Gambar: Ilustrasi
Oleh: Evalasari, S. Pd.

Mediaoposisi.com-Islamfobia adalah ketakutan hingga menimbulkan kebencian terhadap Islam itu sendiri, baik ajaran-ajarannya ataupun simbol-simbolnya. Islamfobia kini terjadi di seluruh dunia, termasuk di negeri kita sendiri yaitu Indonesia. Miris rasanya melihat Indonesia adalah penduduk mayoritas Muslim namun terpengaruh Islamfobia.

Islamfobia tidak terjadi begitu saja melainkan sengaja diciptakan oleh mereka yang membenci Islam agar umat Islam takut kepada agamanya. Pencitraan-pencitraan yang buruk selalu disematkan kepada Islam hingga umat Islam sendiri takut untuk belajar Islam lebih dalam. Alhasil, banyak orang Islam sendiri yang tidak paham akan agamanya. Akibatnya, timbul penilaian terhadap orang-orang yang berkontribusi dan mencintai agama ini sebagai fundamentalis, radikal, anti kemajuan, anti Barat, anti NKRI, teroris, dan fitnah-fitnah yang lainnya.

Islamfobia ini terus menerus bergulir sampai hari ini. Mungkinkah Islamfobia ini akan terhenti? Pada saat ini, mungkin pertanyaan itu hanya akan menjadi harapan karena berharap kepada sistem saat ini hanya menjadi angan-angan dan melukai hati umat saja. Sekulerisme yang sudah menancap, membuat Islam semakin terpuruk. Islamfobia ini hanya bisa terselesaikan ketika diterapkannya Islam secara kaafah (menyeluruh) dalam setiap aspek kehidupan baik pribadi, masyarakat, maupun bernegara. Karena, sistem Islam berasal dari wahyu Allah yang membawa rahmat untuk seluruh alam.

Bukti sejarah penerapan Islam secara kaafah dalam bingkai Khilafah selama 13 abad lamanya adalah bukti yang nyata karena Islam ketika itu mengayomi semua agama dan ras hingga tak ada xenofobia (takut keberadaan orang asing). Di dalam Khilafah, tidak hanya orang-orang Islam saja yang hidup di sana tetapi berbagai agama hidup di sana dengan aman, bahkan mereka dilindungi keberadaannya asalkan tunduk pada aturan Islam. Mereka bebas menjalankan ibadah mereka karena tidak ada paksaan untuk masuk ke dalam agama Islam.

Seperti kisah ketika Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Umar didatangi seorang Yahudi yang terkena penggusuran oleh seorang Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash, yang bermaksud memperluas bangunan sebuah masjid. Meski mendapatkan ganti rugi yang pantas, sang Yahudi menolak penggusuran tersebut. Ia datang ke Madinah untuk mengadukan permasalahan tersebut pada Khalifah Umar.

Seusai mendengar ceritanya, Umar mengambil sebuah tulang unta dan menorehkan dua garis yang berpotongan satu garis horizontal dan satu garis lainnya vertikal. Umar lalu menyerahkan tulang itu pada sang Yahudi dan memintanya untuk memberikannya pada Amr bin ‘Ash. “Bawalah tulang ini dan berikan kepada gubernurmu, katakan bahwa aku yang mengirimnya untuknya.” Meski tidak memahami maksud Umar, sang Yahudi menyampaikan tulang tersebut kepada Amr sesuai pesan beliau. Wajah ‘Amr pucat pasi saat menerima kiriman yang tak terduga itu. Saat itu pula, ia mengembalikan rumah Yahudi yang digusurnya.

Terheran-heran, sang Yahudi bertanya pada Amr bin ‘Ash yang terlihat begitu mudah mengembalikan rumahnya setelah menerima tulang yang dikirim oleh Umar. Amr menjawab, “Ini adalah peringatan dari Umar bin Khattab agar aku selalu berlaku lurus (adil) seperti garis vertikal pada tulang ini. Jika aku tidak bertindak lurus maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horizontal di tulang ini.”

Kisah-kisah sejarah kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat menunjukkan, betapa ajaran Islam menganjurkan perlakuan yang arif dan bijaksana terhadap pemeluk agama lain. Tidak seperti Islamfobia yang dituduhkan sekarang ini. Untuk itu, solusinya tidak lain hanyalah satu, yaitu menerapkan Islam secara kaafah. [MO/ms]

Posting Komentar