Oleh : Bella Dinar Lestari

Mediaoposisi.com-Rasanya belum kering air mata ummat Muslim seluruh dunia atas kejadian penembakan secara brutal yang terjadi di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru pada Jum’at (15/3). Aksi atas dasar kebencian kepada Islam dan para pemeluknya kembali terjadi.

Seperti yang diberitakan oleh bbc.com mengenai perusakan empat masjid oleh seorang pria dengan menggunakan palu godam di kota Birmingham, Inggris, pada Kamis dini hari (21/03).

Pembakaran salinan Al-Qur’an oleh pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, pada hari Jumat (22/3). Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk protesnya atas sejumlah Muslim yang menunaikan shalat Jum’at di depan gedung parlemen Denmark.

Sebelumnya, umat Muslim Denmark berkumpul untuk menggelar aksi solidaritas bagi para korban penembakan di Christchurch dan melaksanakan shalat Jum’at disana.

Sebenarnya Islamofobia sudah terjadi jauh sebelum terjadi penembakan di Selandia Baru. Para pemeluk Islam yang tinggal sebagai minoritas sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Misalnya dengan menarik penutup aurat perempuan muslim, kesempatan kerja dan pendidikan yang terbatas dan pelecehan secara verbal pun sudah biasa mereka dapatkan.

Walaupun yang menjadi korban penyerangan tersebut adalah umat Muslim, namun yang tetap mendapatkan cap sebagai teroris adalah umat Muslim.

Pemahaman bahwa kejadian-kejadian penyerangan dan pelecehan tersebut tidak akan terjadi apabila umat muslim tidak “berulah” adalah hal yang selalu digaungkan. Seperti jamur dimusim hujan, pemahaman seperti ini terus menyebar bahkan dampai ketelinga bahkan merasuk kedalam tubuh umat muslim sendiri.

Akibatnya, umat muslim menjadi ketakutan untuk mengenal lebih jauh agamanya. Menjadi anti terhadap symbol dan istilah Islam. Frame buruk dan cap negatif yang selalu diperuntukan bagi ajaran islam pun berhasil mempengaruhi pemeluknya sendiri. Kemudian yang terjadi adalah umat Islam meninggalkan syariat Islam dan berpaling kepada pemikiran yang sekuler.

Kondisi Islam pada saat ini bagaikan sebuah lampu yang menyala namun disimpan dalam sebuah kotak. Sehingga tidak terlihat pancaran cahayanya dari luar. Oleh karena itu, untuk dapat memperlihatkan cahayanya, kita perlu mengeluarkan lampu tersebut dari kotaknya sehingga tidak ada yang dapat menghalangi pancaran cahayanya.

Begitupun dengan Islam, saat ini Islam belum dapat terlihat menyilaukan karena masih belum dapat diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan secara sempurna. Islam masih hanya disimpan didalam setiap masjid dan ibadah ritual pemeluknya saja. Sehingga belum menjadi Rahmat bagi seluruh alam.

Berbeda halnya, apabila Islam diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Maka yang terjadi adalah manusia berbondong-bondong untuk masuk kedalam Islam. Seperti yang Allah sebutkan dalam surat An Nashr ayat 1 dan 2.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan Kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.”

Ayat ini turun pada saat setelah Rasulullah dan para Shahabat hijrah ke Madinah dan menerapkan Islam secara sempurna. Sehingga tidak ada lagi yang menghalangi pancaran cahaya Islam dan menyilaukan umat agama lain.

Kemuliaan dan keagungan Islampun dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia (bukan hanya umat Islam). Terbukti dalam sejarah Kekhilafahan, yang hidup dalam naungan Islam adalah tidak hanya umat Muslim saja. Namun, tidak ada perbedaan perlakuan dan sikap rasisme, seluruhnya sama dimata Negara dipandang sebagai warga Negara yang memiliki hak yang sama.

Oleh karena itu, untuk dapat mengembalikan pancaran cahaya kemuliaan dan keagungan ajaran Islam. Maka, sudah menjadi sebuah keharusan untuk kita kembali kepada jalan Allah dan menjadikan syariat Islam satu-satunya solusi dari seluruh permasalahan, baik permasalahan individu, masyarakat maupun bernegara.

Penerapan syariat Islam tersebut hanya dapat dilaksanakan dalam bingkai khilafah dan bukan demokrasi. Karena, demokrasi meniscayakan adanya keputusan manusia dalam setiap memutuskan sebuah aturan bukan menjadikan Allah menjadi satu-satunya sang pembuat hukum.

Posting Komentar