Oleh: Naini Maratus Sholikah

Mediaoposisi.com-  Belum sembuh luka lama, kini menganga luka baru. Umat Islam harus kembali menelan pedih, perih, terkoyak, lemah dan tak berdaya. Kasus pembantaian sadis terhadap salah satu etnis kembali terjadi. Kali ini etnis Fulani menjadi korban pembantaian sekelompok orang yang diduga dari kelompok Dogon di Mali, Republik Mali, Afrika Barat.

Hingga saat ini, ada 160 korban tewas akibat serangan kelompok tersebut. Sekelompok orang menggunakan senjata untuk membunuh ratusan orang, di antaranya warga sipil, anak-anak dan ibu
hamil (merdeka.com, 27/03/2019).

Di waktu yang hampir bersamaan, Gaza kembali membara. Pesawat-pesawat tempur Israel terus
menyerang Kota Gaza pada Selasa (26/03/2019), meskipun ada laporan gencatan senjata. Militer Israel mengonfirmasi bahwa pesawat tempurnya telah melakukan 15 pemboman di Jalur Gaza.

Serangan itu diklaim untuk menanggapi roket yang diluncurkan dari Jalur Gaza pada hari Senin. Serangan menyebabkan kebakaran besar di dekat Masjid Omar bin Abdulaziz di dekatnya (kiblat.net,
26/03/2019).

Masih jelas dalam ingatan kaum muslimin seluruh dunia, serangan brutal di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre di Christchurch, Selandia Baru, Jum'at (15/03/2019) masih menyisakan luka yang mendalam. Sedikitnya 50 orang tewas dan 20 lainnya terluka akibat serangan. Begitu pun nasib muslim Uighur dan Rohingya hingga kini masih meninggalkan tanda tanya.

Ironisnya, penguasa negeri-negeri muslim diam membisu, seakan tak peduli darah yang tumpah dari
saudara sesama muslimnya itu. Bentuk negara bangsa yang melahirkan nasionalismelah yang membuat para penguasa negeri muslim seakan tidak satu tubuh dengan muslim di Mali, Gaza, Uighur dan Rohingya.

Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Urusan wilayah dan negara lain dianggap
bukan urusannya. Pada hakekatnya pembentukan negara bangsa merupakan alat penjajah untuk melemahkan umat Islam dunia agar tidak bisa bersatu.

Para kapitalis penjajah memecah belah dunia Islam menjadi negara-negara parsial, agar tak mampu bangkit untuk melawan penindasan di negeri-negeri muslim lainnya. Bagi umat Islam, negara bangsa dan sekat nasionalismenya terbukti telah membawa perpecahan di tubuh umat Islam itu sendiri.

Umat ini pecah karena masing-masing membanggakan bangsanya sendiri-sendiri. Mereka tidak mau dipimpin kecuali oleh orang sebangsanya sendiri. Mereka juga tidak merasa saudara jika bukan dengan bangsanya sendiri.

Mereka merasa memiliki nasib yang berbeda, jika memiliki kebangsaan yang berbeda dengan umat Islam yang lain. Allah SWT., berfirman:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong
bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah [9]: 71)

Rasulullah SAW., saat melakukan haji wada (terakhir) menegaskan tentang larangan nasionalisme. Sesungguhnya darah-darah kalian dan kehormatan kalian haram (untuk dilanggar) oleh kalian, kecuali dengan hak Islam.

Tiada keutamaan bagi orang Arab atas non Arab dan tidak ada keutamaan bagi orang non Arab atas orang Arab, tidak ada keutamaan bagi orang berkulit putih atas orang berkulit hitam dan tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit putih melainkan dengan taqwa. Kalian semua
berasal dari Adam.

Sedangkan Adam berasal dari tanah. Islam tidak mengizinkan nasionalisme bersemayam pada jiwa kaum muslimin. Islam tidak pernah menilai seseorang secara sempit hanya karena kebangsaannya. Rasulullah SAW. Bersabda:

Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempati
laksana satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut
merasakannya dengan berjaga dan merasakan deman." (HR.Bukhari dan Muslim).

Semua ini terjadi akibat tidak hadirnya Khilafah yang merupakan perisai bagi umat Islam. Hanya dengan sistem Islam, Khilafahlah, yang mampu menyatukan kaum muslimin atas kedzoliman dan penindasan yang dialami muslim Mali, Ghaza maupun muslim di negeri lainnya.

Dengan sistem Khilafah pula, umat Islam akan mampu bangkit melawan penjajahan dibawah satu komando kepemimpinan seorang Khalifah, yang akan menghilangkan hegemoni kufar atas kaum muslimin dan melindungi kehormatan kaum muslimah dan anak-anak di seluruh dunia.
Wallahu a'lam bishawab. [MO/ra]

Posting Komentar