Oleh : Syifa Nurfauziyah

Mediaoposisi.com-Islamofobia ialah sebutan bagi mereka yang merasa terancam akan keberadaan Islam sehingga timbul rasa kebencian tak mendasar. Ini merupakan salah satu alat yang dipergunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menyerang kaum muslimin. Virus pemahamanan seperti ini dikembangkan dan disebarluaskan secara masif terutama di negara-negara dimana Islam menjadi agama minoritas. Salah satu tujuan mereka ialah menyebarkan kebencian sehingga timbul rasa tidak aman dan ketakutan di kalangan kaum muslim untuk menunjukkan identitasnya.

Berbagai macam penindasan telah didapatkan oleh kaum muslimin diberbagai belahan dunia.  Kasus yang baru-baru ini terjadi sebagaimana dikutip dari republika.co.id dan media lainnya, telah terjadi aksi terorisme di Masjid An-Noor dan Masjid Linwood, Christchurch, Selandia Baru.  Kaum muslim yang saat itu tengah menunaikan sholat Jum’at diserang oleh seorang berkebangsaan Australia dengan senapan otomatis, tercatat 50 muslim tewas. Seminggu setelahnya, terjadi pula kasus pembantaian di Mali dengan jumlah korban sebanyak 157 orang.

Kejadian-kejadian tersebut hanya sebagian dari banyaknya peristiwa yang menunjukkan bahwa islamofobia benar-benar marak dikampanyekan di seluruh dunia. Bukan hanya negara minoritas muslim, bahkan di negara dengan mayoritas penduduk muslim pun paham ini gencar disebarkan termasuk Indonesia. Ironisnya, virus ini justru secara tidak sadar menjangkit kaum muslimin sendiri.

Di Indonesia, islamofobia disebarkan melalui slogan-slogan yang menolak penerapan hukum Islam. Umat Islam dibuat anti terhadap ajaran agamanya sendiri. Berbagai isu negatif dimunculkan agar masyarakat jauh dari agama Islam dan melepas simbol-simbol ajaran yang dianggap tidak sesuai dengan NKRI. Kelompok-kelompok yang menyuarakan penegakan Syariah Islam justru disebut sebagai ekstrimis, radikal, intoleran, dan anti Pancasila. Dengan berbagai penolakan tersebut secara tidak sadar virus islamofobia tengah menjangkit sebagian besar penduduk Indonesia, termasuk umat Islam sendiri.

Salah satu contoh yang mengindikasikan islamofobia telah menyebar di tengah-tengah masyarakat ialah peristiwa pembakaran bendera tauhid. Pembakaran tersebut dilakukan oleh oknum Barisan Ansor Serbaguna Nahdatul Ulama (Banser NU) di Garut bertepatan dengan Hari Santri Nasional bulan Oktober 2018 lalu. Kejadian itu menunjukkan bahwa umat Islam sudah anti terhadap simbol agamanya sendiri. Belum lagi banyak pergerakan dan orasi-orasi yang menolak ajaran Khilafah. Padahal sudah jelas bahwa Khilafah merupakan ajaran Islam dan dipraktekan langsung oleh Rasulullah. Situasi ini cukup dipertanyakan ketika umat Islam  sendiri menentang ajaran khilafah sedangkan mereka lebih memilih untuk menggunakan sistem di luar Islam. Semua ini terjadi karena arus sekulerisme sudah menjamur yaitu pemisahan urusan pribadi dengan urusan bernegara. Pemisahan ini menempatkan Islam hanya sebagai agama yang mengatur urusan beribadah saja.

Untuk melawan gencarnya kampanye Islamofobia serta bahayanya arus sekulerisme dan sistem kapitalis, dakwah Islam pun harus terus dimasifkan. Hal tersebut dikarenakan kejahatan terstruktur hanya bisa dilawan oleh kebaikan yang terstrukur pula. Dengan memahamkan masyarakat bahwasanya Islam merupakan agama sekaligus ideologi yang merangkul seluruh kaum, masyarakat muslim pun akan semakin terbuka dan mau menerima Syariah Islam secara menyeluruh. Dengan pemahaman ini pula, tidak ada lagi umat Islam yang anti terhadap ajaran agamanya sendiri.

Dengan penerapan hukum Islam, mustahil akan ada kaum yang tertindas karena Islam merupakan agama yang Allah turunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Artinya Islam bukan hanya rahmat bagi kaum muslim, melainkan rahmat bagi seluruh alam termasuk kaum di luar Islam. Hal tersebut telah dibuktikan dalam sejarah ketika Daulah Islam masih berdiri tegak, tidak ada ajaran dalam Islam yang menghalalkan penindasan dan penjajahan atas kaum lain. Pertumpahan darah tidak dilakukan atas mereka yang bersedia menerima Islam sebagai aturan bermasyarakat dan bernegara. Daulah juga tidak akan memaksa penduduknya untuk beragama Islam.

Seluruh gambaran tersebut menunjukkan bahwa Islam merupakan solusi untuk mengatasi semua permasalahan dan pertikaian yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan menerapkan Islam secara menyeluruh dan menjadikannya satu-satunya aturan kehidupan, tidak ada lagi perpecahan, penindasan, bahkan penjajahan. Karena Islam sendiri merupakan agama yang mengajarkan tentang perdamaian. Dan aturan terbaik adalah aturan yang diturunkan langsung dari Zat sebaik-baiknya pengatur, Allah subhanahu wata’ala.[MO/vp]

Posting Komentar