Oleh: Mahida Muafika

(Mahasiswa UM)

Mediaoposisi.com-Di Indonesia kini berkembang pesat teknologi, khususnya dalam dunia e-sport. Sesuatu yang dulu sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang, kini telah makin diperhitungkan.  

Dunia e-sport  sekarang tidak terpaku hanya sebatas game-game di komputer, namun sudah merambah ke game-game di smartphone juga. Game HP yang biasanya dianggap sebagian orang hanya untuk mengisi waktu luang, kini banyak ditekuni sebagai profesi.

Berdasarkan data yang dihimpun KompasTekno dari situs eSport internasioal newzoo.com, Indonesia memiliki 43,7 juta pemain game yang menghabiskan 880 juta dollar AS (sekitar Rp 11 miliar) untuk bermain game. Total ini membuat Indonesa menduduki peringkat ke-16 negara dengan pendapatan dari game terbesar di dunia. Sebesar 56 persen di antaranya merupakan gamer laki-laki yang menggunakan PC/laptop, dengan rentang usia 10-50 tahun. Sementara 44 persen sisanya adalah gamer perempuan dengan usia 10-50 tahun (kompas.com).

E-sport juga menjadi pambahasan dalam debat calon presiden dan wakil presiden  Indonesia tahun 2019. Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga (Mempora) Imam Nahrawi berpendapat e-sport  harus mulai masuk ke kurikulum pendidikan untuk mengakomodasi bakat-bakat muda. Selain itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyebut sudah menganggarkan Rp50 miliar untuk menggelar kompetisi-kompetisi di level sekolah. Tentu saja, hal ini pun memicu pro kontra di tengah masyarakat.

Terdapat pula berita bahwa sepuluh anak di Banyumas didiagnosa mengalami gangguan mental akibat kecanduan bermain game online sepanjang tahun 2018. Mereka mendapat terapi di RSUD Banyumas, 7 dari 10 anak itu merupakan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) (merdeka.com). Bahkan terdapat beberapa kasus di Indonesia akibat kecanduan online yaitu kelumpuhan, stroke hingga kematian.

Haruskah Generasi Muda Terpapar oleh Games Online?

Sebagian pihak/masyarakat menilai bahwa game online ini hanya memberikan mudharat atau keburukan pada generasi muda saat ini.  Sudah jamak diketahui bahwa bermain games bisa menimbulkan kecanduan atau ketagihan (adiksi).  Siapa saja yang pernah memainkan satu permainan, ia pun akan memilik keinginan atau paling tidak angan-angan untuk melakukan lagi permainan tersebut. Sebagaimana kasus di Banyumas karena kecanduan game online harus mengalami gangguan mental bahkan kematian.

Melihat fenomena ini, membuat kita bertanya-tanya, mengapa itu semua bisa terjadi? Itu semua terjadi karena negara Indonesia tidak bertanggung jawab melindungi generasi dari kerusakan media "game online" dengan memfasilitasi sarana tekhnologi bahkan menjadi ajang lomba. Bagaimana hukum asal game online ini? Apakah memang boleh diberikan kepada generasi muda saat ini atau malah sebaliknya?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga yang memberikan payung hukum mengenai hukum Islam yang diterapkan di Indonesia, memberikan satu wacana untuk mengeluarkan fatwa mengenai keharaman dari permainan online ini.  Game atau permainan sesungguhnya adalah bagian dari sarana hiburan dan sarana melepas lelah (Arab: al-lahwu wa al-tarwîh). Hukum asal dari game komputer atau game online adalah boleh. Hal itu sesuai dengan kaidah fikih:
الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَةُ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيْلُ عَلَي تَحْرِيْمِهِ
Artinya: “Hukum asal segala sesuatu adalah mubah, kecuali setelah ada dalil yang mengharamkannya”.

Game atau permainan menjadi haram ketika ada unsur-unsur haram di dalamnya, sehingga pada hakikatnya, permainan games online ini merupakan satu perbuatan yang mubah atau boleh dilakukan. Karena memang hukum perbuatan itu mubah sampai ada dalil yang melarang atau mewajibkannya.

Bagaimana seharusnya?

Islam sebagai satu agama yang sempurna dan komprehensif tentu smemiliki aturan atas segala macam bentuk persoalan yang dihadapi oleh manusia.  Mengenai games online ini, tentu saja kita harus melihat bagaimana seharusnya generasi muda kita memanfaatkan waktu luang mereka.

Generasi muda diharapkan mampu untuk menjadi generasi yang siap untuk memimpin. Ia pun harus dilengkapi dengan banyak bekal, selain aqidah yang kuat dan keterikatan pada syariat Islam yang kokok, generasi muda juga harus dibekali dengan berbagai macam lifeskills yang kelak akan dibutuhkan saat terjun ke masyarakat secara langsung.Generasi muda terdahulu tentu sangat konsen terhadap hal ini. Mereka mempergunakan masa luang mereka untuk belajar, belajar dan belajar. Serta mendekat dengan Al Quran untuk siap menjadi ahlu Quran.

Bertolak belakang dengan keadaan generasi muda kita saat ini. Al Quran bukanlah satu hal yang begitu dekat dengan mereka. Keberadaan gadget dengan akses ke media sosial, vlog dan bahkan games online sudah semakin menjauhkan mereka dari Islam dan Al Quran. Bagaimana bisa mereka diharapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan jika mereka tak memiliki bekal apapun. Masa depan generasi dan peradaban yang di tangan mereka akan menjadi sangat suram.

Jika perbuatan itu menghantarkan pada lahwun atau hal yang melenakan, bahkan sampai melupakan kewajiban yang lainnya, tentu saja sangat pantas untuk meninggalkan perbuatan tersebut. Masih banyak perbuatan bernilai yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang. Jangan sampai terlena dengan perbuatan mubah yang melalaikan pada hal-hal yang wajib dan sunnah

Peran negara dalam Islam (khilafah) sangat startegis untuk menjauhkan generasi dari tindakan  yang membahayakan, seperti adiksi games online.  Tak kan pernah ada kebijakan dari penguasa yang justru mengabaikan pertimbangan masa depan generasi dengan mendorong industri games online dan menggeber kompetis. 

Apalagi sampai masuk kurikulum sekolah.  Walau pun bisa jadi hal itu akan menguntungkan secara finansial.   Pendidikan  harus diadakan demi membentuk dan menyiapkan generasi yang siap menyongsong masa depan.  Siap untuk memimpin umat agar bisa mengemban misi Islam, menyebarkan risalah ke seluruh penjuru dunia.  Generasi seperti ini takkan terwujud jika dia sibuk bermain games dan negara yang abai seperti saat ini.

Sungguh bahaya ini harus segera disadari, tidak hanya   oleh orangtua, masyarakat, tapi juga negara sebagai penentu kebijakan dan pelindung rakyat.  

Karena Nabi  Saw telah bersabda :   Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).[MO/vp]

Posting Komentar