Oleh: Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu terakhir, isu khilafah sempat menjadi perbincangan. Bahkan hingga disebut-sebut dalam debat capres pada 30 Maret lalu. Uniknya, nama HTI alias Hizbut Tahrir Indonesia juga disebut-sebut meski BHP-nya telah 2 tahun dicabut sejak 19 Juli 2017.

Hal itu menggambarkan seolah-olah Khilafah hanya milik Hizbut Tahrir (termasuk HTI) saja. Padahal tidak demikian. Khilafah adalah ajaran Islam sehingga keliru jika dikatakan bahwa Khilafah milik Hizbut Tahrir. Yang benar adalah Khilafah adalah milik umat Islam.

Khilafah memang milik umat Islam, bukan milik suatu golongan saja. Namun tak dapat dipungkiri saat ini, apabila kita mendengar kata Khilafah, maka orang akan mengaitkannya dengan Hizbut Tahrir. Atau jika orang bercerita tentang Hizbut Tahrir, maka Khilafah pun jadi salah satu topiknya. Dengan kata lain, seolah-olah Khilafah hanyalah milik Hizbut Tahrir.

Padahal sesungguhnya, Khilafah itu bukanlah milik Hizbut Tahrir saja. Khilafah telah ada dalam kitab-kitab fiqih, tarikh, hadits dan lain sebagainya, jauh sebelum Hizbut Tahrir ada. Meskipun memang pada kenyataannya kini, gerakan Islam yang sangat konsisten dalam memperjuangkan Khilafah hanyalah Hizbut Tahrir, namun bukan berarti Khilafah adalah milik Hizbut Tahrir, sehingga kebanyakan orang mengidentikkan Hizbut Tahrir dengan Khilafah.

Perlu diingat bahwa Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik Islam, sedangkan Khilafah adalah sistem Pemerintahan Islam. Aktivitas Hizbut Tahrir adalah aktivitas partai sementara aktivitas Khilafah adalah aktivitas Negara. Artinya, Hizbut Tahrir dan Khilafah adalah dua hal yang berbeda.

Pemahaman masyarakat saat ini yang menyamakan atau mengidentikkan Hizbut Tahrir dengan Khilafah tentu memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah sistem Khilafah yang dulunya pernah berjaya dan kemudian dihancurkan -sehingga kaum muslim hari ini kebanyakan tidak tahu-, kini semakin dirindu oleh umat Islam. Terbukti dengan makin banyaknya kaum Muslim yang kembali mengkaji Islam, termasuk kajian tentang Khilafah ini.

Namun, sisi negatifnya ialah membuat orang akan berfikir bahwa Hizbut Tahrir hanya membahas tentang Khilafah, tanpa kajian yang lain, seperti kajian akidah, akhlak, atau ibadah. Padahal, Hizbut Tahrir mengkaji Islam secara kaffah, mulai dari kajian akidah, syariah hingga Khilafah.

Apabila kita meneliti lebih jauh tentang kajian Hizbut Tahrir, maka akan kita dapati bahwa di dalam kitab-kitab kajiannya tidak hanya membahas tentang Khilafah. Nidzomul Islam  (Peraturan Hidup dalam Islam) misalnya, yang dibahas pada bab-bab awal adalah tentang aqidah. Bagaimana jalan menuju iman dan kajian tentang qadha wal qadar. Ada juga pembahasan akhlaq. Juga pembahasan-pembahasan lainnya.

Bahkan ada satu kitab khusus pembinaan pola sikap manusia, Min Muqowwimat An Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar pengokoh pola sikap Islami). Di dalamnya bagaimana menyegerakan syariat, mencintai Allah dan Rasulullah, cinta dan benci karena Allah, memelihara Al Quran hingga adab dalam berdebat. Sehingga sangat keliru jika ada pandangan; Hizbut Tahrir hanya membahas Khilafah tanpa kajian aqidah, akhlak dan ibadah.

Alhasil, tulisan ini dimaksudkan agar tidak ada lagi anggapan miring terhadap Hizbut Tahrir atau pemahaman yang keliru tentang Khilafah. Kami tegaskan kembali, Khilafah adalah kewajiban umat Islam seluruhnya, bukan hanya Hizbut Tahrir.

Bukan saja sebagai kewajiban, tapi juga merupakan janji Allah sebagaimana dalam QS. An Nur ayat 55 dan kabar gembira dari Rasulullah dalam haditsnya: "... Kemudian akan kembali Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian..." (HR. Ahmad). Wallahua'lam.[MO/vp]

Posting Komentar