Oleh : Ade Noer Syahfitri 
(Aktivis Muslimah Jakarta Utara) 

Mediaoposisi.com-Nampaknya peristiwa penembakan di dua Masjid Christchurch yang menyebabkan 50 orang meninggal bukanlah akhir dari dampak Islamofobia.

Baru -  baru ini di Denmark terjadi pembakaran salinan Al-Qur’an oleh Rasmus Paludan yang merupakan pimpinan partai sayap kanan Denmark Stram Kurs,  sebagai bentuk protesnya atas sejumlah Muslim yang menunaikan Shalat Jumat di depan gedung parlemen negara tersebut.

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Pada tahun 1997, Runnymede Trust seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam dan oleh karena itu juga pada semua Muslim,"

dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa.

Di dalamnya juga ada persepsi bahwa Islam tidak mempunyai norma yang sesuai dengan budaya lain, lebih rendah dibanding budaya barat dan lebih berupa ideologi politik yang bengis daripada berupa suatu agama.

Islamofobia Menjangkit Kaum Muslimin 

Bukan hanya negara-negara yang mayoritas penduduknya kafir saja yang mengidap Islamofobia. Indonesia, yang sebagian besar penduduknya adalah seorang muslim pun tidak menjamin untuk terbebas dari Islamofobia.

Mulai dari menjauhi simbol-simbol Islam, takut dan benci terhadap ajaran dan aturan Islam. Mencampakkan Islam kaffah dan melabeli setiap pengembannya sebagai kelompok radikal ataupun teroris.

Islamofobia sengaja disebarkan oleh barat semata-mata untuk mengikis kepribadian seorang muslim yang khas menjadi muslim yang abu-abu dan tabu terhadap kebenaran.

Hingga akhirnya mereka kaum muslimin kehilangan identitas aslinya sebagai seorang muslim dan dibentuk sebagai agen dalam menyebarkan paham-paham barat yang merusak seperti Islam moderat dan gaya hidup liberal yang menyesatkan umat.

Mengemban pemikiran barat seolah kewajiban yang utama bagi mereka yang terjangkit Islamofobia dan sebaliknya mereka abaikan syariat Allah karena dirasa tidak relevan dengan jaman, kuno, dan tidak adil untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini.

Di dalam benak mereka pun ditanamkan rasa ketergantungan dengan kehidupan sekuler kapitalis sehingga tidak ada lagi ketundukkan terhadap sang Pencipta dalam memecahkan problematika umat.

Islamofobia dendam Barat sejak dahulu

“Perang Dingin antara Barat dengan Timur (komunis Uni Soviet) telah berakhir, tetapi timbul lagi pertarungan baru, yaitu pertarungan antara Dunia Barat dan Dunia Islam.” (Menteri Luar Negeri Italia menjelang persidangan NATO di London, Newsweek, 2 Juli 1990)

Islamofobia adalah alat yang digunakan barat untuk menghalangi Kebangkitan Islam. Dan alat ini hanya akan berfungsi di dalam sistem kehidupan sekuler yang berlaku saat ini.

Dengan mrmisahkan agama dari kehidupan yang membuat umat akhirnya berlepas diri dari aturan sang Pencipta. Semua itu dilakukan semata-mata hanya untuk memperkokoh hegemoni barat di dunia Islam.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dunia Barat pernah ditaklukan dibawah naungan Khilafah Islam selama berabad abad lamanya.

Akhirnya mentalitas barat sebagai kaum pembenci Islam pun terbentuk,  mereka melancarkan perang terhadap Islam atas dasar kebencian mereka.

Perang tersebut adalah Perang Salib yang terjadi di tahun 1096-1291 M yang ditujukan untuk menghancurkan umat Muslim dan Islam.

Namun sayangnya dalam perang ini mereka gagal melumpuhkan umat Islam. Dan ini membuat barat trauma dan semakin besar kebencian mereka terhadap Islam. Perang Salib pun dijadika fondasi pertama yang menentukan sikap barat terhadap Islam.

Sepanjang kekalahan barat dalam perang salib, mereka menyadari bahwa kaum muslimin menjadi kuat atas dasar aqidah dan persatuan mereka dibawah naungan Khilafah Islam.

Akhirnya barat pun mengatur strategi untuk menyerang kekuatan besar yang membentengi kaum muslimin tersebut meracuni kaum muslimin dengan paham-paham barat dan kebebasan, melakukan invasi misionaris ke negeri Syam dan mengahasut masyarakat disana,  melalui antek nya mereka berupaya memasukkan undang-undang barat.

