Gambar: Ilustrasi
Oleh: Yulida Hasanah

Mediaoposisi.com-Perdebatan tentang Khilafah mengundang banyak kalangan untuk membahas isu yang menguat sejak dicabutnya badan hukum perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia oleh rezim yang berkuasa saat ini.

Seakan tak pernah hilang dari ingatan, bagaimana rezim saat ini, yang sekaligus menjadi kubu pertahanan pada pemilu yang akan dilaksanakan 17 april besok, tampak sangat khawatir dengan menggemanya isu khilafah hingga membuat statemen bahwa kubu oposisi didukung oleh para pendukung dan pejuang Khilafah. Akibatnya, wacana tersebut mengundang perdebatan seputar Khilafah.

Lalu, bagaimana masyarakat tidak menjadi korban ambiguitas terkait Khilafah sebagai akibat dari pro kontra yang menyatakan bahwa khilafah itu bukan dari Rasulullah. Selain itu, wacana bahwa khilafah tidak wajib bahkan mengkriminalisasi Khilafah. Seakan kekacauan yang terjadi di negeri ini adalah ulah isu khilafah.

Memahami Ide Khilafah Adalah Kebutuhan
Tak salah jika ide Khilafah ini menjadi menarik untuk dibahas dan dikaji secara mendalam. Dan, sebuah kebutuhan bagi siapa saja yang sadar kondisi negeri untuk mengkaji wacana Khilafah. Terlebih, mereka adalah orang-orang yang mengakui dirinya mengimani keesaan Allah dan kemukjizatan Al qur’an serta tidak ingin dikatakan sebagai bukan umatnya Nabi Muhammad.

Selayaknyalah kita tidak menjadikan mulut-mulut kita berbicara tanpa ilmu dan menjadikan pena-pena kita menulis rujukan ilmu pula.

Di dalam Al Qur'an dan Hadits, Allah Subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya telah jelas menyatakan bahwa Khilafah adalah istilah syari'ah dan tidak ada khilafiah dalam hal ini.

Di dalam Al Qur'an disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sungguh Aku akan menjadikan di muka bumi Khalifah…’” [TQS al-Baqarah [2]: 30].

Imam al-Qurthubi [w. 671 H], ahli tafsir yang sangat otoritatif, menjelaskan, “Ayat ini merupakan hukum asal tentang wajibnya mengangkat khalifah.” Bahkan, dia kemudian menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban (mengangkat khalifah) ini di kalangan umat dan para imam mazhab, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli tentang syariah) dan siapa saja yang berpendapat dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.” [Lihat, Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Juz I/264].

Di dalam hadits Nabi, juga jelas disebutkan bahwa sepeninggal baginda Shalallahu ‘alaihi wa salam, harus ada yang menjaga agama ini dan mengurus urusan dunia. Dialah khulafa’, jamak dari khalifah [pengganti Nabi, karena tidak ada lagi Nabi].

“Bani Israil dahulu telah diurus urusan mereka oleh para Nabi. Ketika seorang Nabi [Bani Israil] wafat, maka akan digantikan oleh Nabi yang lain. Sesungguhnya, tidak seorang Nabi pun setelahku. Akan ada para Khalifah, sehingga jumlah mereka banyak” [HR Muslim].

Jadi, masalahnya saat ini adalah umat ini belum memiliki satu pemikiran yang sama tentang ide Khilafah. Karena, di antara mereka tidak menjadikan satu sumber yang sama sebagai rujukan. Maka jujurlah pada Allah, siapa saja yang masih menolak khilafah berarti mereka menutup mata bahwa Khilafah pernah menaungi umat manusia hingga 2/3 dunia.

Dan bagi yang menolak Khilafah, mereka hanyalah orang-orang yang menolak adanya peradaban mulia yang pernah mewarnai kehidupan manusia selama 1400 tahun lamanya. Dan, mereka yang mengatakan bahwa khilafah hanyalah mimpi adalah orang-orang yang tak pernah punya mimpi agung. Mimpi yang menjadikan umat manusia bangun dari tidurnya dan mampu melawan penjajah kafir barat di negeri-negeri muslim seperti Palestina, Suriah, Rohingya dan negeri-negeri muslim lainnya di mana penderitaan mereka belum reda hingga hari ini.

Khilafah, Warisan Rasulullah yang Wajib Dijalankan 
Sesungguhnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam telah meninggalkan 3 warisan yang wajib hukumnya dipelihara oleh Umat Islam. Selama tiga warisan ini dipelihara dengan baik oleh umat Islam maka akan baiklah keadaan umat Islam. Sebaliknya, jika salah satu atau lebih dari tiga warisan ini musnah atau diabaikan oleh umat Islam, maka umat akan rusak (fasaad).

Ketiga warisan tersebut adalah;
1. Islam, yang tertuang dalam Al-Kitab dan As-Sunnah
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Telah aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR Malik, Al-Muwaththa`, no 1594).

2. Ulama yang hakiki atau ulama pewaris para nabi (waratsatul anbiya`)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah para pewaris dari para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar atau dirham melainkan mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya (ilmu), maka dia telah mengambil bahagian yang cukup (banyak).” (HR Tirmidzi, no 2682).

3. Khilafah, dengan para khalifahnya yang bertugas menerapkan Islam secara kaffah (keseluruhan) dalam segala aspek kehidupan tanpa kecuali.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: "Dahulu Bani Israel diatur hidupnya oleh para nabi, setiap seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi lainnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Dan akan ada para khalifah dan jumlah mereka akan banyak.” (HR. Muslim, no 1842).

Jelaslah bahwa Khilafah adalah ajaran Islam dan warisan dari Rasulullah. Maka, tak layak bagi seorangpun memperdebatkan bahkan menolaknya. Wallaahu a’lam. [MO/ms]

Posting Komentar