Oleh :Alwi Husein Al-Habib

Wakil Direktur Center for Democracy and Religious Studies (CDRS) Kota Semarang dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Mediaoposisi.com-Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang menimpa Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuzy alias Romy belakangan menjadi sorotan media massa. Perbuatan Romy begitu menyisakan luka dan kecewa. 

Bagaimana tidak, kasus suap tersebut terjadi pada intansi yang seharusnya menjadi contoh potret moral dan kejujuran, yaitu Kementerian Agama. Banyak yang menilai kasus ini mempermalukan umat Islam. Sebab kasus itu dilakukan oleh partai yang notabenenya adalah partai Islam, yang tentunya menjalankan asas Islam dalam berpolitik. Dilihat dari simbol yang digunakan, PPP menjadikan gambar Ka’bah (kiblat umat Islam sedunia) sebagai lambang partai, ditambah bahwa slogan, PPP rumah besar umat Islam. Semua itu terasa mengejutkan, seperti gledek di siang bolong.

Kasus ini sebenarnya bukanlah kali pertama. Hanya saja terjadi ketika menjelang pemilu, sehingga semua begitu antusias menyumbang pilu. Menurut berbagai survey LSI, popularitas dan elektabilitas partai Islam kini semakin menurun. Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Akan tetapi, partai Islam belum bisa bangkit. 

Hal ini diduga disebabkan karena banyaknya perilaku partai Islam yang sudah keluar dari jalurnya. Jika dicermati, ini bukanlah soal partai Islam dan non Islam. Karena parpol yang tidak Islam pun sama-sama memperjuangkan Islam, melalui beberapa kadernya yang sebagian besar juga seorang muslim. Justru karena menyandingkan nama Islam, akhirnya menjadi boomerang tersendiri, apalagi berkaitan dengan hal-hal yang melanggar ajaran Islam. Karena terbesit dalam pikiran masyarakat bahwa partai Islam adalah mereka yang menjunjung tinggi syariat Islam.

Setelah menguatnya kekuatan politik Islam yang disebabkan beberapa kejadian, sebut saja digelarnya aksi 411 dan aksi 212 pada akhir 2016, seharusnya parpol Islam memetik banyak suara. Begitu besar semangat muslim untuk membangkitkan nilai-nilai ke-Islaman pada negara-bangsa Indonesia. Parpol Islam mestinya menjadi wadah semangat juang muslim sejati. Akan tetapi sebaliknya, parpol Islam begitu stagnan bahkan ada yang melalui fase kemunduran. 

Hal tersebut disebabkan banyak isu dan kasus yang menimpa parpol Islam. Seperti kasus HTI, khilafah, korupsi, dan lain sebagainya. Terpecahnya internal parpol Islam juga semakin memperburuk eksistensi parpol Islam. Mereka terpecah belah hanya karena rebutan jabatan ketua umum. Bagaimana mungkin parpol Islam bisa membenahi umat kalau membenahi tubuh sendiri saja kewalahan.

Parpol Islam yang semestinya menerapkan nilai keIslaman, sudah seharusnya dipertanyakan idealismenya. Apa yang parpol Islam tawarkan pada umat? Keadaan parpol Islam kini, malah semakin memperparah keadaan dengan bertambahnya catatan korupsi pada parpol Islam. Bukan berarti partai non Islam wajar untuk korupsi, akan tetapi setidaknya partai Islam menjadi panutan bagi partai-partai lain dan menjadi kebanggan umat muslim. Sebab, mereka sedang menjalankan dan menyebarkan nilai-nilai agama, yang tentu saja salah satunya adalah ajaran antikorupsi.

Kebanggan akan partai Islam kini telah pudar. Tugas parpol Islam adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat. Butuh waktu yang lama apabila setiap kader partai berbeda tujuan dalam berpolitik. Maka hal pertama yang harus dilakukan parpol Islam adalah mempersatukan visi. Setidaknya menjelaskan tujuan berpolitik Islam, yaitu untuk menolong manusia dan agama. 

Menurut Dr. Mohammad Nasih, dengan kekayaan, seseorang hanya dapat menolong sebagian orang. Akan tetapi dengan kekuasaan, seseorang akan dapat menolong semua orang melalui kebijakan yang maslahat. Hal ini sesuai dengan fungsi kekuasaan yang diajarkan oleh al-Qur’an, yakni sulthanan nashira, kekuasaan itu untuk menolong (QS. Al-Isra’: 80). Jika sudah memahami hal tersebut, tentu tidak ada yang berpolitik demi memperkaya diri sendiri atau kelompoknya. Hal tersebut mesti ditanamkan pada diri setiap kader partai Islam. Terlebih kepada orang yang sudah terlihat mulai melenceng jauh dari jalurnya.

Kurangnya figur pada parpol Islam juga berpengaruh pada eksistensinya. Tokoh Islam yang mampu mempengaruhi umat Islam justru bukan berasal dari partai politik. Secara otomatis memberi kesan bahwa politik dan agama dipisahkan. Walaupun tidak secara terang terangan diucapkan, tapi nyatanya hadir dalam privasi ruang bilik pemilihan.

Kegelisahan Cak Nur (Nur Cholis Madjid) pada tahun 70-an tergambar dari ucapannya yang fenomenal, yaitu “Islam yes, partai Islam no”. Menurut Cak Nur, ketika itu partai Islam belum bisa menjadi wahana aspiratif masyarakat dan belum bisa mengimplementasikan bahasa agama dalam kehidupan secara plural.

Jika di kontekskan pada era saat ini, benar juga apa yang dikatakan Cak Nur. Perkataan tersebut masih relevan. Karena memang partai Islam kurang berpengaruh dan sedikit kebijakan yang bisa ditawarkan kepada masyarakat muslim.

Meski demikian, “pemboikotan” umat Islam terhadap parpol Islam dirasa kurang tepat. Meski partai Islam ada yang korupsi, kasus suap atau yang lainnya, bukan berarti harus melupakan sejarah perjuangan parpol tersebut. Apalagi berhubungan dengan apa yang telah disumbangkan kepada umat Islam. Mengutuk kesalahan satu orang kemudian menghubungkan terhadap kelompok yang lebih besar tidak dibenarkan dalam Islam. karena mungkin ada orang didalamnya yang benar-benar serius berjuang di jalan Allah. Hanya saja sudut pandang kita menutupi kebaikan orang tersebut.

Siapapun yang menjadi kader partai mesti menjaga moralitas dan integritasnya, terlebih kader partai Islam. Oleh karena itu, setiap langkah dan ucapan mesti dipertimbangkan dengan matang. Karena apabila terjadi kesalahan, bukan hanya membuat buruk integritas pribadi namun juga merambat kepada partai. Jika sudah begitu, imbasnya adalah kepercayaan publik terutama umat Islam kepada partai Islam semakin minim. Jadikan pelajaran pada setiap kejadian. 

Mulai kembali dengan memperbaiki diri. Bila sudah terdeteksi hendak terjangkit virus korupsi, segeralah ingat Ilahi. Buatlah kekuasaan menjadi sarana pertolongan. Dan yang lebih penting adalah menjaga nama baik, supaya diri dan partai tidak merosot dan tercekik. Wallahu a’lamu bi al-shawab.

Posting Komentar