Oleh: Suhaeni, M.Si
(Praktisi Pendidikan )

Mediaoposisi.com-Akhir-akhir ini bahasan Khilafah kembali mencuat ke permukaan. Di Media sosial, televisi dan masyarakat ramai membicarakannya. Terlepas apakah mereka benar atau salah dalam mengulasnya.

Ide Khilafah yang pada awalnya dianggap utopis dan mustahil kini mulai mendapat respon positif dari masyarakat. Meskipun sangat disayangkan, tidak sedikit kaum muslim yang menolak ide ini. Mereka mengganggap bahwa Ide Khilafah tidak sesuai dengan keberagaman bangsa dan budaya. Ide Khilafah identik dengan perang dan pertumpahan darah. 

Bahkan calon cawapres no 02 mengatakan bahwa Khilafah tidak laku di Indonesia. Anehnya, jika Ide ini tidak laku di Indonesia, lantas kenapa menjadi viral. Bahkan Ide Khilafah ini diperdebatkan dalam sesi debat Capres ke-4.

Viralnya ide Khilafah seolah membuka kembali sejarah Islam yang telah terukir indah oleh tinta emas. Ya, Islam kala itu berhasil menjadi negara adidaya. Wilayahnya meliputi 2/3 dunia. Di bawah Daulah Khilafah Isalamiyah, Islam menjadi mercusuar peradaban dunia. Dari rahim Islam lah muncul para ilmuan-ilmuan hebat yang jasanya hingga saat ini masih kita rasakan.

Munculnya kembali ide Khilafah di tengah-tengah umat adalah suatu keniscyaan akan pastinya janji Allah SWT. Berawal dari para pengemban Islam kaffah yang dengan ikhlas tanpa mengengal lelah mengopinikan ide ini di tengah umat.

Selain itu iklan gratis lewat mulut orang-orang yang membencinya. Hingga tidak sedikit masyarakat yang penasaran dengan ide ini. Bahkan tidak sedikit yang tercerahkan dan pada akhirnya ikut serta dalam memperjuangkannya.

Khilafah merupakan bagian ajaran Islam. Ajaran ini sudah dimulai sejak masa Sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar As-siddiq. Dimana kata khilafah itu sendiri memiliki makna pengganti atas kepemimpinan Rasulullah sebagai kepala negara dan pengatur urusan umat.

Khilafah adalah bagian dari ajaran islam, dimana menegakkanya adalah sebuah kewajiban. Seperti halnya shalat, zakat, puasa, dan kewajiban lainnya. Kewajiban adanya Khilafah telah disepakati oleh selurh mazhab.

Tidak ada khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam masalah ini, kecuali dari segelintir ulama yang tidak teranggap perkataannya (laa yu’taddu bihi). (Lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyyah, Bab Al Imamah Al Kubro, Juz 6 hlm. 163).

Disebutkan dalam kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyyah Juz 6 hlm. 164 :

 “Umat Islam telah sepakat mengenai wajibnya akad Imamah [Khilafah], juga telah sepakat bahwa umat wajib mentaati seorang Imam [Khalifah] yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah mereka, yang mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum Syariah Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Tidak ada yang keluar dari kesepakatan ini, orang yang teranggap perkataannya saat berbeda pendapat.”

Tanggal 3 Maret 1924, tepat 98 tahun silam, Khilafah Islam runtuh. Islam yang pernah berjaya dihapuskan dalam tata dunia. Sejak itu, umat Islam tidak lagi dinaungi Khilafah dan tercerai berai menjadi lebih dari 50 negara. Umat Islam seperti tidak punya induk dan perisai setelah terpecah.

Saat ini, sinyal-sinyal bangkitnya Islam sudah mulai menyebar diseantero negeri. Banyak orang sudah tidak asing lagi dengan Khilafah.

Tidak sedikit pula yang rindu akan tegaknya kembali Khilafah di muka bumi. Meskipun di sisi lain,  orang-orang kafir  bahkan ada orang Islam sendiri benci terhadap Khilafah. Mereka membuat makar untuk menghalangi terbitnya fajar Khilafah, tapi ketahuilah makar Allah lebih dahsyat dari pada makar mereka.

Kembalinya Khilafah  A’la Minhaj an-Nubuwah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah SAW, maka pasti akan terjadi. Suka atau tidak suka. Maka dari itu marilah kita semua sebagai seorang muslim yang dipersatukan dengan ikatan aqidah untuk berjuang bersama-sama demi tegaknya kembali Khilafah yang dijanjikan Allah SWT.

Posting Komentar