Gambar : Ilustrasi
Oleh: Tri Wahyuningsih, S.Pi 
(Pegiat Literasi dan Media)

Mediaoposisi.com-Selama beberapa tahun terakhir, ancaman krisis air bersih melanda hampir seluruh wilayah di belahan dunia, salah satunya Indonesia. Indonesia memiliki luas total wilayah 7,81 juta km2 yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Indonesia merupakan suatu negara dengan luas perairan (laut) lebih besar daripada daratan sehingga disebut sebagai Negara Maritim, namun tak mampu terhindar dari masalah krisis air bersih.

Air merupakan hal pertama dan yang paling utama bagi kehidupan manusia. Tanpa air, manusia akan kelabakan bahkan bisa mati. Manusia memerlukan air dalam berbagai aktivitas semisal mandi, mencuci, masak, minum dan banyak hal lagi. Akan tetapi, saat ini kondisinya sangat miris akibat banyak warga di berbagai daerah kekurangan air bersih. Mereka harus bersusah payah untuk mendapatkan air bersih.

Masalah krisis air bersih menimpa wilayah Kota Jambi. Warga mulai kesulitan air bersih di saat cuaca panas memasuki musim kemarau di kota itu. Curah hujan yang menurun beberapa pekan terakhir menyebabkan ketersediaan air sumur warga terus berkurang. Kesulitan air bersih di kota tersebut sebagian besar dialami warga yang tinggal di dataran tinggi dan belum terjangkau jaringan pipa air dari PDAM.

Defri (48), warga rukun tetangga (RT) 25 Mayang Kelurahan Mayang Kecamatan Alambarajo Kota Jambi, kepada SP di Kota Jambi, Senin (25/3/2019) menjelaskan bahwa pasokan air sumur warga di permukiman mereka tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air bersih keluarga. Masalahnya, ketersediaan air sumur selama berkurangnya curah hujan dua pekan terakhir terus berkurang. (Beritasatu.com).

Krisis air merupakan puncak dari semua krisis sosial dan alam. Betapa tidak, air adalah hal yang paling utama bagi kehidupan manusia di planet bumi. "Ketersediaan air telah menurun secara drastis pada tingkat tidak berkesinambungan," ujar Dirjen UNESCO, Koichiro Matsuura, dalam sebuah kesempatan. Dua dekade mendatang, ketersediaan air akan menurun hingga sepertiga dari saat ini. Kerusakan lingkungan yang kian meluas membuat semua negara di dunia berada dalam ancaman. Tak akan ada bagian dari bumi ini yang terbebas dari krisis air. Ketahanan pangan dunia pun terancam, termasuk salah satunya Indonesia dan khususnya Jambi.

Kapitalisasi Sumber Daya Air Sebabkan Krisis Air Bersih 

Masalah krisis air bersih yang terjadi dalam kurun waktu belakangan ini sebenarnya tak bisa dilepaskan dari ulah tangan manusia, baik akibat pemanasan global, hilangnya daerah tangkapan air karena deforestasi (penghilangan hutan alam dengan cara penebangan hutan secara liar), Pencemaran sungai dan danau, kapitalisasi sumber daya air oleh perusahaan air kemasan dan lain sebagainya.

Tangan manusia yang mengatasnamakan pemerintah atau penguasa telah melakukan upaya privatisasi, liberalisasi, dan deregulasi terhadap air dengan dikeluarkannya undang-undang Sumber Daya Alam (UU SDA) yang memberikan wewenang kepada pihak swasta, baik asing maupun lokal untuk mengelola sumber daya air sehingga air tidak mudah didapatkan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2009, menunjukan industrialisasi air minum dalam kemasan pada lahan seluas 5,5 ha oleh 5 perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) telah menghilangkan wilayah tangkapan air (catchment area).

Selain itu, berdasarkan studi tentang sumber daya air tanah yang dilakukan oleh Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Departemen Energi, dan Sumber daya Mineral pada tahun 1998 di Desa Caringin tersebut menunjukkan terjadinya eksploitasi air bersih secara besar-besaran. Debit sumber air yang dieksploitasi oleh salah satu perusahaan AMDK di desa Caringin tersebut, yaitu PT Ega Tirta Kalista mencapai 200 liter per detik. Kemungkinan, 4 perusahaan AMDK yang lain juga memiliki debit yang hampir sama. Oleh karena itu, secara total debit air yang dieksploitasi oleh semua perusahaan AMDK pasti sangat tinggi.

