Gambar: Ilustrasi
Oleh : Muliyanum

Mediaoposisi.com-Gemah ripah loh jinawi. Begitulah gambaran Indonesia dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah ruah. Indonesia memiliki SDA berlimpah termasuk batubara namun bukan untuk kepentingan rakyat karena dirampas oleh pengusaha yang dilegalkan penguasa.

Indonesia memiliki kekayaan mineral yang terbilang besar dibanding negara-negara lain di dunia. Emas, misalnya, kontribusi Indonesia sekitar 39 persen cadangan dunia, nomor dua di bawah China. ( KOMPAS.com )

"Orang akan lihat Indonesia segitu besar potensinya. Di mana negara kita cukup cantik di mata investor, companies," ujar praktisi eksplorasi Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Adi Maryonodi Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Tak hanya emas, lanjut Adi, mineral lain seperti perak, tembaga, nikel, dan batu bara pun melimpah di Indonesia. Volume hasil tambang itu pun dia sebut selalu masuk 10 besar dunia.

"Bisa dibilang ini kenapa Indonesia selalu terlihat kayak putri cantik yang siap dinikahi. Karena begitu kaya kita," kata Adi.

Adi mengatakan, penemuan tambang mineral baru selalu terjadi setiap tahun. Rasio kesuksesan eksplorasi tambang di Indonesia pun disebut cukup tinggi, yaitu sekitar 8 persen. Tak hanya skala besar, tambang skala kecil juga kerap muncul dari hasil eksplorasi sebelumnya.

Kekayaan akan sumber daya energi dan mineral di Indonesia tidak lepas dari kondisi geografis serta posisi Indonesia yang terletak di jalur gunung api dunia. Tidak hanya sebagai penunjang kehidupan, energi dan sumber daya mineral juga menjadi salah satu sektor utama dalam pembangunan bangsa. (newswantara)

Kekayaan sumber energi yang ada di seluruh penjuru nusantara menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk menjamin ketersediaan energi. Selain itu, perlunya akses terhadap energi yang dapat dijangkau sekaligus terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam dari pulau Sumatera hingga Papua. Potensi sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tentunya berbeda-beda. Selain kaya kualitas sumber daya alam, mineral Indonesia termasuk yang terbaik di dunia. Karena kekayaan alam sumber daya mineral belum dimanfaatkan secara maksimal, cadangan mineral di negeri ini pun berlimpah.

Sumber daya mineral cadangan terbagi menjadi dua yaitu cadangan terkira (probable reserve) yaitu sumber daya mineral yang terukur dengan tingkat keyakinan geologi masih rendah. Kedua, cadangan terbukti atau proved reserve adalah sumber daya mineral terukur berdasarkan studi faktor kelayakan tambang sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomik.

Berdasarkan data tahun 2015 dari Kementerian Energi Sumber Daya Alam dan Mineral, cadangan batubara Indonesia berlimpah dengan total cadangan 32 miliar ton yang terbukti sedangkan yang terkira mencapai angka 74 miliar ton.

Dua pulau di Indonesia yang memiliki kandungan batubara terbesar adalah Sumatera dan Kalimantan. Sumatera mempunyai 12 miliar ton untuk cadangan terbukti dan 55 miliar ton cadangan terkira. Kalimantan, cadangan batubara terbukti 19 miliar ton dan terkira 68 miliar ton. Selain batu bara, Indonesia masih menyimpan cadangan mineral lain.

Dari data Kementerian ESDM per Desember 2014, cadangan tembaga di Indonesia berlimpah yang terbukti 2 miliar tons ore dan terkira 18 miliar tons ore. Kemudian, cadangan terkira timah sebesar 3,9 miliar tons ore dan terbukti 1,3 miliar tons ore.

Selain itu, ada pula cadangan nikel terbukti 1,1 miliar tons ore dan 3,7 miliar tons ore cadangan terkira. Cadangan emas yang terbukti di Indonesia 2,8 miliar tons ore dan yang terkira ada 8,3 miliar tons ore. Indonesia masih menyimpan cadangan sebesar 151,33 triliun kaki kubik untuk gas bumi sedangkan cadangan minyak bumi di Indonesia ada 7,31 triliun barel.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil alam. Jika kekayaan sumber daya energi dan mineral di Indonesia ini dapat dikelola dan diolah dengan baik, tentunya mampu menjadi negara yang kaya raya dan mandiri.

Besarnya potensi energi dan sumber daya mineral di seluruh nusantara merupakan peluang bagi Indonesia untuk menjadi negara yang berdaulat energi. Kekayaan sumber daya energi dan mineral di Indonesia ini harus juga diimbangi dengan tata kelola yang optimal sehingga bisa menggerakkan pembangunan juga mengentaskan kemiskinan. Untuk itu kita harus mengeksploitasi potensi kekayaan yang kita miliki.

Potensi kekayaan sumber daya energi dan mineral di Indonesia merupakan sebuah anugerah yang harus dimaksimalkan secara optimal. Produktivitas energi yang menjadi tumpuan ketahanan energi juga harus didukung dengan penggunaan energi secara bijak dan bertanggung jawab.

Muhammad Choirul Anam menyatakan dalam bukunya yang berjudul ‘Cinta Indonesia Rindu Khilafah’. Ia menyatakan bahwa Indonesia merupakan negeri yang luas dan terdiri dari ribuan pulau. Luas wilayah teritorial indonesia sekitar 5 juta km. Sekitar 1,9 juta km berupa daratan sedangkan 3,1 juta km berubah lautan.

