Oleh : Silvia Mi’raj, S.Farm

(Refleksi Hari Film Nasional)

Mediaoposisi.com-30 Maret kemarin bertepatan dengan Hari Film Nasional. Salah satu hari penting ini sudah ada sejak tahun 1962. Jika kita cermati industri perfilman Indonesia, faktanya banyak sekali konten yang kurang bermutu dan tidak mendidik. Percintaan yang memabukkan, bermacam tahayul, pornoaksi pun tak luput jadi pemanis film guna mendulang viewers.

Warga Jawa Barat khususnya, Februari kemarin dihebohkan dengan keputusan Kang Emil, sapaan akrab Gubernur Jawa Barat yang merencanakan akan membuat Dilan Corner. Tepatnya di Taman Saparua, Bandung sebagai salah satu bentuk apresiasi atas kesuksesan film tersebut sehingga mengharumkan wilayah Bandung. Kita ketahui bahwa film fenomenal tersebut membawa latar Kota Priangan baik dalam film pertama maupun yang kedua.

Seperti dilansir regional.kompas.com (28 Februari 2019), beberapa alasan Kang Emil membuat Dilan Corner diantaranya sebagai bentuk apresiasi kesuksesan film tersebut, dengan visi utamanya adalah pariwisata. Sebagai pojok literasi, menumbuhkan minat baca bagi kaula muda papar Kang Emil pada peresmian peletakan batu pertama pembangunan Dilan Corner. Meski alasan ketiga ini beliau tidak katakan sejak awal rencana.

Keputusan tersebut memang menuai pro kontra dikalangan masyarakat bahkan di pemerintahan Jawa Barat sendiri. Karena dinilai tidak mempresentasikan jiwa Kota Bandung. Bahkan banyak yang menyayangkan, mengapa harus Dilan? Remaja urakan, ketua geng motor yang hobi pacaran dan menggombal. Bahkan banyak tokoh-tokoh penting Jawa Barat yang lebih pantas untuk dijadikan ‘icon’ sebuah tempat.

Menjadikan remaja penggemar maksiat sebagai ‘icon’ kota nampaknya memang agak berlebihan. Bukannya memotivasi untuk berkarya lewat seni literasi, yang ada hanya mengingatkan pada sosok romantis pemain dan akhirnya bermimpi ingin memiliki pasangan seperti Dilan. Lagipula, masih banyak sebenarnya hal yang lebih penting untuk segera dipenuhi kebutuhannya. Seperti memperbaiki sistem dan fasilitas kesehatan masyarakat, pendidikan dsb.

Jangan semata-mata karena dinilai ada pundi-pundi keuntungan dibalik penggenjotan pariwisata namun dampak lain yang merugikan generasi lantas dikesampingkan. Bahkan lebih jauh lagi bagaimana mekanisme pariwisata hari ini membuka selebar-lebarnya keran investasi, baik asing maupun domestik. Akibatnya kelak membuat suatu wilayah negeri menjadi tidak berdaulat. 

Dunia hiburan sebenarnya memang suatu hal yang menggiurkan bagi kaula muda. Banyak yang berbodong-bondong terjun ke dunia perfilman karena materi yang akan diraup cukup menjanjikan. Influencer, youtuber, instagramer tidak sedikit dari mereka yang akhirnya ditarik dan ditawari untuk menjadi pemain film. Siapa yang justru lebih diuntungkan? Mereka yang memiliki modal, para kapitalis. Mereka menjadikan media hiburan sebagai lahan mencari materi, tanpa peduli dampak dari konten maksiat yang dibawa. Bahkan sengaja dijadikan sarana untuk menebar virus sekuler dan liberal oleh penghamba kebebasan.

Dalam Demokrasi, virus kebebasan tadi justru dijamin keberlangsungannya. Terbukti sejalan dengan kebijakan-kebijakan yang ditelurkan oleh pejabat pemerintahan. Semuanya bermuara pada keuntungan duniawi semata, tidak memandang jauh kelak di akhirat yang abadi sana. Padahal bukankah setiap kita akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT? Bahkan seorang pengurus rakyat banyak lebih besar lagi tanggungannya? Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita bahwa seorang pemimpin adalah penggembala, yang akan mempertanggung jawabkan gembalaannya.

Islam merupakan sistem yang khas, memiliki aturan sempurna nan paripurna. Media merupakan sarana yang efektif untuk memudahkan orang menerima informasi. Dalam sistem Islam, segala bentuk konten yang menghantarkan pada kemaksiatan akan dihilangkan. Maka negara akan mengontrol media agar sesuai dengan keinginan Sang Pencipta tanpa melihat lagi untung rugi dari segi materi. Diisi dengan konten-konten bermanfaat yang menghantarkan pada ketakwaan. Berisi pesan-pesan menggugah, memotivasi jiwa-jiwa kaum muslimin agar berlomba dalam kebaikan, bertaqarrub kepada Allah, menebar rahmat dengan amar makruf nahi munkar. Tayangan-tayangan kepahlawanan (tentunya pahlawan kaum muslimin) guna membakar semangat menjadi mujahid, bertitel syuhada dsb.

Semuanya bermuara atas landasan Iman dan taqwa untuk meraih kesuksesan akhirat tanpa mengesampingkan urusan duniawi sebagai jembatan atau sarana mengumpulkan bekal di kehidupan abadi mendatang. Maka bagi kaum muslim sejati dunia hanya di genggaman bukan disimpan di hati. Ia akan menyerahkan hidup dan matinya untuk diatur oleh Ilahi Rabbi.[MO/vp]

Posting Komentar