Gambar: Ilustrasi
Oleh: Ummu Muzzammil

Mediaoposisi.com-Pada sesi debat calon presiden lalu, salah satu paslon mengangkat tema e-sport dan permainan Mobile Legend sebagai bagian yang perlu dikembangkan dan difasilitasi. Dilihat dari antusiasme generasi muda dan pertumbuhan ekonomi di bidang ini. Bahkan, masih menurut beliau, hobi bermain game ini bisa dijadikan profesi yang mendatangkan keuntungan materi.

"Perubahan global yang terjadi saat ini, seperti artificial intelligence (AI), internet of things, virtual reality, dan bitcoin. Ini juga sama, ini sebuah profesi yang anak muda menyenangi," ujar Jokowi dalam debat pamungkas Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Sebagaimana dilansir dalam laman liputan6.com, pemerintah akan membangun infrastruktur digital dan membuka peluang industri game di Indonesia.

Senada dengan Bapak Jokowi, menpora Imam Nahrawi menginginkan e-sport masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. (cnnindonesia.com, 28/01/19). Bahkan, sudah menyiapkan anggaran sebesar 50 miliar untuk kegiatan ini.

Di saat sedang gencar-gencarnya dukungan pemerintah terhadap industri game, justru sebaliknya WHO sebagai badan kesehatan dunia sudah jauh-jauh hari menyatakan bahwa kecanduan game termasuk salah satu gangguan mental. (kompas.com, 28-06-18).

Digital Game Biang Kerusakan
Sudah bukan rahasia lagi jika industri yang dikembangkan dalam sistem kapitalisme hanya memperhatikan materi yang didapat. Efek samping dari industri kapitalis sering tidak diperhatikan.

Seperti ketika pemerintah menyelenggarakan perlombaan game Mobile Legend. Sangat disayangkan jika tujuannya untuk mengeksplor keahlian generasi muda dalam bidang digital. Padahal, masih banyak cara untuk mengeksplor generasi muda dalam bidang digital tanpa melalui game. Karena faktanya, game ini menimbulkan efek addict.

Jika dilihat, jauh lebih banyak efek negatif dari kecanduan game digital. Selain seperti pernyataan WHO yang memasukkan kecanduan game termasuk salah satu gangguan mental. Hadirnya game membuat seseorang lupa waktu, asyik dengan aktivitasnya, menjadi enggan bergaul karena sudah memiliki teman di dunia maya, dan malas beraktifitas lainnya. Dan game-game dengan genre kekerasan bisa saja mematikan hati seseorang.

Bayangkan, jika setiap hari disuguhkan adegan game saling tembak, terbiasa melihat orang ditembak dan darah berceceran, tentunya ini akan mengikis perlahan rasa kemanusiaan. Menghilangkan empati. Dan, bisa saja menginspirasi untuk berbuat kejahatan. Belum lagi, dengan disisipkan konten-konten porno pada beberapa game. Dan kenyataanya, game-game ini memang banyak menginspirasi generasi muda dalam melakukan tindak kekerasan dan bullying terhadap temannya.

Masih jelas dalam ingatan penulis, ketika mengajar di suatu sekolah SMK kelas XI. Dimana, sekolah tersebut membolehkan siswanya membawa gadget untuk keperluan tes yang diujikan secara online. Nyatanya, mereka masih mencuri-curi waktu saat pelajaran hanya untuk bermain game. Mereka juga mengakui sekolah yang terkadang membosankan bisa terobati dengan bermain game. Begitu nyata mereka teracuni oleh suguhan industri game.

Penuturan orang tuanya jauh lebih miris. Sejak putranya diberi gadget perilakunya mulai berubah. Putranya hampir tidak bisa lepas dari gadget-nya. Pulang sekolah, hanya di dalam kamar, sibuk dengan gadget. Sholatnya acak-acakan. Interaksi dengan orang tua pun semakin sedikit. Gadget maupun game nyatanya menjauhkan yang dekat atau bahkan mendekatkan yang jauh.

Generasi Muda Penerus Perjuangan
Bagaimana umat Islam bisa bangkit jika generasi mudanya terlena dengan hal yang sia-sia? Ingatlah sabda Rasulullah,

كُلُّ مَا يَلْهُو بِهِ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ بَاطِلٌ إِلاَّ رَمْيَهُ بِقَوْسِهِ وَتَأْدِيبَهُ فَرَسَهُ وَمُلَاعَبَتَهُ أَهْلَهُ فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

“Setiap permainan laghwun yang dilakukan seorang muslim adalah bathil, kecuali ketika dia 
melemparkan panah dengan busurnya, ketika ia melatih kudanya, dan bercanda dengan istrinya. Ketiga hal ini adalah al-haq.” (HR Tirmidzi, beliau berkata, “hadits hasan shahih.”)

Memberikan gadget saat anak belum bisa memanfaatkan teknologi dengan benar tak ubahnya memberikan pisau kepada mereka. Yang bisa melukai mereka karena ketidakmampuannya dalam melakukan hal-hal yang manfaat.

Gadget termasuk dalam kategori harta, maka Islam pun menekankan siapa-siapa yang sudah pantas dipasrahi harta.

Generasi muda sebagai penerus perjuangan, harus segera diselamatkan dari berbagai gempuran yang melenakan yang menjauhkan identitas dirinya dari identitas seorang muslim. Ghirah keislaman harus dimunculkan agar tidak menjadi generasi tanpa akar yang mudah terombang-ambing dalam sistem kapitalisme saat ini. Karena di tangan mereka, perjuangan akan dilanjutkan. Hanya dengan Islam-lah generasi ini bisa berjaya. Seperti saat Islam masih diterapkan secara kaffah dalam segala aspek kehidupan. [MO/ms]

Posting Komentar