Oleh: Ika Mawarningtyas, S. Pd.

Mediaoposisi.com- Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY
sempat menyurati tiga petinggi Partai Demokrat terkait gelaran kampanye akbar capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. SBY berbicara soal ketidaklaziman di kampanye Prabowo-Sandi. (m.detik.com).

Jika dicermati, kampanye Prabowo Sandi di GBK Ahad, 07/04/2019 berbeda dari kampanye biasanya. Spirit 212 masih melekat pada acara tersebut. Tetapi anehnya mengapa dikatakan tidak lazim dan eksklusif ?

Kampanye yang biasanya diisi orasi dan hiburan, pada saat itu ditambah acara sholat tahajud berjamaah, doa, dzikir bersama, sholat subuh berjamaah, dan sholawatan. Bukankah sholat berjamaah, doa, dzikir, dan sholawatan adalah ajaran Islam? Lantas apa yang tidak lazim dari aktifitas tersebut?

Dalam surat SBY tersebut, juga dikatakan kekhawatiran lain yaitu, Saya pribadi, yang mantan capres dan mantan Presiden, terus terang tidak suka jika rakyat Indonesia harus dibelah sebagai pro Pancasila dan pro Khilafah Lagi Khilafah tiba-tiba muncul dalam pesan SBY kepada paslon 02.

Dalam surat tersebut SBY khawatir jika negeri ini terbelah menjadi dua dan hancur karena ada pro Khilafah dan pro Pancasila. Tunggu-tunggu jangan nyolot dulu. Sebenarnya sejak awal, siapa yang selalu menjelek-jelekkan Khilafah? Dan mencoba menakut-nakuti umat dengan Khilafah? Khilafah ini baru sebatas gagasan yang ditawarkan sebagai solusi tuntas di negeri ini.

Tetapi ide ini langsung dihakimi sebagai ide yang anti Pancasila dan lain-lain. Agama Islam adalah agama yang berkeTuhanan Yang Maha Esa, jelas Islam adalah agama yang diayomi oleh Pancasila. Sedangkan Khilafah adalah ajaran Islam, oleh sebab itu seharusnya Khilafah tidak bertentangan dengan Pancasila.

Khilafah ajaran Islam, mengenalnya dan mengkajinya harusnya kepada para ulama hakiki bersandarkan dalil-dalil Quran dan Sunnah. Karena umat Islam tidak akan mengenal Khilafah dan malah membenci Khilafah jika mengenalnya dari kaum kafir penjajah yaitu Amerika, Israel, dan sekutunya.

Lebih-lebih jika melihat Khilafah dari ISIS, pasti umat akan tambah anti Khilafah. Karena ISIS bukan Khilafah ala minhajin nubuwwah (Khilafah sesuai metode kenabian). Jika ingin melihat Khilafah, lihatlah para Khulafaur Rasyidin, bukan pada ISIS yang diduga kuat adalah buatan kafir penjajah untuk mencitraburukkan Khilafah.

Oleh sebab itu, cukup sudahi perdebatan Khilafah vs Pancasila. Karena sebenarnya keduanya tidak bertentangan. Mengapa Pancasila selalu dipertentangkan dengan ajaran Islam? Kenapa tidak dengan ajaran liberalisme, kapitalisme, sekulerisme, komunisme, sosialisme, dan lain-lain? Saatnya umat melihat dengan cermat akar problematika di negeri ini.

Carut-marutnya negeri ini sebenarnya bukan karena gagasan Khilafah. Ketidakadilan, kesengsaraan, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas, korupsi, kolusi, nepotisme, dan gratifikasi bukan semata lahir dari penguasa yang durjana tetapi juga sebabkan oleh sistem tata kehidupan yang jauh dari tuntunan
illahi.

Oleh sebab itu, salahkah jika umat Islam ingin diatur oleh sistem Islam? Dimana sistem Islam ini adalah sistem warisan Nabi Muhammad Saw yang diturunkan melalui wahyu Illahi yaitu Quran dan sunnah. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan.

Allah SWT berfirman :

" Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang
fasik. " (QS Al Maidah ayat 49) [MO/ra]

Posting Komentar