Gambar: Ilustrasi
Oleh: Cut Yenizar Polem
(Praktisi Pendidikan Meulaboh)

Mediaoposisi.com-“Ulama adalah pewaris para Nabi” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi). Selain itu, ulama juga sering disebut-sebut sebagai, “Pemegang amanat Allah atas makhluk - Nya” (HR. Al-Qudla’i dan Ibnu ‘Asakir), dan, “Pemimpin panutan umat “ (HR. Ibnu Hajar).  Ini menunjukkan bahwa kedudukan ulama sangatlah mulia sehingga Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam memposisikan mereka sebagai pengganti peran dan fungsi nabi-nabi. Adapun tugas para nabi adalah memperjuangkan tegaknya keadilan, merubah tatanan sosial yang korup, selalu berpegang teguh dengan memegang kebenaran.

Alangkah sayangnya, seorang ulama besar, Ustad Abdul Somad (UAS), setelah menyampaikan dukungan kepada paslon 02 pada Pilpres di tahun politik 2019, beliau difitnah telah menerima uang miliaran rupiah dan rumah besar. Selain itu, nomor telepon genggam UAS dibajak dan digunakan untuk menyebarkan informasi hoaks (rmol.co, 14/04/ 2019).

Akun twitter yang dimiliki oleh mantan sekretaris Kementrian BUMN, menyebutkan bahwa ia telah menerima pemberitahuan (mention) bahwa UAS mendapatkan dana miliaran rupiah dari Prabowo. Selain itu, UAS juga dituduh berselingkuh dan main perempuan (Jakarta, Ahad, 14/3/2019).

HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) menyatakan segera mendesak otak fitnah terhadap UAS untuk diusut (14 April 2019). Bahkan ketua bidang Partisipasi Pembangunan Daerah HMI Cabang Jakarta Utara, Fadli Rumafeking mendesak agar aktor fitnah diusut segera oleh penegak hukum. “Penegak hukum harus segera mengusut tuntas otak intelektual di balik fitnah keji yang ditujukan kepada Ustad Abdul Somad.“

Perihal kejadian tersebut, Fadli menegaskan kondisi saat ini, elit politik di Indonesia telah mempraktikkan pepatah klasik dunia politik, yaitu homo homini lupus atau manusia adalah serigala bagi sesamanya. Utamanya, yang dianggap berbeda akan dimangsa.

“Hal ini sangat terlihat jelas, ketika ada warga negara yang mempunyai pendapat dan pilihan berbeda, langsung dicap dan dijadikan mangsa politik. Terlepas dari sikap dan dukungan politiknya UAS kepada 02,” jelasnya.

Fadli menambahkan dalam paparannya, “Fitnah yang ditujukan kepada UAS selaku tokoh agama telah mencederai nilai-nilai Pancasila dan demokrasi kita,” pungkasnya.

Warganet menyuarakan simpati terhadap UAS yang diterpa fitnah pasca pembajakan akun Said Didu. Salah satunya, akun @izzahisyam yang berharap agar para ulama seluruhnya dapat aman dari dampak buruk dan fitnah. @Hilmi28 berharap aparat kepolisian untuk mengusut tuntas siapa yang telah menyebarkan fitnah terhadap Ustad Abdul Somad, alumnus Universitas al-Azhar (Mesir) itu.

Sebagai tambahan, Aa Gym, ustad asal Bandung Jawa Barat  menyampaikan, "Fitnah ini sama sekali tak akan meruntuhkan martabat beliau, malah sebaliknya akan semakin menambah derajat kemuliaannya." Twitter, @aagym (16/4/2019). Aa Gym juga mendoakan agar penyebar fitnah mendapatkan hidayah.

Mengapa Fitnah Terjadi?
Jika ditelusuri, saat ini kehidupan masyarakat berada di bawah sistem kapitalisme dengan asas
sekularisme yaitu memisahkan agama dengan kehidupan. Agama hanya diposisikan untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhannya saja. Hal ini merupakan ciri khas dari sistem kapitalisme. Di dalam sistem kapitalis, kekuasaan dikendalikan oleh orang-orang yang memiliki modal.

Bahkan, ada begitu besar kebobrokan yang dihasilkan oleh sistem ini. Sistem politik yang menghalalkan segala cara dan menjadikan musuh para ulama yang berani melakukan amal makruf nahi mungkar. (Republika, 14/4/2019)

Sekularisme telah memberikan jaminan kepada siapapun kebebasan berpendapat. Intinya, setiap individu berhak mengembangkan pendapatnya atau ide apapun dan bagaimanapun bentuknya tanpa tolak ukur halal-haram.

Fitnah keji terhadap ulama demi kepentingan politik semacam ini, bukanlah kali pertama terjadi. Sebelumnya, Habib Rizieq Shihab juga pernah mengalami hal yang serupa yang kemudian mengharuskan beliau pindah ke Arab demi keamanan dan keselamatan.

Kasus yang dialami Ustad Abdul Somad dengan tuduhan-tuduhan yang tidak ada buktinya, menjadi bukti otentik betapa cacatnya sistem buatan manusia. Di satu waktu ulama akan dianggap lawan bila tidak sejalan, di lain waktu ulama akan menjadi kawan bila seiring sejalan.

Solusi Hakiki
Ulama adalah pewaris para nabi. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Mereka (para nabi) tidak mewariskan dinar dan dinar. Mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak lagi sempurna.” (HR. Abu Dawud)

Sebagai pewaris para nabi, ulama hendaknya sejalan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Tak kenal lelah menyampaikan risalah yaitu dengan membacakan ayat-ayat Allah dan menyebarluaskan ajaran Islam ke tengah-tengah masyarakat. Mereka tidak takut menghadapai resiko apapun dan pantang menyerah.

Kedua, senantiasa berdakwah dengan membersihkah masyarakat dari kekufuran, kemaksiatan, serta menjelaskan kesesatan dan kerusakan berbagai pemikiran kufur (seperti komunisme, kapitalisme, pluralisme, HAM, dan lain-lain). Hal itu dilakukan agar masyarakat dapat terselamatkan dari segala pemikiran kufur. Mereka harus berada di garda terdepan dalam membela kebenaran. Mereka sungguh tidak rela jika ada hukum Islam tidak diterapkan. Mereka akan berjuang bersama-sama umat agar ditegakkan hukum-hukum Islam secara kaffah.

Ketiga, sebagai panutan umat, ulama haruslah didorong oleh keikhlasan semata-semata karena Allah.

Menyikapi fitnah yang dilakukan terhadap UAS, disinilah perlu hadirnya negara sebagai institusi yang akan memberikan solusi dan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Fitnah merupakan kebohongan besar yang sangat merugikan dan termasuk dalam dosa yang tidak terampuni oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Islam melarang umatnya memfitnah sebab fitnah adalah haram (Q.S Al-Hujurat: 12). Negara harus bersegera mengusut tuntas siapakah dalang dari penyebar fitnah itu. Dengan memberikan hukuman seadil-adilnya kepada para penyebar fitnah tersebut.

Satu fitnah yang disebarkan bisa menghancurkan satu bangsa karena bisa menimbukan berbagi masaalah yang akhirnya menjadi lingkaran setan (masalah yang tidak pernah berakhir). Padahal keutamaan menyambung tali silaturahmi dalam Islam sangatlah diutamakan. Wallahu a’lam bisshowab. [MO/ms]

Posting Komentar