Oleh: Ir. Titi Hutami

Mediaoposisi.com-Sebelum debat capres (calon presiden) keempat berlangsung, Sabtu 30 Maret 2019, tersebar pernyataan dari mantan Kepala BIN AM Hendropriyono bahwa debat akan berlangsung antara capres pro pancasila dengan capres pro khilafah.

Capres pro pancasila tertuju pada capres petahana. Sementara capres paslon (pasangan calon) 02 dituding pro khilafah. Sepertinya sang mantan Kepala BIN mencoba memanfaatkan situsi menjelang debat yang salah satu materinya adalah ideologi.

Ini luar biasa. Ormas pengusung khilafah saja sudah dibubarkan oleh pemerintah. Tapi ide khilafah tetap menjadi cuitan. Walaupun cuitannya mengandung nada menakutkan terhadap ide khilafah. Sehingga paslon yang dituding pro khilafah merasa terpojok.

Klarifikasi pun segera dilakukan oleh paslon 02 saat debat berlangsung, dengan menyatakan bahwa dirinya tidak mengusung khilafah.

Tampak jelas adanya kesengajaan mengaruskan ide khilafah dengan nuansa negatif. Khilafah diopinikan sebagai penyebab perpecahan, akan menghilangkan NKRI,  bertentangan dengan pancasila, mensuriahkan Indonesia, dan opini negatif lainnya. Demikian pula pengusung khilafah diberi cap radikal, bahkan ada yang tega mensejajarkan dengan PKI.

Jelas-jelas dakwah khilafah lahir dari ketaatan pada Allah.  Sementara seruan terhadap PKI lahir dari kebencian terhadap agama. Karenanya pengusung khilafah terlihat santun. Sebaliknya,  pendukung PKI dikenal brutal.

Jadi, opini negatif terhadap khilafah hadir tanpa bukti. Takut yang disebarkan juga tanpa kejelasan faktanya. Bahkan opini ini seperti untuk menggiring umat Islam menjauhi ajaran Islam tentang kewajiban khilafah.

Tapi nampaknya saat ini umat Islam sudah lebih cerdas. Umat tidak nampak takut dengan ide khilafah. Ide khilafah dianggap sebagai ajaran Islam yang harus ditaati. Karena sekarang ini kecenderungan umat Islam di Indonesia sedang berusaha memperbaiki ketaatannya.

Terbukti, pada reuni 212 Desember lalu, umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia berbondong - bondong menuju Monas Jakarta, karena spirit ketaatan pada agamanya. Peserta yang hadir diperkirakan tidak kurang dari tujuh juta orang.

Pengorbanan  besar umat untuk hadir di Monas ini menggambarkan kesadaran umat terhadap agamanya semakin meningkat.

Apapun yang datang dari ajaran Islam diyakini membawa kebaikan dunia dan akhirat. Benar saja, umat merasakan indahnya persaudaraan Islam yang tulus selama acara reuni berlangsung.

Demikian pula halnya dengan ide khilafah, umat Islam Indonesia tidak meragukannya sebagai ajaran Islam. Umat juga percaya ada banyak kebaikan jika khilafah ditegakkan.

Kebaikan yang didapat umat Islam jika mewujudkan penerapan khilafah antara lain:
Pertama, khilafah menjamin penerapan ajaran Islam secara menyeluruh.

Sedangkan, sistem selain khilafah terbukti tidak dapat diharapkan untuk penerapan ajaran Islam secara menyeluruh.

Kedua, khilafah menyatukan umat Islam. Sungguh umat Islam akan merasakan persaudaraan yang nyata, bukan persaudaraan semu seperti saat ini.

Ketiga, khilafah menyelesaikan semua persoalan umat Islam. Saat ini banyak persoalan umat Islam yang sulit untuk diselesaikan.

Separti persoalan kemiskinan yang dirasakan sebagian besar umat Islam di dunia. Persoalan pendidikan dengan ketertinggalan pendidikan yang sangat mencolok di negeri - negeri Islam.

Persoalan ekonomi dengan kekayaan negeri - negeri Islam yang dinikmati bukan oleh anak negeri, tapi bangsa asing.

Persoalan tanah Palestina yang dikuasai Israel dan diperangi penduduknya setiap saat. Belum lagi persoalan muslim minoritas di beberapa negara yang teraniaya.

Semua persoalan itu saat ini seperti penderitaan yang berkepanjangan, tanpa jelas ujung penyelasaiannya. Hanya khilafah yang memiliki solusi tuntas semua persoalan itu.

Keempat, khilafah memajukan umat Islam. Peradaban awal ilmu pengetahuan dipegang oleh ulama - ulama Islam pada masa kekhilafahan.

Bahkan Barat merasa berhutang budi dengan pondasi pengetahuan yang sudah diletakkan oleh ilmuwan Islam pada masa itu, sehingga memudahkan kemajuan teknologi saat ini.

Jika khilafah tegak kembali tentu  akan mengulang fase melejitkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kembali.

Kelima, khilafah mnguatkan umat Islam. Jumlah tentara negeri - negeri Islam jika disatukan akan menjadi jumlah dan kekuatan yang tidak tertandingi.

Kebaikan-kebaikan tersebut pernah terbukti nyata pada era kegemilangan umat Islam selama lebih dari seribu tahun.

Menurut Prof. Dr. Fahmi Amhar,  era khilafah adalah era peradaban emas. Saat itu khilafah telah berhasil mengangkat peradaban umat Islam dengan cara meningkatkan  kualitas kehidupan,  baik dari sisi perlindungan (keamanan, keadilan), kesejahteraan (sandang,  pangan, papan,  kesehatan), maupun kecerdasan (pendidikan).

Di samping itu, khilafah berkontribusi menjadi penengah dalam berbagsi konflik yang terjadi antara negeri sesama non muslim.

Jadi, apa yang mendasari khilafah dianggap sebagai hal yang menakutkan bagi umat Islam di Indonesia atau negeri - negeri lain.

Jangan - jangan rasa takut disebarkan demi menjauhkan umat Islam dari era kebangkitannya kembali. Pelakunya tentu tidak menginginkan umat Islam hidup dengan ajaran Islam.

Pastinya, khilafah akan meruntuhkan kekuasaan yang membelenggu umat Islam saat ini, yakni kekuasaan new imperialisme. Hal ini sudah pasti tidak dinginkan pengusung kapitalisme dan komunisme beserta pendukungnya di negeri - negeri Islam.

Hal terpenting saat ini, biarkan saja orang - orang yang membenci khilafah terus berkoar-koar menghina Islam.

 Umat Islam harus tetap fakus pada persatuan dan upaya penegakan khilafah. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan melindungi umat ini.[MO/ad]

Posting Komentar