Jika ditambah dengan zona ekonomi eksklusif, luas wilayah Indonesia menjadi lebih dari 7,5 juta km dengan luas wilayah laut menjadi 5,8 juta km. Jika peta indonesia ditempelkan di peta Eropa maka panjangnya hampir sama. Indonesia membentang dari Inggris di bagian barat-nya, sampai ke Rusia di bagian timurnya.

Areal hutan Indonesia paling luas di dunia, tanahnya subur, alamnya indah, di laut terdapat potensi kekayaan laut luar biasa (ikan, mutiara, minyak dan mineral lain), di daerah terkandung potensi yang tidak kalah luar biasanya berupa emas, nikel, timah, tembaga, batubara, dan lain sebagainya. Di bawah perut bumi tersimpan gas dan minyak yang cukup besar.

Tentu saja, kekayaan yang melimpah merupakan karunia yang luar biasa. Namun, kekayaan yang melimpah tersebut juga dapat menjadi malapetaka yang tak kalah mengerikan. Dimanapun di dunia ini, kekayaan yang melimpah, termasuk di indonesia, akan selalu menjadi incaran bangsa asing penjajah dari dulu sampai sekarang.

Sekedar contoh, Tambang Grasberg yang terletak di Tembagapura memiliki cadangan 2.500 metrik ton, yang mengandung 1,13 persen tambang, 1,05 gram per ton emas, dan 3,8 gram per ton perak. Saat ini, dikuasai oleh PT. Freeport Indonesia (PTFI), sebuah perusahaan Amerika Serikat yang sudah beroperasi sejak penandatanganan Kontrak Karya (KK) pada tahun 1967. Diperkirakan, total pendapatan PTFI lebih dari 1800 Triliun.

Sementara, penguasaan asing dalam sektor migas juga tak kalah ngerinya. Menurut BKPM, model asing semakin dominan dibanding seluruh investasi dalam negeri. Investasi sektor minyak dan gas bumi misalnya, sebanyak 85,4 persen dari 137 konsesi pengelolaan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di indonesia dimiliki oleh perusahaan multinasional (asing). Perusahaan nasional hanya punya porsi sekitar 14,6 persen.

Data terbaru di BP Migas menyebutkan, hanya ada sekitar 20 perusahaan migas nasional yang mengelola lapangan migas di Indonesia. Penguasaan asing pada sektor-sektor lain, juga sangat luar biasa. Dapat dikatakan bahwa hampir semua sektor kekayaan alam kita sudah dikuasai oleh asing. Pengelolaan SDA dalam sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme dalam kendali korporasi yang merusak lingkungan dan menimbulkan penderitaan.

Saat ini, kemiskinan yang menimpa umat merupakan kemiskinan struktural/sistemik yaitu kemiskinan di yang diciptakan oleh sistem yang diberlakukan oleh negara/penguasa. Itulah sistem kapitalisme-liberalisme-sekulerisme. Sistem inilah yang telah membuat kekayaan milik rakyat dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang. Di negeri ini, telah lama terjadi privatisasi sektor publik seperti jalan tol, air, pertambangan gas, minyak bumi, dan mineral.

Akibatnya, jutaan rakyat terhalang untuk menikmati hak mereka atas sumber-sumber kekayaan tersebut yang sejatinya adalah milik mereka. Di sisi lain, rakyat seolah dibiarkan untuk hidup mandiri. Penguasa/negara lebih banyak berlepas tangan ketimbang menjamin kebutuhan hidup rakyatnya. Di bidang kesehatan, misalnya, rakyat diwajibkan membayar iuran BPJS setiap bulannya. Artinya, warga sendiri yang menjamin biaya kesehatan mereka, bukannya negara.

Inilah hasil dari penerapan sistem kapitalisme. Jadi, siapapun presidennya, selama yang diterapkan adalah kapitalis-demokrasi, semuanya tidak akan mengubah apa-apa. Dalam konteks global, di semua negara yang menganut kapitalisme-liberalisme-sekulerisme telah tercipta kemiskinan dan kesenjangan sosial. Karena itu, mustahil kemiskinan bisa diatasi bila dunia, termasuk negeri ini, masih menerapkan sistem yang rusak ini. Hari ini ada 61 orang terkaya telah menguasai 82% kekayaan dunia.

Di sisi lain, sebanyak 3,5 miliar orang miskin di dunia hanya memiliki aset kurang dari US$ 10 ribu. Oxfam internasional yang mereset data ini menyebut fenomena ini sebagai "gejala sistem ekonomi yang gagal!" (Tirto.id,22/01/2018).

Solusi Islam
Pengelolaan SDA dalam sistem Khilafah dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat. Karena itu, saatnya kita mencampakkan sistem selain islam yang telah terbukti mendatangkan musibah demi musibah kepada kita. Sudah saatnya, kita kembali kepada syariah islam yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Hanya syariah-Nyalah yang bisa menjamin keberkahan hidup manusia. Syariah akan menjadi rahmat bagi alam semesta beserta isinya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

"dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (An-Anbiya: 107)

Penerapan islam secara kaffah hanya bisa terwujud dalam bingkai Khilafah Islam. Sistem ini terbukti secara historis mampu membawa kemajuan peradaban manusia dan tanpa eksploitasi. Dalam sistem ini pula, nyaris tidak ada inflasi, sehingga perekonomian berjalan stabil. Lebih dari itu, penerapan syariah islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan adalah wujud ketakwaan yang hakiki kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Khilafah bukanlah sebuah pilihan yang ringan yang dapat direalisasi dengan masuk bilik suara. Khilafah butuh usaha ekstra untuk merealisasikannya. Tetapi, inilah satu-satunya pilihan yang ada dan yang terbaik, untuk menyelamatkan Indonesia pada khususnya, dan dunia pada umumnya. Wallahu a'lam Bishawab. [MO/ms]

Posting Komentar