Oleh Salma Banin, 
Kontributor Pena Langit

(Bagian 3)

Mediaoposisi.com-Tidak hanya menaruh perhatian mendalam terhadap teknis pengelolaan berdasar sains dan teknologi yang efisien, syariah Islam yang diterapkan oleh Khilafah juga mengintegrasikan penanganan bencana dengan sistem lain, semisal persanksian. Jika suatu daerah terdampak musibah, Khalifah berhak mengambil kebijakan untuk memberhentikan sementara hukum had bagi pencuri dan menunda pemungutan zakat rakyat yang sedang dirundung bencana alam.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Beliau sebagai kepala negara, mengayomi rakyatnya sampai ke tingkat yang belum pernah ditiru pemimpin manapun hari ini. Kedalaman berfikir ini didasarkan kecintaan pada rakyatnya yang faktanya tidak termasuk dalam pengabaian hukum syariah, sebab keputusan politik yang diambil berdasar ijtihad lebih menjelaskan terkait syarat-syarat pemberlakuan hukum (terhadap pencurian) yang tidak dipenuhi di masa-masa ini.

Kondisi sulitnya mengakses kebutuhan pokok saat bencana dapat membuka peluang manusia berbuat nekat. Bukan karna keinginan, namun pemenuhan kebutuhan jasmani memang sifatnya tidak bisa ditunda kecuali akan menimbulkan penyakit hingga kematian. Tindakan Umar yang tidak memotong tangan seorang pencuri yang mengambil unta kemudian disembelih sebab merasa kelaparan diamine oleh para shahabat yang hidup dimasa tersebut. Sehingga ini menjadi salah satu sandaran hukum syariah berupa Ijma’ Shahabat bagi pencuri saat ia mencuri hanya untuk sekadar menyambung nyawa.

Lebih jauh, Khalifah Umar justru meminta pemimpin kabilah si pencuri, (diketahui bernama Halib, berdasar kitab Al Khilafah wa Al Khulafa Ar Rasyidin, karya Salim Al Bahnisawi) untuk membayarkan harga unta tersebut seraya berkata “Tidaklah tangan dipotong karena kurma dan tidak pula pada masa paceklik (krisis/bencana)” (Mushannaf Abdurrazak, 10/242, Al Misbah Al Munir).
Tentu kebaikan ini muncul sebab dua, ketaqwaan Khalifah pemimpin yang senantiasa menjaga dirinya dari perbuatan nista dan penjagaan negara atas pelaksanaan syariah Islam saja, bukan yang lain.

Maka tidak hanya Allah yang ridho atas kepemimpinan beliau, juga rakyatnya tidak sungkan memberikan cinta dan kepercayaan, sebagaimana digambarkan oleh firman Allah SWT.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-A’raf: 96)
Penduduk negeri yang dimaksud tentu bukan hanya warganya saja, namun beserta pemimpin dan sistem kepemimpinannya.

Maka jika kita benar-benar ingin menjauhkan segala marabencana yang menimpa negeri kita, satu-satunya cara adalah mentaqwakan diri dan semesta agar kembali pada tujuan penciptaanya, yakni tunduk pada segala yang dititahkan oleh Rabbnya.

Namun kasus pengambilan barang yang bukan menjadi haknya ini dibatasi hanya pada benda-benda yang bisa mengatasi kelaparan saja. Adapun untuk kejadian pada gempa di Palu dan sekitarnya yang sampai menjarah barang-barang berharga, seperti televisi, perhiasan, ban motor/mobil dsb. tidak termasuk dalam pengkhususan yang dimaksud Umar bin Khattab diatas. Sebab contoh tersebut bukanlah komoditas yang bisa dikonsumsi dan secara langsung menghilangkan rasa lapar pada pencurinya.

Atas pertimbangan ini, jika pencurian itu melampaui Nishabnya, maka hukum had akan diberlakukan tanpa pandang bulu karena sudah keluar dari pengkhususan yang telah dipaparkan sebelumnya. Keadilan mesti ditegakkan sesuai dengan pandangan Islam saja, bukan yang lain. Begitu juga dengan pemungutan zakat, Khalifah Umar sempat menundanya untuk kemudian ditarik kembali ketika ekonomi sudah membaik, yakni saat kelaparan berakhir, aktivitas pasar kembali berjalan dan bumi mulai menghasilkan.

Dalam Asy Syaikhan min riwayat Al Baladzari disampaikan, “Umar bin Al Khattab menunda zakat pada masa krisis/bencana dan tidak mengirim para petugas penarik zakat. Pada tahun berikutnya, Allah mengentaskan paceklik, kemudian Umar memerintahkan mereka agar mengeluarkan zakat dan para amil menarik zakat dua tahun. Kemudian mereka diperintahkan untuk membagikan zakat satu tahun dan sedekah satu tahunnya diberikan pada Umar” (diriwayatkan dari Yahya bin Abdurrahman).

Dari kebijakan ini, setidaknya ada dua nilai yang ingin ditegakkan oleh Khalifah, yakni penundaan zakat yang dianggap sebagai hutang bagi orang-orang yang mampu supaya bisa menutupi kekurangan dan kelemahan bagi rakyat yang membutuhkan, serta untuk memulihkan kas Baitul Mal sehingga ada dana yang bisa disalurkan kembali. Betapa kesempurnaan tidak mampu kita temukan selain dari Islam.

Tuntunan yang komprehensif ini kita yakini akan berdampak pada minimnya masalah keumatan, tidak seperti sekarang dimana solusi yang ditawarkan justru menambah masalah dibagian yang lainnya.

Lanjut Baca : https://www.mediaoposisi.com/2019/04/oleh-salma-banin-kontributorpena-langit.html

Posting Komentar