Gambar: Ilustrasi
Oleh: Muthi Idris 
(Aktivis Dakwah)

Mediaoposisi.com-Dunia kembali berduka. Baru-baru ini, kembali terjadi ledakan bom bunuh diri di Sri Lanka yang menyasar gereja saat umat Katolik tengah merayakan hari Paskah. Ledakan itu menewaskan 190 orang dan melukai 500 orang lainnya.

Daily Mail melaporkan pada 21 April 2019, enam ledakan awal pada pagi hari dilaporkan menewaskan 35 warga negara asing yang berasal dari Inggris, AS, Belanda dan Portugal.

Dua ledakan susulan terjadi di selatan Kolombo, Dehiwala, yang menyebabkan dua orang tewas. Tak lama, ledakan kedelapan terjadi di Orugodawatta, yang menewaskan tiga polisi ketika memeriksa sebuah rumah.

Kepala polisi Sri Lanka telah memperingatkan 10 hari sebelum teror, bahwa kelompok ekstrimis merencanakan pemboman bunuh diri di gereja-gereja terkemuka. Tetapi, belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas serangan itu dan tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan. (tempo.co)

Islam Memandang Haram Membunuh Manusia Tanpa Hak.
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 32)

Apalagi jika yang menjadi korban pembantaian, pembunuhan, menghilangnyan nyawa adalah seorang muslim. Allah SWT berfirman:

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa [4]: 93)

Dalam Islam, nyawa urusannya besar baik itu nyawa seorang muslim ataupun non-muslim. Islam adalah agama yang adil, ada larangan membunuh non-muslim bahkan ada ancaman keras jika membunuh non-muslim sembarangan. Yang dibunuh hanyalah non-muslim yang memerangi kaum muslimin (kafir harbiy).

Semakin hari semakin menujukan bahwa tidak pernah ada jaminan hidup dalam sistem Kapitalisme Sekuler. Sejauh ini, kesakitan terus menyayat jiwa-jiwa umat Islam akibat pengeboman, pembantaian, pelecehan, dan penganiayaan pada umat Islam baik di Palestina, Suriah, Rohingya, Uzbekistan, Somalia, Mali, dan yang menggemparkan penembakan brutal oleh teroris kafir di masjid di New Zealand. Hari ini pun, sudah merembes menimpa umat Katolik dan Nasrani di Sri Lanka.

Siapapun pasti mengecam tindakan teror semacam ini namun perlu kita pahami, mengecam saja tidak akan mampu merubah dan menghentikan para pelaku untuk melakukan tindakan keji tersebut. Kita butuh sebuah kekuatan yang mampu memberantas dengan tuntas tindakan-tindakan teror. Perlu juga sebuah kekuatan besar yang mampu memberikan jaminan keamanan dan kesejahteraan dalam hidup.

Sistem Khilafah yang akan melindungi dan memuliakan setiap mahluk ciptaan Allah. Bahkan, seorang kafir pun selama ia tidak memerangi Islam nyawanya adalah tanggung jawab negara Khilafah yang adil. Mereka tetap mendapat perlindungan sebagaimana perlindungan dan penjagaan untuk umat muslim.

“Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian perlindungan (mu’ahad), maka dia tidak akan mencium wangi surga. Sungguh, wangi surga itu tercium sejauh jarak empat puluh tahun.” (HR. Bukhari 3166)

Hal itu hanya akan terwujud dalam negara Khilafah, bukan Negara Kapitalisme Demokrasi Sekuler seperti saat ini. [MO/ms]

Posting Komentar