Gambar: Ilustrasi
Oleh: Susi Sukaeni

Mediaoposisi.com-Sekalipun HTI telah dibubarkan namun perbincangan tentang khilafah masih terus bergulir di tengah masyarakat. Bahkan, diskursus khilafah terus berlangsung hingga masa kampanye pemilu 2019. Forum berkelas “Debat Capres dan Cawapres” tak luput dari isu khilafah. Hal ini menunjukkan, betapa khilafah telah membangkitkan keingintahuan dan menyedot perhatian publik.

Bagi para pejuangnya, khilafah diyakini sebagai sistem terbaik untuk mengurai permasalahan manusia termasuk dalam berbangsa dan bernegara. Namun, bagi para penentangnya khilafah dianggap banyak menimbulkan masalah. Diantaranya adalah kemustahilan bagi khilafah bisa merawat keberagaman. Padahal Indonesia sangat nyata keberagamannya dari sisi agama, etnis, budaya, adat istiadat, bahasa, dan lain-lain.

Bila kita menelusuri jejak sejarah kekhilafahan Islam yang terbentang selama 14 abad, akan didapati bahwa khilafah sangat melindungi keberagaman (pluralitas). Dalam khilafah, pluralitas adalah sunnatullah dimana Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Sebagaimana firman-Nya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lai-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat, 13).

Selain itu juga dalam firman Allah yang lain, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lain bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui," (QS. Ar-Rum: 22).

Perlu dipahami bahwa pluralitas berbeda dengan pluralisme. Secara fakta, pluralitas adalah realita yang tidak bisa dihindari dan dihilangkan oleh manusia. Hal ini berkaitan dengan taqdir Allah Subhanahu wa ta’ala (sunnatullah). Adapun pluralisme adalah ‘sikap menerima perbedaan-perbedaan tersebut’ yang berimplikasi pada pengakuan kebebasan mutlak dalam beragama, berpendapat, dan bertingkah laku.

Dalam khilafah Islam, segala sesuatu harus terikat dengan syariat Islam sehingga tidak ada kebebasan mutlak dalam beragama, berpendapat, dan bertingkah laku. Sebagai contoh dalam hal beragama, bagi warga negara muslim tidak ada kebebasan pindah agama sehingga akan dikenakan sangsi berat bila keluar dari agama Islam (murtad). Hal ini dilakukan dalam rangka menjaga akidah seorang muslim dari kesesatan dan kerugian. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Ali Imran: 85).

Namun berbeda bagi warga negara yang terlahir sebagai non-muslim. Keyakinannya wajib dilindungi, tidak boleh dipaksa memeluk agama manapun, sebagaimana firmannya:

“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS Al Baqarah 256).

Negara mewajibkan warga negara saling menghargai dengan membiarkan orang lain beribadah sesuai agamanya tanpa harus mengikuti atau menghalang-halangi. Inilah solusi efektif dalam menyikapi perbedaan aqidah dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

“Dan aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pula menyembah yang aku sembah. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku” (Qs Al Ikhlas: 4-6).

Namun demikian, ayat tersebut tidak difahami untuk “mengakui” kebenaran agama mereka. Melainkan hanya  “pembiaran” atas keyakinan yang mereka anut jika Islam belum bisa diterima di hati mereka. Atas dasar bahwa tidak ada paksaan dalam bergama (QS. Al-Baqarah: 256).

Negara Madinah yang didirikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam adalah contoh nyata betapa negara Islam mampu merawat keberagaman. Penduduk Madinah hidup damai dengan tiga agama yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani. Disana hidup seorang Bilal dengan penuh penghormatan dan kemuliaan. Padahal, ia merupakan seorang budak berkulit hitam di antara orang-orang Arab berkulit putih.

Para sahabat yang berhijrah dari Mekkah diterima dengan tangan terbuka oleh kalangan sahabat Anshor penduduk asli Madinah. Mereka semuanya hidup rukun dan damai sepanjang tunduk dan patuh pada perundang-undangan negara Madinah. [MO/ms]

Posting Komentar