Oleh: Rifka Fauziah Arman, A. Md. Farm.,
(
Ibu Rumah Tangga
dan Aktivis Generasi Peradaban Muslimah)

Mediaoposisi.com-“Menyedihkan” itulah kata yang pantas untuk kondisi anak muda saat ini walaupun tak semua dalam kondisi yang sama, tetapi secara garis besar pun dapat dilihat bahwa memang seperti inilah kondisi anak muda di Indonesia. Orangtua yang sudah lelah membanting tulang untuk menyekolahkan anak-anaknya dengan kualitas sekolah yang bagus tetapi tidak menjamin hasil yang bagus.

Berita yang viral dengan hashtag #JusticeForAudrey seorang siswi smp di Pontianak berumur 14 tahun yang mengalami penganiayaan oleh 12 siswi SMA di Pontianak. Audrey hanyalah sepupu dari mantan pacar salah satu pelaku yang menyerangnya dan saling berkomentar di sosial media. Dari info yang didapat sebenarnya pelaku utama hanya 3 orang dan sisanya hanya membantu pada saat kejadian. 

Kondisi Audrey pun mengalami banyak cedera dan trauma psikis akibat organ vital yang dilukai oleh salah satu pelaku dengan niat membuat Audrey tidak “perawan” lagi. Bahkan Audrey baru mengadukan kepada orang tuanya setelah 7 hari kejadian tersebut. Akibat berita viral ini banyak menyita perhatian para netizen, pejabat bahkan artis-artis di Indonesia yang meramaikan dengan menandatangani petisi yang dibuat oleh seorang wanita untuk membela korban dan sudah mencapai 1,5 juta lebih.(TribunKaltim.co 10/04)

Polisi sudah melakukan mediasi terhadap pelaku tetapi tidak ada satupun yang ingin meminta maaf. Bahkan saat mediasi pun para pelaku masih sempat membuat video di instagram story. Entah apa yang ada di pikiran mereka seperti tidak ada rasa bersalah. Bahkan sempat beredar kabar bahwa KPPAD (Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah) Kalbar menyebutkan jalur damai untuk kasus ini, tetapi sudah di konfirmasi bahwa ini hanya hoax oleh salah satu akun di sosial media. (Jppn.com 10/04)

Jika dilihat dari kehidupan masing masing pelaku melalui instagram pribadinya, mereka adalah anak-anak muda yang modis dan cantik bahkan ada beberapa dari mereka berhijab. Dari postingan mereka terlihat bukan dari kalangan biasa dan tergambar seperti anak-anak dari keluarga yang berada, terlihat dari gadget dan foto-foto di akun instagram mereka yang kini sudah dihapus dan beberapa ada yang di hack oleh pembela korban. Dari komentar para netizen tentang kasus ini tak sedikit yang menyayangkan siswi berhijab yang menjadi pelaku utama hingga mengomentari hijab yang dipakainya.

Dari kasus ini banyak yang harus diperhatikan terutama dalam bidang pendidikan anak baik di sekolah maupun di lingkungan rumah. Banyak orangtua maupun guru yang tidak begitu mengenal anak-anak mereka karena sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing terutama gadget. Gadget pun bisa merubah bentuk kepribadian seseorang terutama anak muda yang masih labil dan sulit memilih. Bagaimana cara membedakan buruk atau baiknya suatu hal yang rumit bagi mereka, sehingga tertanam dalam benaknya “hidup gua, suka suka gua”.
Lalu, siapa yang harus disalahkan? Jawabannya adalah semuanya. Mengapa? Karena tidak bisa dipungkiri semuanya berperan dan masuk kedalam kasus ini, mulai dari moral, pergaulan, pendidikan bahkan pemerintah.

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101)

Dari hadist diatas sangat jelas bahwa bagaimana cara bergaul didalam islam. Bergaul dengan siapa saja tidak ada yang melarang tapi lihatlah bagaimana kesehariannya. Dalam beberapa kasus ada yang cukup dikenal saja dan ada beberapa yang harus kita dekati seperti orang-orang shalih. 

Dalam kasus ini awalnya hanya beberapa siswi saja tetapi ternyata teman-temannya yang lain malah membantu menganiaya korban, inilah penyebab jika bergaul dengan cara yang salah. Tentu dalam hal bergaul harus sesuai dengan syari’at islam. Disebutkan dalam kasus ini salah satu pelaku merupakan mantan pacar sepupu korban. Pacaran saja tidak ada didalam islam, maka sudah sejak awal pacaran manjadi akar masalah ini. 

Agama yang dijauhkan dari setiap kehidupan manusia yang didukung oleh sistem yang ada saat ini berdampak jauh hingga sampai menyerang kids jaman now. Mulai dari pendidikan agama yang dikurangi saat sekolah, orangtua yang kurang memperhatikan perilaku sosial anak hingga lingkungan pergaulan yang mengutamakan nafsu dibanding ilmu dan adab.

Moral atau agama yang harusnya ditanamkan begitu dalam sejak dini, mulai dari pergaulan dan akhlaqul karimah. Mungkin orangtua sudah menanamkannya sejak dini tapi hanya hal-hal kecil dan menyerahkan seutuhnya kepada sekolah atau madrasah. Jarang sekali diajak ikut kajian rutin atau menonton kajian di media karena orangtua sendiri pun tidak mengajarkan hal tersebut. 

Fungsinya rutin dalam mengikuti kajian adalah untuk menanamkan agama secara konsisten dan meningkatkan keimanan seseorang sehingga takut untuk berbuat dosa. Agama yang diperkenalkan hanya sekadar rukun iman, rukun islam atau pelajaran lainnya di sekolah tetapi tidak tertanam dalam benaknya “takut kepada Allah SWT” terbukti dengan kurangnya jam pelajaran agama di sekolah.

Karena itu begitu miris kondisi kids jaman now, mulai dari berita-berita viral sebelumnya yang menganiaya guru, membunuh orangtua, dan terbaru menganiaya atas dasar pacaran. Kondisi saat ini yang membuat kids jaman now manjadi monster yang tak takut lagi dengan hukum bahkan dengan hukum Allah SWT.

Oleh karena itu solusi yang tepat untuk segala permasalahan anak muda adalah kembali kepada islam. Islam mengajarkan perdamaian dan kelembutan. Sebagai contoh saat Ali bin Abi Thalib yang menjadi anak kecil pertama yang masuk islam, ada Aisyah yang begitu lembut dan masih sangat muda memberanikan diri menjadi menjadi istri Rasulullah SAW dan menjadi ummahatul mukminin, Muhammad Al Fatih yang menjadi seorang khalifah saat masih muda. 

Harusnya seperti inilah kondisi anak-anak muda sekarang, sibuk menuntut ilmu, sibuk mencari jati diri dan berprestasi, peduli dengan kondisi saudara muslim kita yang tersiksa, sibuk beribadah kepada Allah SWT. Bukan menyibukkan diri pacaran, membully apalagi membunuh.

Sudah cukup anak-anak muda ini dihancurkan dengan narkoba, seks bebas, dan kekerasan seksual. Saatnya indonesia kembali pada solusi yang hakiki yaitu islam. Islam yang penuh dengan anak-anak muda kreatif dan sibuk dengan dakwah dan ibadahnya. 

Sehingga tidak ada lagi korban yang berjatuhan. Solusi satu-satunya dan hanya bisa kembali pada agama. Semoga Indonesia menjadi penuh dengan anak-anak yang berprestasi, berdakwah dan menjadi pemimpin kebangkitan umat terdepan.
Wallahu’alam bissawwaab.[MO/vp]

Posting Komentar