Oleh: Arinta Kumala Verdiana
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-  Hajatan akbar demokrasi tinggal hitungan hari. Suhu politik kian panas. Masa kampanye terbuka menjadi arena pertarungan yang semakin sengit antara petahana dan oposisi. Bahkan kubu 01 yang merasa terancam dengan gemuruh dukungan yang mengarah ke paslon 02
mengeluarkan berbagai macam serangan ke arah lawan.

Yang baru-baru ini memanas di media sosial, Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin menyebut kelompok Alumni 212 sebagai gerakan politik Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal ini merespon undangan dari kubu 02 kepada Alumni 212 untuk hadir di kampanye akbar Prabowo-Sandi pada 7 April 2019.

Mengapa kubu petahana menyebut kelompok alumni 212 sebagai gerakan politik Prabowo-Sandi?. Hal ini bisa dianalisa sebagai berikut:

Pertama, kubu 01 paham benar bahwa gerakan alumni 212 adalah magnet kuat yang
mampu menyedot animo massa ke satu titik tertentu. Karena track record aksi 212 sejak muncul
tahun 2016, ataupun reuninya tahun 2017 dan 2018, gerakan ini mampu menyedot jutaan orang
dari berbagai wilayah di Indonesia.

Kedua, pernyataan Kubu Jokowi-Ma’ruf ini adalah bentuk kepanikan dan ketakutan bahwa gerakan 212 ini dengan semua alumni dan simpatisannya akan menjatuhkan pilihannya untuk kubu Prabowo-Sandi tanggal 17 April nanti. Dan tentu saja ini menjadi ancaman besar bagi kubu 01 untuk bisa mempertahankan kursi kekuasaan.

Ketiga, bukan tanpa alasan penyebutan kelompok alumni 212 sebagai gerakan politik Prabowo Sandi ini. Tapi pihak incumbent ingin membuat opini di masyarakat khususnya menyasar para alumni 212 dan simpatisannya agar tak mendukung kubu oposisi terlebih lagi tidak mencoblos paslon 01.

Keempat, kita tidak bisa menutup mata bahwa banyak kepentingan yang bermain dalam gerakan 212. Kehadiran Prabowo Subianto pada reuni 212 tahun 2018 tentu bukan tanpa sebab. Hingga akhirnya memberikan undangan pada PA 212 untuk hadir di kampanye akbar Prabowo-Sandi pada 7 April 2019.

Tentu kubu 02 tak ingin melewatkan kesempatan potensi adanya massa besar dari PA 212. Namun tidak bisa dipungkiri juga, banyak dari alumni 212 dan simpatisannya adalah orang-orang yang memang menginginkan kebangkitan Islam.

Yang berharap bahwa Islam akan diterapkan menjadi sebuah sistem kehidupan secara kaffah dalam naungan Khilafah. Mengingat setelah pemilu 17 April nanti pasti terpilih satu pemimpin negeri ini. Yang menjadi PR dari PA 212 termasuk kaum muslimin Indonesia -sebagaimana yang diungkapakan
Novel Bamukmin- adalah mengawal pemerintahan, terlepas dari siapapun yang terpilih di Pilpres
nanti.

Karena memang kaum muslimin punya kewajiban untuk muhasabah lil hukkam (mengkritisi penguasa). Selain itu, tentunya harus terus berjuang agar hukum-hukum Islam tertegak di bumi Allah secara kaffah. [MO/ra]

Posting Komentar