Oleh: Anisa Rahmi Tania
(Aktivis Dakwah Muslimah)

Mediaoposisi.com-Seiring memanasnya isu pilpres yang sebentar lagi akan menemui puncaknya, isu khilafah pun ikut menghangat. Muncul beragam pendapat dan pandangan bahkan tak jarang tuduhan terhadap khilafah. Pro dan kontra opini khilafah bergulir dengan kencang baik di media sosial maupun di acara-acara diskusi langsung.

Di antara mereka ada yang menuduh dengan tegaknya khilafah hanya akan memecah belah NKRI. Ada pula yang menuduh khilafah tidak bisa diterapkan di Indonesia karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragam. Baik adat istiadat, budaya, maupun agamanya. Sehingga jika diterapkan khilafah yang berdasarkan agama Islam akan menindas penduduk agama minoritas.

Segala bentuk tuduhan dan anggapan tersebut sesungguhnya tak berdasar sama sekali. Karena dalam rentang sejarah kekhilafahan 13 abad lamanya, Daulah khilafah diisi oleh penduduk yang beragam. Dari jejak perjalanan khilafah tersebut dapat kita temui kebersamaan yang membahagiakan antar pemeluk agama. Tidak terjadi diskriminasi maupun tindakan semena-mena terhadap penduduk yang beragama minoritas.

Tuduhan tersebut hanya buah dari ketakutan yang berlebihan dan ketidakpahamannya atas perbedaan makna pluralitas dan pluralisme. Islam mengakui adanya plural yakni keberagaman. Pluralitas yakni kondisi dimana masyarakat majemuk terdiri atas beragam agama, budaya, dll. Hal ini tak bertentangan dengan Islam karena Allah SWT  memang telah memberitahukan kondisi keberagaman ini sejak awal.

Allah berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan akamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesunggunya orang yang paling mulia di anatara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di anata kamu. Sesunggunya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat: 13)

Berbeda dengan makna pluralisme. Pluralisme tidak bisa disamakan dengan kata pluralitas karena pluralisme yakni plural yang ditambah akhiran -isme menunjukkan pemahaman. yakni pemahaman akan kebenaran dalam keberagaman yang tidak hanya satu, tetapi jamak atau banyak.

Pemahaman ini jelas bertentangan dengan Islam karena Islam sesuai dengan firman-Nya adalah agama satu-satunya yang diridhai Allah SWT. Yakni agama yang benar dan telah Allah sempurnakan. Jika Islam mengakui pluralisme, artinya bukan hanya agama Islam yang benar tetapi juga semua agama yang ada di dunia ini. Pemahaman tersebut jelas salah karena bertentangan dengan hakikat ajaran Islam.

Dengan landasan tegas dalam ajaran tersebut, Islam dengan institusinya khilafah mampu menaungi seluruh masyarakatnya yang beragam. Hal ini persis dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Saw maupun para Khalifah sepeninggalnya. 

Lihatlah dahulu tatkala Rasulullah Saw berhasil menerapkan sistem Islam di Madinah. Kondisi Madinah saat itu pun beragam, mulai dari keberagaman kabilah atau suku, begitu pula dengan agama. Saat Rasulullah memimpin masyarakat Madinah jangan dikira saat ini hanya ada kaum muslimin, tetapi ada majusi dan Yahudi yang juga tinggal di sana. Tetapi Rasulullah tidak menyamakan ajaran Islam dengan ajaran agama lain. Di sisi lain Islam tetap menaungi, menyamakan hak-hak masyarakat Madinah baik muslim ataupun non-muslim. Karena Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. Bukan Rahmat bagi  kaum muslimin saja.

Bila lebih jauh lagi kita melihat jejak sejarah peradaban Islam. Adakah tindakan-tindakan diskriminatif yang dilakukan negara khilafah pada kaum minoritas? Tidak ada. Sebaliknya jika kita mengkaji lebih dalam jejak kebersamaan yang membahagiakan, harmonis dan penuh kasihlah yang akan temukan.

Di antara contoh paling masyhur adalah saat Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. membebaskan Baitul Maqdis (Yerussalem), Palestina. Saat itu Khalifah Umar menandatangani perjanjian damai dengan Pendeta Sofranius yang merupakan pemimpin umat Nasrani di Yerussalem.

Perjanjian yang dinamai Ihdat Umariyah itu memberikan jaminan kepada warga non-Muslim agar tetap bebas memeluk agama dan keyakinan mereka. Khalifah Umar tidak memaksa mereka untuk memeluk Islam dan tidak menghalangi mereka untuk beribadah sesuai keyakinannya. Mereka hanya diharuskan membayar jizyah sebagai bentuk ketundukan pada pemerintahan Islam.

Bahkan Khalifah memberikan keleluasaan kepada mereka untuk tetap memasang salib-salibnya di Gereja al-Qiyamah. Khalifah Umar ra. juga memberikan kebebasan dan hak-hak hukum dan perlindungan kepada seluruh penduduk Yerussalem. Pada saat kekuasaan Khalifah Umar ra. sampai ke wilayah Kisra Persia di Ctesiphon pasca Perang Khadisiah, Khalifah Umar ra.

Khilafah memperlakukan orang-orang Majusi dengan baik, termasuk memuliakan putri-putri Kisra Persia dengan menikahkan mereka dengan para putra terbaik dari kalangan para Sahabat Nabi, di antaranya Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. Khalifah juga mengangkat gubernur Persia dari kalangan sahabat yang berasal dari Persia sendiri, yakni Salman al-Farisi.

Saat kekuasaan ada di tangan Khalifah Abbasiyah, toleransi di antara umat beragama tetap menjadi perhatian para khalifahnya. Apalagi kekuasaan kaum Muslim saat itu sudah meliputi tiga benua.

Para penganut keyakinan animisme dan dinamisme di pedalaman Afrika hingga kaum musyrik di Asia Utara dan Asia Tengah tetap mendapatkan perlakuan baik dari pemerintahan Islam, termasuk kaum paganis di Steppa Eurasia yang terbiasa hidup nomaden. Bahkan saat Islam tersebar di antara kaum paganis itu, mereka berlomba menjadi para kesatria Islam dengan bergabung dalam akademi-akademi militer yang dibangun oleh para khalifah Bani Abbas.

Demikianlah bukti bahwa hanya khilafah yang bisa mengelola keberagaman ini dengan apik. Karena fakta telah banyak menunjukkan ketika Islam menjadi minoritas, penindasan tak pernah terlewatkan. Jangankan memperoleh haknya, bahkan mereka habis dibantai seperti yang pernah terjadi di Bosnia, Chechnya, kemudian Moro, Patani, Myanmar, China, dan lainnya.

Oleh karena itu hanya dengan khilafah lah akan terwujud kehidupan masyarakat yang harmonis, rukun, aman dan tentram. Karena pada hakikatnya Islam adalah agama yang memberikan ketentraman bukan perpecahan.
Wallahu’alam bishawab[MO/vp]

Posting Komentar