Rizkya Amaroddini
(Jurnalis Media Oposisi)

Mediaoposisi.com-  Bentrok terjadi antara simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) PDIP dan kelompok massa di area markas Front Pembela Islam (FPI) yang berada di Jalan Yogya-Wates km 8 Padukuhan Ngaran Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta, Minggu (7/4).

"Kalau di media sosial itu banyak yang nulis penyerangan-penyerangan. Enggak ada penyerangan, hanya aksi saling lempar dua kelompok kecil saja," ujar Yulianto saat dihubungi, Senin (8/4).

Yulianto menegaskan untuk pengamanan kampanye TKD Jokowi-Ma'ruf, Polda DIY telah menerjunkan personel termasuk di titik-titik sepanjang jalur yang dilewati. Pengamanan itu dilakukan dalam rangka Operasi Mantap Brata yang digelar sepanjang proses Pemilu 2019.

"Termasuk di titik (markas FPI) itu juga. Tapi, anggota tidak banyak. Ketika peristiwa terjadi, anggota lain yang ada di sekitar segera merapat membantu pengamanan," sambungnya.

Fakta di atas belum menggambarkan kejadian keseluruhan bagaimana kampanye terbuka pada Ahad (7/4). Segerombolan para geng motor bertindak tidak sesuai aturan dan norma. Sungguh kampanye terbuka bukan menjadikan masyarakat tenang melainkan menjadi resah.

Di beberapa titik di Yogyakarta seperti di Bantul dan ringroad, massa kampanye terbuka sangat menganggu berlangsungnya aktivitas masyarakat, jalanan di penuhi massa dengan berbagai atribut yang di bawa.

Tidak hanya itu saja, massa pun tidak taat akan aturan dan norma masyarakat seperti melanggar rambu lalu lintas.

Pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada para penguasa adalah : "Apa hasil kampanye yang menjadikan massa dengan  mayoritas pemuda bisa memajukan Bangsa ini ?"

Faktanya sangat memprihatinkan !! Pemuda yang seharusnya menjadi insan yang cerdas dan kritis mulai di giring menjadi pemuda yang apatis dan hanya meresahkan masyarakat.

Coba kita telisik sepanjang perjalanan banyak anak-anak kecil yang melihat massa kampanye tersebut. Apa gambaran yang ada pada anak-anak dengan kondisi lingkungan seperti itu ?

Kalau anda masih sehat pasti anda akan memikirkan nasib Bangsa ini kedepan, bukan berfikir jangka pendek untuk meraup suara rakyat saja tapi mengorbankan Bangsa ini.

Ya kita ketahui memang di beberapa titik ada personil, tapi mereka hanya memantau. Bahkan pelanggaran lalu lintas pun di biarkan dan pelanggaran terhadap norma-norma yang ada.
Apakah ini harapan kita ? Indonesia perlahan hancur.

Siapa pelakunya ? Instansi penguasa, keamanan, masyarakat, dan para pemuda yang di jadikan apatis.
Pilpres 2019 hanya meresahkan, mengapa ? Terbukti Indonesia makin hancur mempertahankan sistem saat ini.

Tidak perlu banyak bicara, pembaca dan orang-orang kritis bisa menelaah kejadian ini.
Sadarlah untuk menjadi lebih baik bukan menjadi lebih buruk !! [MO/ra]

Posting Komentar