Gambar: Ilustrasi
Oleh: Fitri Hidayatika

Mediaoposisi.com-Seiring berkembangnya teknologi, semakin banyak manusia yang memiliki gadget di tangannya, berubah pula kebiasaan seseorang dalam mengisi waktunya. Game menjadi salah satu aktivitas yang selalu dilakukan oleh hampir setiap orang saat ini, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Siapa yang tidak suka bermain game? Game dianggap berguna dalam mengisi waktu luang ataupun menjadi sarana hiburan di saat pikiran sedang dilanda stress. Tidak hanya itu, kehadiran game yang semakin mudah dan dekat di sekitar kita pun, terbawa arus kapitalisme. Menjadikan game di era sekarang tidak hanya sebatas hiburan semata melainkan dapat dijadikan sebagai lahan profesi yang dapat memberikan keuntungan materi bagi penggunanya.

Fakta yang terlihat di sekeliling kita, telah terdata dalam laporan Unity Technologies yang bekerja sama dengan perusahaan analitik Super Data dan menunjukkan bahwa basis gamers di Indonesia terdiri dari 49% pengguna ponsel laki-laki dan 51% pengguna ponsel perempuan. Di antaranya, golongan yang berusia 16-24 tahun menduduki seperempat atau 27% dari basis keseluruhan para gamers. Hal ini menunjukkan bahwa game merupakan aktivitas yang sangat digandrungi oleh kaum milenial. Termasuk, mereka yang merupakan generasi muslim bangsa Indonesia.

Konsumen game di sekeliling kita, menjadikan Indonesia sebagai negara pemasang aplikasi game online yang jumlahnya hingga tiga kali lipat dari tiga negara lain seperti Amerika Serikat, Meksiko, serta India. Secara industri, Indonesia merupakan ‘lahan subur’ bagi perkembangan aplikasi dan game mobile, khusunya e-sport yang tengah menjadi perbincangan hangat setelah disebut dalam debat pilpres yang lalu.

Perkembangan industri game, khususnya e-sport, menjadi industri yang sangat menggiurkan sebagaimana dikatakan Jokowi, “Di tahun 2017 perputarannya 11-12 triliun, per tahunnya tumbuh hingga 35%.” (www.idntimes.com)

Nilai yang menggiurkan tersebut menjadikan beliau berinisiatif untuk memfasilitasi pembangunan tol langit seperti Palapa Ring untuk menunjang permainan (e-sport) karena banyaknya keuntungan yang akan dihasilkan dari sana. Kemenpora pun berpendapat bahwa e-sport harus mulai masuk ke kurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda. CNN Indonesia juga memberitakan, Kemenpora sudah menganggarkan Rp. 50 miliar untuk menggelar kompetisi-kompetisi di level sekolah.

Mungkin hanya gamers yang akan mengerti pembicaraan tadi dan berkecimpung dalam industri game yang akan merasakan kesenangan atas berita di atas. Sedangkan yang lain, akan memberikan stigma negatif terhadap perkara game yang ternyata menjadi candu di negara kita tercinta.

Kaum awam yang belum mendengar kata e-sport, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu apa itu e-sport. E-sport merupakan akronim dari electronic sport yang menggunakan game sebagai bidang kompetitif utama sebagai cabang olahraga berbasis online. E-sport dianggap sebagai olahraga mental dan pikiran yang sama halnya dengan catur dan contact bridge, bahkan sudah direncanakan masuk dalam SEA Games 2019 dan pernah diperlombakan dalam Piala Presiden tahun 2017 lalu.

Terlihat sekali bahwa dunia sedang mengembangkan dunia games. Kompetitor bisnis tersebut menjadikan generasi muslim saat ini berfokus dalam menekuni keahliannya dalam bermain games. Para ibu akan mengeluh ketika anaknya hanya menekuni layarnya dalam memainkan sebuah game. Sedangkan anaknya, akan mencoba menunjukkan bahwa dengan games dapat memberikan penghasilan dan masa depan yang cerah.

Generasi muda akan semakin gencar ber-game ria, sang ibu pun akan semakin gencar menuntut anaknya untuk semakin fokus pada nilai sekolah. Menjadi hal yang membosankan bagi sang anak, karena menurut mereka tidak real hasilnya, hanya sebatas nilai tanpa materi mengiringi. Sedangkan e-sport tidak hanya melampiaskan hobi semata namun juga mampu memberikan materi bahkan dengan harga yang sangat tinggi.

Pemikiran tersebut menjadikan generasi muda saat ini lalai akan tugasnya sebagai generasi muslim yang harusnya mengkaji ilmu Islam demi memperbaiki kepribadiannya. Hidupnya hanya berfokus pada game hingga akhirnya addict dan mengarah pada kemunduran kepribadian yang berefek pada lemahnya kebangkitan Islam.

Semua itu terjadi tatkala pandangan hidup dari generasi muslim saat ini menjadikan materi sebagai faktor utama kesuksesan. Pandangan hidup generasi muslim saat ini dimunculkan dari hasil ‘didikan’ kapitalisme dalam pendidikan Indonesia saat ini. Terbukti bahwa pengajarannya tidak berasaskan pada akidah Islam melainkan menggunakan akidah sekulerisme atau pemisahan antara agama dengan kehidupan.

Akidah sekulerisme ini tidak akan melahirkan kebahagiaan bahkan menjadikan manusia semakin mundur dari peradaban yang diharapkan oleh Islam. Akidah ini membentuk generasi muslim saat ini menjadi korban kapitalisme. Membalut games dengan manisnya sehingga dianggap merupakan hal yang menguntungkan dan memberikan kebaikan.

Sebaliknya, bisa memberikan keburukan di dalamnya. Menjadikan generasi muslim saat ini ketergantungan pada game. Akibatnya, membuat generasi ini malas berpikir dalam mengurusi persoalan umat. Tentunya, peran kapitalisme menjadikan generasi muslim cenderung individualis yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri dan asik dengan dunianya.

Jika ingin dipaparkan keburukannya, sangat banyak dampaknya seperti dari segi kesehatan diantaranya menurunnya metabolisme tubuh, mengalami gangguan tidur, bahkan menurut WHO sendiri, kecanduan game bisa menjadikan seseorang mengalami gangguan mental.

Jelaslah saat ini, kapitalisme (industri game) memanfaatkan generasi saat ini sebagai pengais pundi-pundi rupiah bagi mereka. Maka, akankah kita menjadikan diri kita sebagai korban kapitalisme atau justru penentang sistem kapitalisme dan beralih memperjuangkan dinullah? Allahu’alam bis shawwab. [MO/ms]

Posting Komentar