pada ide sekulerisme. Yakni menempatkan agama dalam ranah privat saja, sedangkan masalah publik yang berkaitan dengan pergaulan misalnya, tak perlulah Islam dibawa-bawa, kita ‘kan plural, katanya.

Maka berdirinya  Taman Dilan di Bandung dan diresmikan langsung oleh Pak Gub menjadi wajar bahkan didukung saja. Padahal apa yang diajarkan Dilan bagi generasi sekolah kita? Gombalin anak gadis orang, pacaran, tawuran, bangga menjadi anggota geng motor, hingga berani kelahi dengan guru, aspek mana yang patut dicontoh?

Sedang peresmiannya oleh pemerintah provinsi menjadi legitimasi, bahwa negara melalui kebijakannya justru mensponsori kerusakan moral bagi generasi selanjutnya. Ini baru provinsi, bagaimana dengan kebijakan pemerintah pusat? Sebagaimana sistem pendidikan kita yang padat akan orientasi materi, kering ruhani sehingga peserta didik tidak mendapat nutrisi yang benar terkait kepada siapa mereka harus menghamba pertama kali.

Prestasi dunia lebih menggiurkan bagi generasi, sehingga mereka berlomba-lomba untuk mengejarnya. Rela bersikutan dengan siapa saja asal harta, tahta, serta gengsi mampu terpenuhi. Seluruh waktu, tenaga, pikiran, kekuatan, kesempatan, hingga kewarasan dicurahkan tanpa henti. Terlalu sibuk dengan itu semua, hingga tak sempat mempersiapkan pertemuannya dengan Allah, sesuatu yang pasti terjadi.

Lingkungan negara hedonis dan liberalis yang kita miliki sekarang adalah kondisi terburuk yang pernah menimpa kaum muslim sejak keruntuhan Khilafah 95 tahun silam. Islam yang merupakan fitrah dan rahmat dimonsterisasi sedemikian rupa, mempelajarinya dinilai sebagai aksi radikal, menerapkannya apalagi.

Kaum muslim dibuat phobia dengan ajaran Penciptanya sendiri, seraya mengelu-elukan budaya hidup Barat yang rusak lagi merusak.  Sungguh kemunduran berpikir ini tidak boleh diteruskan.

Islam ideologis adalah keniscayaan yang harus selalu dibawa dalam dakwah dan pembinaan, maka menjadi bagian darinya adalah pilihan mulia, beroptimal didalamnya adalah keutamaan sebagai hamba yang jiwanya berada ditangan-Nya. Wallaahu’alam.

Posting Komentar