Oleh: Elis Sondari
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Islamofobia terjadi lagi dan lagi. Baru-baru ini diberitakan diluar negeri yaitu Seorang pria bersenjatakan palu godam diperkirakan merusak empat masjid di kota Birmingham, Inggris, dalam aksi beruntun pada Kamis dini hari (21/03).

Laporan pertama di terima kepolisian West Midlands, yang membawahi Birmingham dan sekitarnya, pada pukul 02:30 tentang seorang laki-laki yang menghancurkan jendela masjid dengan palu godam di Birchfield Road.

Dan setelah kejadian itu sekitar 45 menit kemudian, polisi menerima laporan kedua terkait adanya serangan serupa di masjid yang berlokasi di Slade Road, Erdington. Dua serangan serupa terjadi di masjid yang berada di Aston dan Perry Barr.

Pengrusakan empat masjid di Birmingham tersebut terjadi seminggu setelah penembakan dia dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, yang menyebabkan 50 orang meninggal dunia, termasuk warga Indonesia.

Tidak hanya berita tersebut tetapi ada lagi Islamofobia lainnya yaitu Dilaporkan laman Anadolu Agency, sejumlah Muslim di Denmark menggelar aksi solidaritas untuk para korban penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, pekan lalu. Mereka berkumpul dan sempat menunaikan Shalat Jumat di muka gedung parlemen Denmark.

Namun aksi itu diprovokasi kelompok sayap kanan ekstrem Denmark. Mereka mendatangi lokasi tempat para Muslim menunaikan shalat sambil membawa bendera Israel.

Rasmus Paludan, yang juga berupaya menghasut, kemudian membakar salinan Alquran.Partai Paludan, yakni Stram Kurs, memang dikenal sebagai partai anti-imigran dan anti-Muslim.

Islamofobia terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia memang sengaja diciptakan untuk menebar ketakutan terhadap simbol Islam dan ajaran Islam.

Islamofobia hanya bisa dihentikan bila Islam diterapkan secara kaafah karena Islam berasal dari wahyu Allah yg membawa rahmat atas sekalian alam dan hukum yangfitrah-menentramkan-membawa damai.

Bukti sejarah penerapan Khilafah yang meniscayakan Khalifah mengayomi semua agama dan ras, hingga tak ada xenofobia (takut keberadaan orang asing)

Dalam perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad saw dan para Khalifah setelahnya pun tak pernah membeda-bedakan kaum muslim karena tempat tinggal mereka.

Semua bersatu dalam satu akidah, yakni akidah Islam. Begitupun terhadap kaum minoritas di wilayah kekhilafahan. Suku, etnis, atau agama-agama yang bernaung dalam Negara Khilafah tak pernah sekalipun mendapat tindakan diskriminasi.

Sejarah telah mencatat bagaimana Negara Khilafah telah menyelamatkan 150.000 orang Yahudi saat konflik memanas di Liberia.

Pada tahun 1492, Spanyol telah membuat kebijakan membantai dan mengusir orang-orang Muslim dan Yahudi di wilayah mereka. Ketika Sultan Bayazid II mendapatkan kabar tersebut, Sultan mengirimkan angkatan lautnya di bawah pimpinan Laksamana Kemail Reis.

Padahal di tahun itu Kekhilafahan dalam posisi sulit, yakni harus mengahadapi berbagai pemberontakan dan perlawanan, dari internal dan eksternal daulah.Sultan Bayazid II saat itu tidak hanya menyelamatkan saudara seiman.

Pasukan Islam juga menyelamatkan orang-orang Yahudi yang terusir. Lebih dari 150.000 orang-orang Yahudi dibawa menuju wilayah Turki Utsmani yang aman untuk mereka.

Kemudian mengirimkan surat perintah ke seluruh wilayahnya bahwa para pengungsi harus disambut dengan terbuka.

Mereka hidup dengan damai dan aman serta bebas melakukan perdagangan dan memiliki rumah atau tanah sendiri selayaknya warga Negara lain yang telah lama hidup di bawah naungan Khilafah.

Demikianlah salah satu bukti bagaimana Khilafah sangat melindungi kaum muslim, bahkan kaum manapun yang tertindas. Khilafah tak melihat sisi tempat tinggal atau etnis manapun. Khilafah mengayomi semua kaum muslim karena ikatan akidah Islam bukan yang lainnya.[MO/ad]

Posting Komentar