Barat pun mengadu domba kaum muslimin dengan ide nasionalisme dan sentimen patriotik, hingga akhirnya pada tanggal 3 Maret 1924 pun daulah Khilafah Islam di Turki Utsmani pun runtuh.

Runtuhnya daulah tidak cukup bagi barat untuk mencengkram kaum muslimin karena mereka menyadari bahwa masih ada kaum muslimin yang tetap ingin berada dalam naungan Khilafah  dan tidak pernah berhenti berjuang untuk kembalinya Khilafah.

Maka bagi barat runtuhnya Khilafah saja tidak cukup bila tidak menghalangi tegaknya kembali Khilafah Islam yang berdasarkan manhaj nabi.

Berbagai propaganda pun mereka lakukan,  mereka tanamkan Sekulerisme dalam benak kaum muslimin, lalu dalam sistem pemerintahan mereka ajarkan demokrasi dimana aturan sang Pencipta ditandingi dengan hukum-hukum buatan manusia, menghadirkan antek dan penguasa boneka di dalamnya,  mendikte negeri-negeri Islam dengan undang-undang barat, dalam kehidupan dan budaya mereka pertontonkan budaya hidup ala barat yang liberal, dalam ekonomi mereka berupaya memeras kaum muslimin dengan sistem ekonomi kapitalis menjadikan kertas-kertas dolar mereka sebagai alat penjajah negeri-negeri muslim.

Tak hanya itu berbagai macam propaganda pun dilakukan dengan terorisme yang dtujukan pada kaum muslimin, monsterisasi Khilafah, menghadang siapa saja yang mengemban Islam kaffah,  mengelompokkan kaum muslimin denga label radikal, moderat dan tradisional sesuai keinginan mereka, dan akhirnya Islamofobia pun akan terus berlanjut baik bagi kaum kafir maupun kaum muslimin.

Mengakhiri Islamofobia hanya dengan Khilafah 

Sudah saatnya kita berpikir secara mendalam dan cemerlang,  menemukan solusi yang gemilang untuk kemenangan Islam dan untuk melepaskan cengkeraman barat yang menghadang  bangkitan Islam.

Kaum muslimin pernah jaya dan mulia dengan Khilafah Islam, dimana mereka terlepas dari belenggu perbudakkan manusia dan totalitas tunduk hanya kepada sang Pencipta.

Jangankan Islamofobia bahkan rasa takut dengan hadirnya orang-orang asing pun tidak mereka rasakan, karena mereka sudah merasa aman dengan Khilafah yang menjadi perisai mereka.

Maka berjuang demi tegakknya Khilafah Islam bukan lagi pilihan tetapi kewajiban yang harus dilakukan bagi mereka kaum muslimin.

Ingatkah kita  bagaimana kisah Bilal bin Rabah Ra, seorang budak yang ketika beliau masuk kedalam Islam, Allah muliakan beliau dan Allah jamin dengan surga-Nya? Yang dilakukan bilal hanya satu yaitu melepaskan belenggu perbudakkan manusia yang merantai dirinya dan menggantinya dengan totalitas menghamba kepada sang Pencipta.

Wahai kaum muslimin sadarlah bahwa tidak akan pernah kaum muslimin mendapatkan bagian di dunia ini selama Islam kita campakkan, selama kita masih bersombong dan untuk tunduk kepada Allah.

Sudah saatnya kita campakkan sistem kehidupan barat yang merusak,  sudahkah kita buta? Sudahkah kita tuli? Sudahkah hati kita terkunci? begitu banyak kerusakan di bumi ini bukan hanya alam tetapi manusia pu  menjadi korban atas kerusaka, begitu banyak jeritan saudara-saudara kita diluar memanggil dan mengharapkan kita untuk membalas para kafir barat penjajah tapi apa daya kita hanya bisa mengutuk.

Allah SWT berfirman:

اِنْ يَّنْصُرْكُمُ اللّٰهُ فَلَا غَا لِبَ لَـكُمْ ۚ وَاِ نْ يَّخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِيْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِهٖ ۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

"Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang beriman bertawakal."(QS. Ali 'Imran 3: Ayat
160)

Maka sudah seharusnya kita kembali kepada Allah,  bergantung kepada-Nya sebagaimana konsekuensi keimanan kita sebagai seorang muslim.

Mengembalikan ruh Islam pada setiap diri kaum muslimin dengan terus mendakwahkan islam kaffah, sehingga rasa takut dan alergi kaum muslimin terhadap simbol-simbol dan ajaran Islam tidak ada lagi.

Dan justru merekalah yaitu kaum muslimin yang akan menghentikan rasa takut tak beralasan terhadap Islam yang saat ini menyelimuti seluruh umat manusia.[MO/ad]

Posting Komentar