Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Subhanallah, kalimat teduh itu keluar dari lisan mulia. Ketika, sebagian besar 'ulama' berebut tulang dunia, berdesakan mendekati pintu-pintu istana, engkau mengambil pilihan sunyi untuk memastikan diri tetap bisa berkhalwat dengan Allah SWT, dan menyibukkan diri sebagai da'i pelayan umat.

Sebuah epos sejarah politik dan spiritual yang nyaris telah menjadi barang langka. Kekuasaan yang telah mendominasi agama, kekuasaan yang telah membimbing tinta ulama untuk menuliskan fatwa tentang dunia, ternyata tak mampu mendikte keikhlasan dan sikap kesahajaan.

Ustadz, meleleh air mata ini melihat keteguhan hati untuk tetap menyampaikan nasihat Al Haq dan menolak untuk berbuat zalim, kepada hamba yang Allah SWT akan pergilirkan kekuasaan. Ya, saya menemukan keikhlasan dan ketawadluan, pada pihak yang memberikan nasehat, juga merasakan keikhlasan dan kesahajaan pada pribadi yang menerima amanat nasehat.

Ya, kalimat itu terus menggema, menggaungkan suara berulang, 'Jangan Undang Ke Istana, Jangan Berikan Jabatan'. Subhanallah, kalimat langka yang keluar dari lisan mulia.

Kami, nyaris berputus asa mengayuh langkah untuk melempar sauh mencari naungan dan tambatan. Kami temui kebanyakan dari mereka yang mengaku ulama, tak lebih para pemburu dunia. Mereka, laksana anjing yang berburu dan berebut sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan.

Mereka telah menjual fatwa demi suara, bahkan menghukumi kami sebagai 'orang jahil' tanpa menunjukan dalil, hanya karena kami tak mengikuti pendapat mereka dalam urusan dunia. Ya, mereka bukan saja merendahkan kemuliaan ulama, bahkan mereka menjatuhkan Marwah agama.

Ustadz Abdul Shomad Rahimahulloh, kami akan mematri setiap kata dari kalimat nasehat yang engkau utarakan. Kami akan siap mendengar dan taat, untuk menjauhi istana kezaliman dan memberikan komitmen untuk agama dan siapapun yang membela agama ini.

Engkau merasakan apa yang kami rasakan, tentang kezaliman rezim ini, kesombongan mereka, aniaya mereka, pengkhianatan mereka pada agama dan negara. Kami, telah menunggu masa memanen buah perubahan yang lama kami semai.

Engkau mengetahui, kami hanya ingin mentaati agama ini, berjalan diatasnya, dan menyimpangi setiap seruan yang menentangnya. Kami telah mendapatkan bekal yang cukup, untuk menentukan sikap menuju 17 April 2019.

Ya Allah ya Rabbi, karuniai kami pemimpin yang adil, yang menyayangi umat ini, yang memuliakan ulama kami, yang memberikan hak-hak kami, dan mengadili siapapun yang melecehkan agama ini. Ya Allah, mudahkan urusan kami, untuk mengakhiri kezaliman rezim yang represif dan anti Islam ini. Kami, tidak ingin dipimpin pemimpin yang jelas jelas menentang agama dan mengabaikan hak-hak kami.

Kami telah membulatkan tekat, berazam kuat untuk mengakhiri segala bentuk kezaliman dan penindasan. Kami, telah berada pada barisan yang akan teguh mentaati fatwa ulama, fatwa ulama yang menyeru kepada kebajikan dunia dan akherat, yang menjadikan agama sebagai pedoman dalam menentukan pilihan.

Hasbunallah Wani'mal wakil Ni'mal Maula Wani'man Nashier. [MO/vp]

Posting Komentar