Gambar: Ilustrasi
Oleh: Shita Ummu Bisyarah

Mediaoposisi.com-Tanggal 17 April 2019, seluruh rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi. Mulai dari kalangan pejabat negeri, pengemis pinggir kali, intelektual ber-IQ tinggi, hingga orang gila tak berbudi memilih calon pemimpin yang menentukan masa depan negeri. Antusiasme rakyat terlihat sejak pagi tadi. Sudah banyak orang yang menuju TPS untuk memilih.

Dengan muka sumringah, menaruh berjuta harap kepada ke-2 calon pemimpin negeri demi membawa masa depan negeri yang pasti. Namun, ada juga beberapa orang yang memilih untuk tidak memilih alias Golput.

Golput juga sebuah pilihan namun bukan merupakan solusi. Dari lubuk hati yang terdalam, jujur
kami ingin memilih dan mencelupkan tinta di jemari kami sebagai tanda kami sudah menaruh
kepercayaan kepada seorang pemimpin. Namun siapa yang dipilih? Adakah kader partai yang
cendekia dan mau menerapkan hukum yang tak dibenci Allah azza wa jalla?

Mengganti UU kuffur warisan Belanda dengan aturan sang pencipta? Adakah orang yang peduli dengan rakyat, tak membebek kepada Barat serta amanah dalam berbuat? Bukan hanya janji yang dibuat tapi ujung-ujungnya membuat rakyat melarat dan sekarat? Rasa-rasanya, orang seperti itu sangat langka. Mereka tak diberi hak untuk bersuara. Mencalonkan diri pun mungkin bagai fatamorgana.

Dengan maraknya pemberitaan tentang Prabowo-Sandi yang cukup menyentuh hati umat Islam dan mengalir derasnya dukungan para ulama terhadap pasangan ini, tak dipungkiri membuat rakyat tak ingin golput. Mereka seolah memberi harapan baru kepada ‘kami’ sebagai sosok pemimpin muda yang sangat peduli dengan rakyatnya, semata-mata berjuang untuk kemaslahatan rakyat.

Benar… kami tak memungkiri hal itu namun apakah dengan beliau sebagai pemimpin akan merubah kondisi negeri ini? Saya bisa menjamin tidak. Sekali kali tidak akan bisa negeri ini menjadi negeri yang makmur karena bobroknya sistem yang diterapkan. Bagai pesawat bobrok yang dikendarai oleh pilot handal, maka bisa terjadi kecelakaan yang tak terelakkan.

Sistem kapitalisme ini adalah akar masalah yang mencarut-marutkan negeri ini. Membuat rakyat miskin semakin miskin sedangkan segelintir penguasa menjadi kaya-raya karena memang sistem meniscayakannya. Asas kebebasannya membuat orang dapat menguasai pulau, gunung, bahkan negara. Membeli apapun yang dia mau. Sedangkan rakyat hanya bisa menggelepar tak bersuara, suaranya sengaja dibungkam.

Sudah bukan rahasia lagi, bagaimanatah kejamnya dan tidak adilnya sistem buatan akal manusia ini. Tak hanya rakyat yang terzolimi namun juga bumi yang kian hari kian tercemar memberontak tak terkendali. Jadi, masalahnya bukan hanya bicara sosok “Prabowo” atau “Sandi”, tapi juga sistem apa yang menaungi.

Kami juga tak ingin golput karena golput memang bukan solusi. Walau sayup-sayup terdengar, “Jangan golput, nanti dia yang pro penjajah memimpin negeri ini.” Jangan golput karena itu hal sia-sia dan tak dewasa. Sejarah membuktikan, siapapun yang memimpin negeri tetap saja Indonesia semakin terpuruk.

Dari mulai negarawan, jenderal, ilmuwan, perempuan, ulama, bahkan rakyat biasa pernah memimpin negeri ini. Namun tetap saja seperti ini, bagai pesawat bobrok yang dijalankan pilot handal. Pesawat yang bobrok itu bagaikan kapitalisme yang menyamakan suara cendekia dengan suara orang gila.

Kami juga tak ingin golput karena golput memang bukan solusi. Namun, apakah pemilu adalah solusi? sayangnya tidak. Ingat, Afrika Selatan meninggalkan sistem apartheid, itu tanpa pemilu. Uni Soviet meninggalkan sistem komunisme, itu tanpa pemilu. Dan, Soeharto pada tahun 1998 mundur juga bukan karena pemilu. Sebaliknya, Aljazair atau Mesir ternyata juga gagal berubah meski pemilu dimenangkan.

Kami juga tak ingin golput karena golput memang bukan solusi. Kami lebih memilih untuk berdakwah menyampaikan solusi pasti, yakni Islam yang dirahmati yang akan menerapkan aturan sang pencipta manusia, langit, dan bumi. Kami memilih untuk meneladani Rasul yang kami cintai. Berdakwah untuk mengubah pribadi dan opini di suatu negeri. Hingga dari tangan orang-orang kuat yang akan menyerahkan kekuasaan tanpa syarat.

Karena kami takut ketika Tuhan kami bertanya akan pilihan kami. Memilih calon yang akan menerapkan aturan yang menentang aturan-Nya. Memilih calon yang bahkan tak akan mencium bau surga. Kami juga bertanya, “Kapan kelingking ini terkena tinta?” Bukan sembarang tinta, namun tinta tanda kita sudah menentukan imam kita, yakni Khalifah. Semoga tak lama lagi. Aamiin… [MO/ms]

Posting Komentar