Oleh Henyk Nur Widaryanti 
(Dosen Swasta) 

Mediaoposisi.com-Bagi para Emak,  asalkan dapur tetap mengepul tidak menjadi masalah. Namun Emak akan bimbang jika harga barang kebutuhan dapur tak pernah turun, bahkan kian melambung. Sebagaimana yang dilansir regional.kompas.com (09/04/19) bahwa harga kebutuhan pokok di pasar Pangkal Pinang mulai merangkak naik. 

Bawang merah mencapai 48.000/kg dari sebelumnya 28.000/kg. Kenaikan secara signifikan terjadi di daerah non - sentra produksi. Seperti Papua, Maluku Utara, Papua Barat termasuk Babel. Sedangkan di sentra produksi di Jawa Tengah dan Jawa Timur berkisar 29.000 - 31.000/kg (kompas.com, 09/04/19). Pasalnya, kenaikan bawang biasanya akan memicu kenaikan sebagian besar bahan pokok lainnya. Seperti bawang putih, lombok, bawang bombay dll.

Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan Agung Hendriadi seusai acara ‘Pelepasan Operasi Pasar di Toko Tani Indonesia Centre (TTIC) Jakarta, Jumat (12/4), mahalnya bawang merah diperkirakan karena petani bawang karena cuaca dan rantai distribusi (republika.co.id, 12/04/19). Ditambah lagi, ritual meningkatnya permintaan konsumen menjelang lebaran menambah bawang menjadi langka. Jika hal ini terus terjadi, bisa dipastikan dapur para Emak akan sulit mengepul.

Mahalnya biaya distribusi

Kelangkaan bawang merah akibat cuaca yang tidak mendukung memang tak bisa dielak. Perubahan cuaca yang signifikan sudah tidak bisa diprediksi. Namun, bukan berarti hal ini menjadi penyebab utama tingginya harga jual dibeberapa daerah.

Panjangnya rantai distribusi sebenarnya bisa mengakibatkan harga bawang menjadi naik. Bagaimana tidak? Proses distribusi tidak bisa langsung dari produsen ke pedagang pasar. Perlu melewati beberapa distributor dahulu. Setiap agen tentunya akan mengambil keuntungan. Ditambah lagi mereka mengeluarkan biaya transportasi. 

Sebagaimana kita ketahui, biaya transportasi tidaklah murah. Apalagi jika harus melewati jalan tol, pelabuhan, atau bahkan lewat udara. Sehingga, panjangnya rantai distributor mengakibatkan harga bawang dari satu tempat ke tempat lain tidak sama.

Belum lagi jika ada distributor atau pedagang yang nakal. Dengan dalih mencari keuntungan besar, menimbun stok di gudang. Barang itu baru dikeluarkan jika harga bawang melonjak tajam.

Cara Islam menangani kelangkaan

Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna. Memiliki sistem aturan yang kompleks. Dan mampu memberikan solusi yang solutif. Demikian pula dalam menyelesaikan masalah kelangkaan. Islam memiliki tata cara penyelesaiannya.

Produsen dalam hal ini petani bawang mengalami kendala karena cuaca buruk. Beberapa tempat terjadi banjir. Musibah ini adalah ketetapan Allah. Sebagai manusia, kita hanya bisa menerima dan bersabar. Seorang mukmin tidak akan serta merta menyalahkan banjir. Namun menganggap kondisi ini adalah cobaan dan peringatan.

Dilain kesempatan, para ahli pertanian sebaiknya membantu petani agar hasil panennya berlimpah. Sehingga harga bawang bisa terkontrol. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi. Para ahli pertanian diharapkan bisa menemukan persilangan antar bawang yang melahirkan jenis bawang unggul. 

Sehingga tidak kalah kualitasnya dengan impor. Bahkan memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit. Selain itu dengan menggunakan media tanam non -  tanah, bisa meminimalisir pengolahan tanah, lebih terjaga dari curah hujan yang banyak. Karena kelembapan dan kadar air dapat dikontrol. Semua ini memerlukan peran seluruh lini bidang. Dan dukungan pemerintah.

Distributor bertugas mendistribusikan barang, dalam hal ini adalah bawang merah. Untuk meminimalisir biaya pemerintah bisa memotong mata rantai agen agar tidak terlalu panjang. Selain itu para petugas pemerintah bisa melakukan sidak gudang. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agen yang berbuat curang. 

Menyimpan barang untuk dijual beberapa waktu kemudian agar mendapat keuntungan besar. Tidak cukup sampai di situ, hukuman yang tegas perlu diberikan kepada para penimbun. Agar mereka jera dan tidak mengulangi lagi.

Tindakan ini dilakukan hingga pada pedagang akhir. Biasanya pedagang pasar. Bahkan perlu inspeksi mendadak untuk melihat kondisi lapangan. Apakah ada pedagang yang nakal dengan mencampur bawang kualitas baik dengan buruk. Sebagaimana dahulu Umar bin Khatthab menugaskan "qodi"  pasar untuk mengontrol kondisi pasar dan memberikan hukuman bagi pelanggar.

Pengendalian harga butuh peran negara

Tidak bisa dipungkiri, setiap tata kelola pengendalian harga barang butuh tangan dingin negara. Negara bertugas mengontrol dan memastikan seluruh kebutuhan rakyat tercukupi. Bahkan memastikan hingga setiap dapur bisa mengepul.

Aturan yang jelas dan tegas perlu dibuat. Negara harus bersifat independen. Tidak bisa dipengaruhi oleh segelintir orang. Karena tugas negara adalah memenuhi kebutuhan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw

 ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.’(HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim)

Pemimpin disini dikamsudkan pada kepala negara. Maka sudah menjadi kewajiban pemimpin senantiasa melayani kebutuhan umatnya.

Tata kelola pengurusan harga pasar secara Islam tidak akan terwujud jika pemimpinnya tidak menjalankan hukum Islam. Sehingga cara terbaik menanggulangi masalah ini hanya bisa dilakukan oleh negara yang menerapkan aturan Islam. Di sinilah kebutuhan kita akan Khilafah. Berperan sebagai negara pelayan umat. Wallaahua’lam bisawab.[MO/vp]

Posting Komentar