Gambar: Ilustrasi
Oleh: Anjar Rositawati S.Pd

Mediaoposisi.com-Pernahkah kita melihat atau mendapatkan berita seorang pejabat yang terlihat sholeh dan baik? Tetapi, tersandung atau terjerat kasus korupsi. Masalah yang serupa banyak terjadi di sekitar kita. Begitu banyak orang yang rajin shalatnya, lima waktu tidak pernah ditinggal.

Zakat dan sedekah tidak pernah terlupakan bahkan sampai naik Haji pun juga sudah ditunaikan. Lengkap sudah rukun Islam yang dilaksanakan. Tetapi, memakai hijab juga masih separuh hati dikerjakan, kadang pakai dan kadang tidak. Sesuai dengan momennya katanya.

Bermuamalah masih terkait dengan riba dan sering tidak memandang soal halal dan haram dalam setiap langkah kehidupannya demi mengejar dunia.  Seolah-olah, tidak ada “ruang” yang bernama agama untuk ikut campur dalam setiap perbuatannya.

Bagaikan orang yang berkepribadian ganda, satu sisi ia melakukan amal baik namun pada waktu yang sama juga melakukan amal buruk. Menganggap bahwa jika sudah mengenai urusan duniawi, agama tidak perlu ikut campur. Contoh sebuah kasus yang menimpa seorang ketum salah satu partai yang belum lama terjadi. Rasanya bila dilihat secara sepintas lalu tidak ada yang meragukan akan identitasnya sebagai seorang muslim yang taat.

Tetapi ternyata, malah tertangkap tangan terlibat kasus jual beli jabatan. Belum lagi berita mengenai keterlibatan seorang gubernur yang terlihat sangat ‘alim karena diketahui beliau seorang hafidz quran tapi sayangnya tersandung kasus korupsi. Masih banyak lagi kejadian yang mengungkapkan bagaimana kacaunya kepribadian seseorang ketika menempatkan Islam hanya sebagai agama spiritual.

Apa sebenarnya yang melatarbelakangi seorang muslim menjadi demikian? Hanya menganggap bahwa Islam sekedar agama spiritual yang akhirnya tidak berbeda dengan agama-agama yang lain. Padahal, jika kita mau melihat jauh ke belakang, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah meninggalkan sedikitpun aturan Islam dalam setiap aktifitasnya. Baik aktifitas pribadi sebagai seorang suami dan ayah maupun aktifitas publik beliau sebagai seorang pemimpin dan negarawan.

Tidak ada satupun referensi yang menuliskan atau menceritakan jika kehidupan Rasulullah tidak bersandarkan aturan Islam. Dan hal tersebut juga dilakukan oleh para sahabat yang meneruskan kepemimpinan Islam dalam bingkai kekhalifahan. Semua undang-undang dan aturan yang diberlakukan pada saat itu hanyalah dari Allah dan rasul-Nya, bukan yang lain.

Terpisahnya Islam sebagai aturan hidup yang menjadikan muslim dan muslimah saat ini bagaikan mempunyai kepribadian ganda atau “split personality”. Menjadikan seorang muslim atau muslimah mudah untuk meniadakan kehadiran Allah, mengabaikan-Nya. Ditambah lagi, dengan kondisi lingkungan sosial juga aturan yang berlaku tidak kondusif. Sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan yang sejatinya membuat seorang muslim tidak lagi takut kepada sang Khaliq.

Mereka hanya menempatkan Allah sebagai Tuhan yang patut disembah ketika beribadah saja setelah selesai dengan mudahnya mereka melupakan. Mereka lupa bahwa Allah bukan hanya sebagai Pencipta atau Al Khaliq tetapi juga sebagai Al Mudabbir atau pengatur kehidupan ini.

Dengan gamblangnya Allah mengatakan dalam kalam-Nya. Di dalam Quran surat Al Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sudah sempurna dari sejak masa Nabi Muhammad sampai akhir zaman. Tidak lagi memerlukan tambahan apalagi revisi ajaran. Dengan kata lain, Islam sudah sempurna sejak diturunkannya dan bentuk dari kesempurnaan Islam adalah mengatur segala aspek kehidupan.

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat Allah yang terbesar bagi umat ini. Allah Subhanahu wa ta’ala menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak butuh kepada agama yang lain dan Nabi lain selain Nabi mereka. Karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan beliau Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia. Tiada yang halal kecuali apa yang ia halalkan, tiada yang haram kecuali apa yang ia haramkan dan tiada agama kecuali yang ia syariatkan. Segala sesuatu yang ia kabarkan adalah benar, jujur tiada kedustaan, dan tiada penyelewengan padanya.” 

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Barangsiapa yang beranggapan bahwa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salammenyembunyikan sesuatu yang telah Allah turunkan, sungguh ia telah berdusta besar terhadap Allah. Padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti), kamu tidak meyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al-Maidah: 67).

Abu Dzar radhiyallahu 'anhu bersaksi, “Rasulullah benar-benar telah meninggalkan kami dalam keadaan tidak seekor burung pun yang membalikkan kedua sayapnya di langit kecuali beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kepada kami ilmu darinya.”

Dengan demikian, Islam ini telah sempurna, tidak membutuhkan tambahan, pengurangan, atau perubahan dari siapapun. Barangsiapa menganggap Islam perlu ditambah berarti ia menganggapnya belum sempurna. Dan yang menganggap Islam perlu dikurangi berarti ia berupaya meruntuhkan kesempurnaan Islam. Juga, barangsiapa yang ingin mengubahnya, itu artinya sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap Islam itu sendiri. 

Hasan al-Banna mengatakan, “Al-Islam dinun syamilun yatanawalu mazhahir al-hayah jami’an; al-Islamu dinun wa dawlatun” (Islam adalah agama komprehensif, mencakup semua aspek kehidupan; Islam adalah agama dan Negara).

Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab yang ditulisnya yang berjudul Nidzhomul Islam, juga memaparkan bahwa Islam adalah akidah dan peraturan (syariat). Seperti yang sudah dipahami bahwa akidah adalah yang tercakup dalam rukun iman sedangkan yang dimaksud dengan peraturan Islam adalah hukum-hukun syariat yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Jadi, jelas sekali pemisahan antara agama dan kehidupan yang disebut dengan sekulerisme. Inilah yang menjadi akidah bagi mabda kapitalis sekaligus menjadi asas peradaban barat. Hal ini pula yang menjadi qiyadah fikriyah (kepemimpinan berfikir) yang dipropagandakan imperialis barat keseluruh dunia.

Tidak henti-hentinya mereka ingin memadamkan cahaya Islam dengan berbagai macam cara. Apakah mereka akan berhasil? Tentu tidak akan berhasil jika kita selalu berpegang teguh kepada agama Allah ini. Wallahu ‘alam [MO/ms]

Posting Komentar