Oleh: Rheiva Putri R Sanusi
Alumni SMAN 1 Rancaekek

Mediaoposisi.com-Detik ini kerinduan umat terhadap Khilafah sangat membara, sudah banyak pembelaan umat dan perjuangan umat untuk islam dan Khilafah salah satunya pembelaan terhadap Panji Rasulullah ketika aksi Reuni 212. 

Namun memang sudah fitrahnya ketika perjuangan semakin gencar dilakukan dan tegaknya Khilafah semakin dekat maka penentang Islam bermunculan dan fitnah terhadap Islam dan Khilafah pun semakin sering dilayangkan oleh orang yang takut akan tegaknya Khilafah. 

Sepertihalnya Rasulullah pun merasakan berbagai ancaman, fitnah, penyiksaan bahkan ada yang ingin membunuhnya. Hal itu pun terjadi pada kita saat ini, fitnah terhadap Khilafah, Islam maupun para pejuangnya.

Salah satu contoh fitnah yang terjadi saat ini ialah bahwa Khilafah dan Islam Tidak bisa digunakan dalam negara Indonesia, karena di Indonesia terdapat banyak agama. Dimana jika Khilafah diterapkan maka agama non muslim akan di diskriminasi.

Disini perlu kita pahami terlebih dahulu perbedaan antara Pluralisme dengan Pluralitas. Pluralisme adalah pemahaman dalam mensikapi keberagaman yang melarang/pengaturan Islam tentang keberagaman, sedangkan Pluralitas adalah realitas keberagaman.  

Pluralisme ini menganggap bahwa semua agama itu semuanya benar, padahal Islamlah yang Allah sebutkan sebagai satu-satunya agama yang benar, sedangkan pluralitas adalah keragaman yag merupakan sunnatulah, maka di dalam Islam tidak akan diskriminasi tapi di atur.

Tuduhan seperti fakta diatas yang sering dilayangkan, tanpa dalil dan bukti para musuh Islam menakut-nakuti umat muslim dan non muslim akan Khilafah. 

Tuduhan bahwa Khilafah yang meniadakan keberagaman(Pluralitas) dengan alasan misalnya ketika Khilafah tegak maka semua yang berada dalam Khilafah harus masuk Islam ataupun rakyat non muslim akan didiskriminasi.

Kita lihat terlebih dahulu pengelolaan keberagaman di sistem Demokrasi mengandung bahaya penghalalan yang haram dan pengharaman yang halal. 

Misalnya perilaku LGBT, aliran-aliran sesat, pemikiran kufur dan masih banyak lagi. Jika kita biarkan keberagamn digenggaman Demokrasi maka akan membahayakan umat.

Berbeda ketika Khilafah yang mengelola, Khilafah akan mengelolanya sesuai hukum syara’ dimana akan menciptakan kebahagian diantara umat. 

Salah satu contoh Khilafah memberikan hak keberagaman adalah ketika dulu Khilafah memimpin banyak umat non muslim yang ikut bergabung dengan Khilafah dimana mereka diberi hak untuk menjalankan ibadahnya sesuai kepercayaan mereka tanpa ada paksaan masuk Islam, ketika mereka masuk Islam pun itu adalah keinginan mereka bukan paksaan. Ketika perang terjadi maka salah satu aturannya ialah dilarangnya untuk merusak rumah/tempat ibadah baik muslim ataupun non muslim.

Khilafah pun memberikan perlakuan adil terhadap warganya baik yang muslim maupun yang muslim, seperti ketika dulu baju perang Ali yang hilang dan Ali mengira bahwa seorang yahudilah yang mengambilnya namun Ali tak memiliki bukti  apapun maka seorang yahudi tersebut tak bisa  dijatuhi hukuman. Saking adilnya perlakuan Khilafah terhadap semua rakyatnya, ketika ada non muslim diluar negara Khilafah ingin menyerang Khilafah maka yang dilakuakan rakyat non muslim Khilafah adalah ikut membela Khilafah.

Disini bisa kita lihat bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dimana ketika Khilafah tegak beserta aturan Islamnnya maka Pluralitas akan diatur sesuai syara’ yang akan melahirkan keberagaman yang membahagiakan tanpa adanya diskriminasi.

Jadi jika ada yang menyebutkan bahwa hak keberagaman dalam Khilafah adalah mustahil, maka sungguh ialah orang yang tak menyukai kebahagiaan yang lahir dari pengaturan Khilafah terhadap keberagaman.

Wallahu’alam Bi Shawwab.[MO/vp]

Posting Komentar