Berapa banyak air yang dieksploitasi? Fantastis, dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat. Pada tahun 2009 total produksi AMDK 12,8 miliar liter, pada tahun 2010 meningkat menjadi 13,7 miliar liter dan tahun 2016, seiring perluasan pabrik dan hadirnya pabrik-pabrik baru di tanah air, produksi mengalami peningkatan menjadi sebesar 26,90 miliar liter. Dan eksploitasi sumber daya air ini terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia yang ada perusahaan air minum dalam kemasan. 

Bila ditelaah lebih mendalam, jual beli sumber daya alam termasuk air adalah hal lumrah terjadi. Privatisasi, Liberalisasi, dan Swastanisasi memiliki lahan subur dan lapang dalam sistem kehidupan sekuler, dengan konsep ekonomi Kapitalis serta politik demokrasi. Sistem kapitalis yang berasaskan materi dan manfaat, akan selalu berjalan dengan nama kepentingan untuk menghasilkan kekayaan.

Hal sekecil apapun akan dinilai materi dalam sistem kapitalis namun hanya untuk para kapital saja bukan untuk rakyat. Termasuk, dengan mendorong eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran dan tidak segan-segan merusak kelestarian lingkungan hingga menghilangkan nyawa manusia.

Sistem kapitalis adalah akar dari segala permasalahan yang terjadi saat ini, baik dalam urusan kelangkaan air bersih ataupun masalah umat lainnya. Dalam sistem ini, negara tidak memiliki kewajiban memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok, termasuk air. Justru sebaliknya model pemerintahan neoliberalisme, rezim sistem pemerintahan demokrasi justru menyokong upaya kapitalisasi sumber daya oleh asing dan aseng. Mereka enggan menghentikannya, bahkan menjadi fasilitator bagi kerusakan ini. Ujungnya, petaka lingkungan dan perubahan iklim.

Sungguh Allah SWT telah mengingatkan kita dalam QS Ar-Rum, 30:41 yang artinya,”Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Yaitu, kembali pada syariat Allah, yang dalam hal ini, mengatasi persoalan darurat kekeringan dan krisis air bersih. Sistem kehidupan Islam, Khilafah.

Sistem Islam Solusi Hakiki Krisis Air Bersih

Sistem kapitalis telah terbukti kerusakannya dalam penerapan, bukannya mampu menghilangkan kesengsaraan rakyat, justru sebaliknya, hanya menambah beban derita rakyat semata. Dan ini, berbanding terbalik dengan sistem Islam yang senantiasa membawa kesejahteraan karena asas yang digunakan dalam penerapannya jelas yakni berasaskan syariat dari sang pencipta yang maha mengetahui segalanya yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala.

Bukan hanya asasnya saja yang jelas, fungsi dari negara yang telah ditetapkan dalam sistem Islam pun rinci dan meliputi pengurusan seluruh aspek kehidupan rakyat, salah satunya fungsi negara menjamin kepemilikan. Dalam Islam, jelas kepemilikan telah dibagi menjadi 3 bagian yakni kepemilikan individu, umum, dan negara. Maka, Air termasuk milik umat, sebagaimana hadist Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, “Manusia berserikat dalam tiga perkara; dalam hal air, padang, dan api”

Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa air, yang merupakan hajat hidup orang banyak tidak boleh diberikan hak pengelolaannya kepada swasta, baik asing maupun lokal. Kebijakan pemerintah menyerahkan hak pengelolaan air kepada pihak swasta yang dilindungi UU SDA tentu saja menyalahi aturan Syara’. Alhasil, untuk mendapatkan air bersih, rakyat harus membeli. Padahal, tidak semua rakyat mampu membeli air.

Agar semua rakyat dapat menikmati air bersih tanpa harus membayar maka pengelolaannya harus dikembalikan kepada aturan Islam. “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu“. (QS. Al Maidah 49)


Wallahu'alam [MO/ms]

Posting Komentar