Oleh Salma Banin, 
Kontributor Pena Langit

(Bagian 1)

Mediaoposisi.com-Umat muslim hari ini banyak yang terlupa bahwa Islam merupakan sebuah mabda’ (ideologi) yang didalamnya mencakup konsep (fikrah) yang sempurna dan menyeluruh lengkap dengan metode penerapan konsep (thariqah) yang khas, berbeda dengan sistem apapun yang ada di dunia ini, baik zaman old maupun zaman now.

Fikrah yang dimaksud adalah juga terkait penjelasan terhadap apa saja yang sudah, sedang dan akan terjadi pada kehidupan manusia dan bagaimana seharusnya kita menyikapi dan menyelesaikan problem yang ada. Sedang thariqah singkatnya adalah jalan untuk merealisasikan problem solver tersebut. Perpaduan keduanya menjadikan Islam dikenal sebagai rahmat yang telah mampu menaungi dua pertiga dunia selama 13 abad dalam bingkai Kekhilafahan.

Mustahil bagi sejarawan dunia mampu menutup-nutupi hal ini, meski hingga saat ini dihindarkan dari umat untuk membahasnya di sekolah-sekolah. Bahkan monsterisasinya masih digencarkan hingga saat ini. Narasi-narasi yang mendiskreditkan salah satu ajaran Islam ini masih bertaburan dikalangan intelektual, meski tidak sedikit juga yang mulai memahami esensi dan bersedia mengcounter opini pencitraan buruk khilafah dengan beragam cara.

Mengutip dari buku The Story of Civilization yang terbit pada tahun 1933 karya suami-istri Will dan Ariel Durrant berisi sepuluh volume yang ditulis selama 40tahunan. Dalam salah satu bagiannya berkomentar pula tentang Kepengurusan para Khalifah yang pernah dirasakan masyarakat dunia. Disana tertulis "Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka".

Itu hanya segelintir potongan sejarah gemilang yang pernah ditorehkan peradaban Islam saat mengatur dunia dengan syariah. Tentu fakta ini bukanlah dasar hukum pentingnya menegakkan Khilafah yang telah runtuh sejak tahun 1924 silam. Sebab jika berpaku pada kejadian sejarah, ada juga khalifah yang menyimpang dalam kepemimpinan hingga memberikan ujian luar biasa pada rakyatnya. Maka adanya sejarah tidak lain hanya untuk menunjukkan bahwa pada masa itu, syariah pernah diterapkan secara kaaffah/keseluruhan.

Khazanah Islam menempatkan khilafah dalam bab kepemimpinan politik atau kekuasaan. Agama ini menurut Imam Ghazali tidak akan mungkin tegak tanpa kekuasaan. Sebab keduanya bagai saudara kembar. Islam tanpa kekuasaan akan ditinggalkan, kecuali sebagian kecil saja syariat yang mengatur ibadah ritual layaknya agama selainnya. Ini merupakan bentuk pengkerdilan yang jauh dari tuntunan Rasul.

Rasulullah SAW setelah mendapat kekuasaan dari pemimpin suku besar di Madinah, tak pernah menunda untuk langsung menerapkan ayat-ayat yang berkenaan tentang kepengurusan umat, apapun situasinya. Salah satunya yang paling membuat kagum adalah bagaimana Daulah Islam menyelesaikan bencana yang melanda tanah mereka.

Fikrah Islam mengajarkan, bahwa qadha dan qadar adalah ketetapan Allah yang berada diluar lingkaran area yang dikuasai manusia. Sedangkan bencana adalah bagian daripada itu, meski di sisi lain patut juga disikapi sebagai ajang muhasabah (evaluasi) baik bagi individu, masyarakat maupun negara. Pemahaman ini akan mampu membangun paradigma bahwa ketika bencana terjadi, perhatian utama negara adalah keselamatan rakyatnya terlebih dahulu. Sebab baik penguasa maupun warga keduanya tidak ada yang mengetahui kapan itu akan menimpa. Maka kebijakan penanganan bencana akan menjadi prioritas utama, dana yang digelontorkan pun tidak terbatas dengan anggaran tertulis diawal tahun  pemerintahan, melainkan akan di subsidi sesuai kebutuhan.

Jika khalifah mengabaikan hal ini, rakyat bersiap akan menuntutnya dengan dalil dari Al Hadist riwayat Bukhari , “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya.” Semata-mata atas landasan dakwah pada penguasa.

Berkaca pada kejadian banjir di Papua baru-baru ini. Belum surut air dijalanan, warga sudah mendapat kabar menyakitkan dengan terkuaknya anggaran berlebihan untuk sekadar acara apel kebangsaan yang disinyalir sebagai ajang kampanye mempertahankan kekuasaan. Menjadi heboh sebab perbandingannya fantastis. Bantuan pemerintah bagi korban banjir hanya sebanyak 1 Miliar, sedangkan kampanye tidak langsung yang dimeriahkan konser musik tersebut menghabiskan dana 18 Miliar. Naudzubillah min dzalik.

Hal ini tidak bisa diwajarkan, bagaimana bisa pemimpin foya-foya sedang rakyatnya menderita?

Lanjut Baca : Bencana Dalam Khilafah Bagian2

Posting Komentar