Oleh: Rofi Wahyulina

Mediaoposisi.com-Pada debat capres keempat, ideologi, pemerintahan, pertahanan, dan hubungan internasional menjadi tema yang seru untuk dibahas. Sumber daya alam di Indonesia sangat kaya, namun sayangnya tidak berbanding lurus dengan keadaan ekonomi penduduknya.

Pemerintah merasa kurang modal untuk mengelola pembangunan infrastruktur dan sumber daya alam. Sehingga mengundang para investor asing agar menginvestasikan modalnya.

Bak menelan buah simalakama. Banyaknya investasi asing tersebut, berdampak jangka panjang bagi negeri ini. Pemerintahan tidak mandiri dan independen, sebab terikat kepentingan dengan asing.

Hal ini dapat dilihat pada kasus muslim Uighur, yang dalam menentukan sikap pemerintah Indonesia dipengaruhi oleh China yang notabene sudah menginvestasikan banyak dana.

Selain itu, kesejahteraan bak fatamorgana. Adanya asing yang ikut mengelola SDA, justru membuat rakyat makin sengsara. Sebut saja Freeport, berapa truk emas yang dibawa ke negara asalnya?

Sedangkan rakyat Indonesia yang bermukim di sekitar pertambangan tersebut hanya mampu menadah emas di sungai yang tak lain limbah sisa industri tersebut.

Jika mau membuka mata, sistem kapitalisme membuat rakyat menderita. Kekayaan tertimbun di gudang pemilik modal.

Padahal sudah jelas ada sistem lain yang berkali ganda lebih sempurna dibanding kapitalisme. Yaitu, sistem Islam. Dalam pengaturan ekonominya, investasi asing tidak diperbolehkan dalam kepemilikan umum yang meliputi : air, hutan, api, fasilitas umum, dan hasil tambang.

Pengelolaan bidang-bidang tersebut dilakukan oleh negara. Jika aspek-aspek tersebut sudah dikelola dengan benar oleh pemerintah Islam, maka tidak akan ada istilah 'kekurangan modal' dan membutuhkan kewujudan investor asing.[MO/ad]

Posting Komentar